Mengungkap Profil Senyawa Bioaktif dan Potensi Antimikroba Buah

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Kompas com

Siapa sih yang tidak mengenal cabe jawa? Tanaman ini merupakan asli Indonesia dan sudah diakui manfaatnya secara turun temurun. Bagian tanaman yang sering digunakan sebagai obat adalah bagian buahnya. Kali ini akan dipaparkan informasi tentang kandungan senyawa dan potensinya sebagai antimikroba. Seperti diketahui bahwa penyakit infeksi disebabkan oleh mikroba patogen, seperti bakteri, parasit, virus dan jamur. Selama ini upaya penanganan untuk mengobati penyakit infeksi dengan pemberian antibiotik. Namun cara ini menimbulkan dampak negatif yaitu menyebabkan terjadinya resistensi. Oleh sebab itu telah dilakukan upaya yang intensif yaitu dengan eksplorasi bahan antimikroba baru yang kaya manfaat serta dapat meminimalisir efek samping. Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan adalah dari buah cabe jawa (Piper retrofractum).  Buah P. retrofractum mengandung metabolit sekunder guinisins, alkaloid, piperine, kavisins, saponin, polifenol dan minyak atsiri. Sejauh ini belum ada informasi tentang  senyawa bioaktif ekstrak n-heksan dan etil asetat buah P. retrofractum dan uji aktivitasnya sebagai antimikroba.

Kandungan P. retrofractum dideteksi menggunakan instrumen GC-MS, sedangkan aktivitas antimikroba dianalisis menggunakan metode difusi. Pertama, buah cabe jawa dicuci sampai bersih, kemudian dikeringkan pada suhu 50 ° C. Selanjutnya dikeringkan dan dibuat dalam bentuk serbuk  dengan menggunakan blender. Serbuk buah  cabe jawa diekstraksi menggunakan n-heksana dan etil  asetat masing-masing sebanyak 400 ml. Proses ekstraksi dilakukan dengan maserasi menggunakan selama enam hari, diulang sebanyak dua kali. Ekstrak kemudian diuapkan menggunakan rotatory evaporator. Identifikasi senyawa bioaktif dari ekstrak n-heksana dan etil asetat buah P. retrofractum menggunakan metode GC-MS. Metode untuk uji aktivitas antimikroba meliputi persiapan kultur mikroba uji dan uji aktivitas dengan metode difusi dan dilusi. Medium untuk kultur Escherichia coli, Staphylococcus aureus dan Candida albicans masing-masing adalah Eosine Methylene Blue, Manitol salt Agar dan Potato Dextrose Agar. Setelah dilakukan inokulasi, mikroba diinkubasi pada suhu 37 ° C selama 24-48 jam.

Ekstrak n-heksana dan etil asetat dibuat seri konsentrasi 250, 500, 750 dan 1000 ppm. Uji antimikroba ekstrak buah P. retrofractum dilakukan dengan metode difusi cakram. Bakteri pertama kali disuspensi dalam media steril Muller Hinton Broth (MHB) pada OD 0,1 (625 λ), sedangkan fungi pada OD0,1 (600 λ). Kultur ditanam pada media MHA steril dengan metode pour plate. Sekitar 1 ml suspensi E. coli, S. aureus dan C. albicans dimasukkan ke dalam cawan petri steril. Kemudian ditambahkan media MHA yang sudah disterilkan sebanyak 15 ml ke dalam setiap cawan petri sebelum dihomogenisasi. Setelah media dipadatkan, paper disc diinjeksi dengan  ekstrak sesuai perlakuan dimasukkan ke dalam media, kemudian diinkubasi pada suhu 37 ° C selama 24 jam (bakteri) dan 48 jam (jamur). Zona hambat yang terbentuk diamati dan diukur.  

Berdasarkan hasil GC-MS ekstrak cabe jawa mengandung 26 senyawa. Senyawa yang dominan adalah  5,6-Dihydro-2,10,11-trimethoxy-3H-phenanthro [9,10,1-ija] quinolizin-3-one (24,40%). Sementara itu ekstrak ekstrak etil asetat mengandung 16 senyawa. Senyawa yang dominan adalah piperin (52,65%) yang dikenal sebagai agen antimikroba. Ekstrak semi-polare terbukti lebih efektif dalam menghambat pertumbuhan mikroba dibandingkan dengan ekstrak n-heksana karena ekstrak semi-polar memiliki afinitas yang lebih tinggi untuk berinteraksi dengan dinding sel mikroba.

Pada konsentrasi 750 ppm, kedua ekstrak tersebut dapat menghambat S. aureus. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi paling optimal untuk respon antimikroba terhadap S. aureus adalah 750 ppm. Zona hambat terbesar ditemukan dari ekstrak etil asetat 750ppm terhadap S. aureus, pada 10,45 mm. Hal ini kemungkinan karena kandungan piperin yang terkandung dalam ekstrak etil asetat cukup tinggi (52,65%) dibandingkan dengan konsentrasi pada ekstrak n-heksana (5,64%). Karena piperin dianggap sebagai agen antimikroba sehingga  semakin tinggi kadar ekstraknya maka semakin tinggi aktivitas antibakteri.

Staphylococcus aureus merupakan bakteri Gram positif dengan struktur dinding sel yang mengandung peptidoglikan tinggi dan lebih mudah didenaturasi, karena struktur dinding selnya lebih sederhana, sehingga zat antimikroba mudah masuk ke dalam sel dan menemukan targetnya. Pengujian terhadap C. albicans tidak membentuk zona hambat, kemungkinan disebabkan oleh perbedaan struktur dan komposisi dinding sel. Jamur adalah eukariota dengan dinding sel kompleks, tersusun atas polisakarida kristal, kitin, β-glukan, matriks terdiri atas amorfpolisakarida dan sakarideprotein kompleks. Kitin dan β-glukan memainkan peran penting dalam mekanis

Penulis: Dr. Junairiah, S.Si., M.Kes.
Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga

Link jurnal terkait tulisan di atas: http://agribiop.com/category/annals-of-biology/
Junairiah, Irmayanti, N.D., Nurhariyati, T., and Ni’matuzahroh. 2020. Bioactive Compounds Profile and Antimicobe Activities of n-hHexane and Ethyl Acetate Extracts of Piper retrofractum Fruit. Annals of Biology 36 (2) : 329-332

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu