Penggunaan Terapi Metotreksat dalam Penatalaksanaan Eritema Nodosum Lepormatosum

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Alodokter

Reaksi kusta adalah episode akut dari peradangan klinis yang terjadi selama perjalanan penyakit kronis. Reaksi kusta menimbulkan masalah yang menantang karena dapat meningkatkan morbiditas akibat kerusakan saraf bahkan setelah pengobatan selesai. Reaksi kusta diklasifikasikan sebagai reaksi tipe I (reaksi pembalikan; reverse reaction (RR)) atau tipe II (eritema nodosum leprosum; ENL).

Resistensi obat adalah penurunan efektifitas obat seperti antimikroba atau antineoplastik dalam menyembuhkan suatu penyakit, banyak peneliti mulai meneliti penanganan terbaru untuk penyakit kusta dan beberapa studi menunjukan bahwa pengobatan menggunakan dosis rendah metotreksat dapat digunakan dalam penatalaksaan penyakit kusta. Studi menunjukkan bahwa pengobatan metotreksat dosis rendah memiliki efek dalam meningkatkan level adenosin dan mengurangi sitokin proinflamasi sekaligus meningkatkan tingkat sitokin anti-inflamasi, semua efek ini dinilai dapat berkontribusi pada manfaat metotreksat dalam pengobatan reaksi kusta, namun penelitian tambahan mengenai hal tersebut masih diperlukan.

Pengobatan dengan MTX dapat menjadi pilihan yang baik tidak hanya dalam kasus reaksi kusta yang sulit diobati namun juga pada tahap awal reaksi kusta sebagai agen hemat steroid atau pada populasi khusus seperti penderita diabetes di mana penggunaan kortikosteroid akan dpaat menimbulkan efek samping yang lebih serius. Uji klinis untuk mengeksplorasi peran metotreksat dalam pengobatan reaksi kusta seperti uji klinis double-blind, acak, terkontrol yang mengeksplorasi kemanjuran metotreksat (dengan prednisolon) dalam mengelola ENL sedang hingga berat serta uji klinis mengenai apakah MTX dapat digunakan sendiri atau bersama dengan obat imunomodulasi lain serta karakteristik pasien seperti apa yang paling cocok dengan penggunaan agen ini pada reaksi kusta masih diperlukan.

Sebuah penelitian multicentre double-blind randomized control trial (RCT) yang pertama akan dilakukan pada tahun 2020 dengan menggunakan 2 jenis terapi yaitu MTX dan prednisolon dalam pengobatan ENL pada beberapa rumah sakit di beberapa negara diantaranya Bangladesh, Brazil, Ethiopia, India, Indonesia, dan Nepal. Subjek penelitian adalah pasien kusta dengan ENL berusia 18 hingga 60 tahun dengan setidaknya memiliki 10 lesi ENL, namun pasien dengan lesi ENL lebih dari 4 tahun, ibu hamil dan menyusui serta pasien yang memiliki kontraindikasi terhadap MTX tidak diikutsertakan dalam penelitian ini. Subjek penelitian akan diamati selama 60 minggu, seluruh pasien di kelompok intervensi akan mendapatkan 10 mg dosis inisial MTX dan secara bertahap akan dinaikkan menjadi 15 mg pada minggu berikutnya.

Pasien dengan berat badan kurang dari 60 kg akan tetap mendapat dosis MTX 15 mg setiap minggu, sedangkan pasien dengan berat badan lebih dari 60 kg akan mendapat dosis MTX yang dinaikkan menjadi 20 mg mulai dari minggu ke 8. Pada mingu ke 48 MTX akan dikurangi menjadi 10 mg selama 2 minggu kemudian menjadi 5 mg pada 2 minggu berikutnya kemudian di stop. Pada subjek penelitian di kelompok kontrol pasien akan mendapat plasebo. Seluruh subjek penelitian akan mendapat predsnisolon selama 20 minggu, dosis awal yaitu 40mg/hari kemudian diturunkan hingga menjadi 0. Seluruh pasien juga diresepkan asalm folat 5 mg/ hari untuk meminimalisasi efek samping MTX. Data yang terkumpul nantinya akan diolah menggunakan data elektronik REDCap yang terpusat di London yaitu School of Hygiene & Tropical Medicine.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efikasi dari MTX oral dalam pengobatan ENL, karena seperti yang diketahui pengobatan kortikosteroid jangka panjang dapat mengakibatkan berbagai komplikasi sehingga dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas pasien dengan ENL. Keberhasilan penggunaan MTX sebagai antiinflamasi bagi pasien kusta yang tidak berespon dengan thalidomide maupun kortikosteroid membuat MTX menjadi kandidat ideal sebagai agen hemat kortikosteroid. Penelitian ini akan menjadi penelitian RCT pertama dalam mengevaluasi efektifitas MTX dalam pengobatan ENL dan juga penelitian pertama menggunakan ESSS (ENL Severity Scale) dalam menilai keparahan dan respon penyakit terhadap terapi sehingga dapat menjadi salah satu acuan dalam penelitian berbasis bukti dalam pengobatan ENL.

Pengobatan dengan MTX dapat menjadi pilihan yang baik tidak hanya dalam kasus reaksi kusta yang sulit diobati namun juga pada tahap awal rekasi kusta sebagai steroid sparring agent, atau pada populasi khusus seperti penderita diabetes di mana penggunaan kortikosteroid akan dapat menimbulkan efek samping yang lebih serius. Uji klinis untuk mengeksplorasi peran metotreksat dalam pengobatan reaksi kusta seperti uji klinis double-blind, acak, terkontrol yang mengeksplorasi kemanjuran metotreksat (dengan prednisolon) dalam mengelola ENL sedang hingga berat serta uji klinis mengenai apakah MTX dapat digunakan sendiri atau bersama dengan obat imunomodulasi lain serta karakteristik pasien seperti apa yang paling cocok dengan penggunaan agen ini pada reaksi kusta masih diperlukan.

Penulis: 

Barbara de Barros ,Saba M Lambert,Mahesh Shah, Vivek V Pai, Joydeepa Darlong, Benjamin Jewel Rozario, Medhi Denisa Alinda, Anna M Sales, Shimelis Doni, Deanna A Hagge, Dilip Shrestha, M. Yulianto Listiawan, Abeba M Yitaye, Jose A C Nery, Kapil D Neupane, Vivianne L A Dias, C. Ruth Butlin, Peter G Nicholls, Diana Lockwood, Stephen L Walker   

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://bmjopen.bmj.com/content/10/11/e037700

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu