“Spiritualitas” Pentingkah bagi Pasien Gangguan Bipolar?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Euro Weekly News

Gangguan Bipolar dikenal juga sebagai penyakit manik-depresi, adalah suatu gangguan otak yang menyebabkan perubahan pada mood, enerji, tingkat aktivitas dan kemampuan melaksanakan aktivitas sehari-hari. Terjadi perubahan mood yang ekstrem dari kutub mania (kondisi gembira yang ektrem) ke kutub depresi (kondisi sedih yang ekstrem). Prevalensi global dari gangguan bipolar sebesar 2.4%. Di Surabaya, proporsi seumur hidup Gangguan Bipolar (dinilai dengan kuesioner gangguan mood) sebesar 6.2%, bila termasuk populasi berisiko seperti pekerja seksual, pengguna Napza dan individu tahanan maka proporsi sebesar 10.7%. Tidak ada perbedaan jender dan latar belakang pendidikan. Proporsi pada kelompok usia remaja, dewasa dan lansia berturut-turut sebesar 4.3%, 1.8%, 0.1%. Sebanyak 22% menyadari bahwa mempunyai masalah psikologis ini namun sayangnya hanya 5.9% yang telah berkonsultasi pada profesional medis.

Gangguan Bipolar bersifat kronik dan memengaruhi kualitas hidup dari pasien. Penanganan Gangguan Bipolar sangat kompleks mengingat gambaran penyakitnya dapat berubah sepanjang waktu. Harapan hidup pasien Gangguan Bipolar menurun hingga lebih 10 tahun, meningkatkan risiko bunuh diri hingga 30 kali dan mengalami beban ekonomi yang besar. Sering mengalami perselisihan keluarga, masalah peradilan dan penggunaan Napza yang tinggi. 

Proses penanganan pada pasien Bipolar dipengaruhi banyak faktor, salah satunya adalah penerimaan terhadap penyakitnya. Kemampuan menerima penyakit ini berkaitan dengan tingkat spiritualitas. Sejauh pengetahuan kami, belum pernah ada penelitian tentang kondisi spiritual pasien gangguan bipolar di Indonesia, sehingga penelitian ini ingin mengetahui bagaimana gambaran penerimaan penyakit dan spiritualitas pasien Gangguan Bipolar? 

Melihat dampak Gangguan Bipolar dapat menyebabkan kerugian yang luas, sementara yang menyadari dan yang berkonsultasi kepada profesional medis hanya sebagian kecil, maka pasien gangguan bipolar memerlukan perhatian luas, khusus dan manajemennya perlu mendapat perhatian. Masalah pada proses manajemen pasien gangguan bipolar adalah ketidakpatuhan terapi, komorbiditas medis maupun psikis, pikiran bunuh diri. Kemampuan pasien untuk melaksanakan prosedur medis tergantung pada pemahaman dan penerimaan penyakitnya, dukungan psikososial, juga penerimaan prosedur terapi. Kurangnya penerimaan pasien terhadap penyakitnya dapat menyebabkan rendahnya kepatuhan pengobatan dan penundaan terapi. Penerimaan terhadap penyakitnya mempunyai dampak langsung pada kepatuhan, diagnosis dan proses penanganan.

Proses penerimaan terhadap penyakitnya memerlukan adaptasi baru. Secara umum, adaptasi terhadap penyakit kronis dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti dukungan sosial dan kondisi kehidupan dan faktor internal seperti kondisi personal, mekanisme defensif dan strategi coping. Kondisi personal termasuk spiritualitas, optimisme dan perilaku asertif. Spiritual yang baik dapat meningkatkan kekuatan emosi pasien, kesadaran diri dan penerimaan dunia. Ini akan meningkatkan kemampuan mengatasi masalah dan ketidakpastian.

Spiritualitas juga mendukung strategi coping yang positif, relasi sosial dan keterikatan sosial dan pengontrolan diri. Spiritualitas juga berhubungan dengan emosi positif dan berasosiasi dengan penurunan stres psikologis seperti ansietas, depresi, penggunaan zat terlarang serta gangguan makan. Sehingga spiritualitas dapat menjadi faktor protektif bagi para penderita khususnya pasien gangguan bipolar.

Spiritualitas didefinisikan sebagai kualitas manusia yang mendasar dan sifat yang permanen dari seluruh manusia yang terlibat keyakinan pada kekuatan yang Maha sesuai agama masing-masing, dan secara positif memantapkan kehidupan. Kondisi spiritualitas merupakan bentuk dukungan yang penting terutama saat menderita penyakit. Spiritualitas dan kesehatan mental, keduanya berhubungan secara fundamental dan eksistensial. 

Spiritual secara umum dicirikan sebagai berkehidupan yang harmoni dalam relasi dengan diri sendiri (Self/personal), dengan orang lain dalam kelompok (communal), dengan lingkungan (nature and environment) dan dengan Allah (transcendental other). Spiritual personal berkaitan dengan kesadaran diri (self-awareness) dan identitas diri (self-identity), spiritual komunal melibatkan relasi interpersonal dan lingkungan dan berkaitan dengan saling kasih, saling menghargai dan saling percaya. Karenanya aspek Spiritualitas dapat ditinjau dari 2 sisi, tingkat spiritual vertikal yang disebut Religious well-being dan spiritualitas horizontal disebut Existential Well-being. Spiritual vertikal adalah perhatian kita pada relasi dengan Allah dalam pemahaman dan penghayatannya, sedangkan spiritual horizontal adalah kualitas relasi interpersonal dan penyelarasan dengan lingkungan dan penciptaan dalam arti dan tujuan kehidupan di dunia.        

Pasien Gangguan Bipolar selain memerlukan kokndisi spiritual juga membutuhkan dukungan dalam berproses menuju kepulihannya. Komunitas “Harmony in diversity” (berharmoni dalam keragaman) dibentuk oleh Seksi Gangguan Bipolar dan Gangguan Mood lainnya dari PDSKJI (Perhimpunan dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia) adalah suatu wadah untuk para penderita gangguan bipolar dan caregivernya berelasi untuk saling mendukung agar tercapai proses pengobatan dan akhirnya kepulihan yang optimal. Komunitas ini dibimbing oleh para psikiater dari RSUD Dr. Soetomo-FK Unair, Surabaya juga dari Perhimpunan PDSKJI cabang Surabaya.

Penelitian yang dilakukan pada komunitas “Harmony in diversity” untuk melihat tingkat spiritualitas pasien Gangguan Bipolar membuktikan terdapat korelasi antara penerimaan terhadap penyakit dengan tingkat spiritual secara umum, dan secara khusus korelasi dengan aspek vertikal dari spiritual juga korelasi dengan aspek horizontal dari spiritualitas.  Sebanyak 70% dari pasien gangguan bipolar mempunya tingkat spiritual sedang dan sebanyak 56.7% mempunyai aspek spiritual vertikal dan 53.3% aspek spiritual horizontal. Terdapat 60% pasien mempunyai tingkat penerimaan terhadap penyakitnya rendah. Makin tinggi tingkat spiritual pasien gangguan bipolar, maka makin menerima terhadap penyakitnya. Didapatkan sedikit lebih bermakna aspek spiritual horizontal dibandingkan aspek spiritual vertikal.

Gangguan Bipolar, perlukah terapi Spiritualitas?

Einstein memajukan suatu teori yang sampai sekarang belum satu pun ilmuan dapat menandingi. Ia memajukan teori relativitas. Fisik dan non-fisik adalah ekivalen. Teori yang kemudian menjadi dasar utama penemuan utas ganda rantai Deoxyribonucleic Acid (DNA). Ia merupakan rantai rangkaian basa protein yang menjadi cetak biru makhluk hidup.  Penemuan DNA menjadi tonggak melesatnya perkembangan biologi molekuler. Penemuan DNA mampu mengembangkan berbagai macam rekayasa genetik sampai kepada kloning. “Menjadikan” makhluk baru sama persis dengan aslinya. 

Inti penemuan Einstein adalah pembatalan terhadap kemaknaan mutlak fisik dan energi sesuai dengan paham Newton. Ke-ekivalen-an fisik dan non-fisik mengantar manusia untuk segera sadar bahwa dirinya terdiri dari sepasang entitas yang saling berpadu. Pemahaman ini penting antara lain dalam melakukan tindakan terapi. Terapi pada gangguan apa pun termasuk gangguan bipolar. Gangguan ini selain memerlukan terapi fisik juga non-fisik. Salah satu terapi non-fisik yang dimaksud adalah terapi spiritualitas. Konsep terapi spiritualitas secara esensi adalah memindah area spirit-non-fisik negatif menjadi positif. Masih perlu dilakukan penelitian berbasis bukti pada praktek pelayanan dengan konsep terapi spiritual. 

Sejauh pengetahuan kami, ini adalah studi pertama untuk melihat hubungan antara tingkat spiritualitas dan penerimaan pasien gangguan bipolar terhadap penyakitnya. Indonesia sebagai negara demokrasi yang mendasarkan sendi-sendi kehidupan pada Ke-Tuhanan Yang Maha Esa, masyarakatnya sangat agamis dan menjunjung nilai-nilai spiritual, sehingga aspek spiritual dapat menjadi hal penting dan fokus terapi dan pendekatan terapi spiritual sebagai kekuatan yang berpotensi untuk meningkatkan penerimaan (acceptance) terhadap penyakit secara umum dan khususnya pasien gangguan bipolar, sehingga dapat mengoptimalkan proses terapi hingga dapat mencapai pulih serta kualitas hidup yang lebih optimal.

Penulis: Dr. Margarita M. Maramis, dr. SpKJ(K), FISCM dan Prof. Dr. Abdurachman dr., M.Kes., PA(K)

Informasi dari survei dapat dibaca pada:

https://journal.fkm.ui.ac.id/kesmas/article/view/3432

Olga Putri Atsira, Erikavitri Yuliati, Atika, Abdurachman, Margarita M. Maramis. Relationship between Spirituality and Acceptance of Illness Level in Bipolar Patients. Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public HealthJournal).2020; 15 (3): 142-146.

DOI: 10.21109/kesmas.v15i3.3432

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu