Hubungan antara Keparahan Penyakit dengan Polimorfisme Toll-Like Receptor pada Pasien Tuberkulosis Multidrug Resistant

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber: https://www.lalpathlabs.com/

Tuberkulosis Multidrug Resistant (TB-MDR) disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang kebal terhadap obat anti-TB lini pertama yaitu rifampisin (R) dan isoniazid (H). Indonesia merupakan salah satu dari 27 negara dengan prevalensi TB-MDR yang tinggi dan berada pada peringkat ke-9 di seluruh dunia. Menurut laporan TB global tahun 2015, 1.812 kasus TB-MDR dilaporkan di Indonesia, tetapi hanya 1284 pasien (71%) yang bersedia mendapat pengobatan TB-MDR. World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa TB-MDR menyebabkan angka kematian yang tinggi, virulensi yang lebih tinggi dan lebih menular dibanding TB sensitif obat.

Salah satu alasan rendahnya jumlah pasien TB-MDR yang bersedia mendapat pengobatan adalah karena beberapa pasien hanya merasakan gejala yang ringan sehingga mereka merasa tidak membutuhkan pengobatan yang lama antara 18-24 bulan. Perbedaan gejala yang dialami pasien TB-MDR diamati untuk mengetahui apakah respon kekebalan manusia atau virulensi gen Mycobacterium tuberculosis yang menentukan tingkat keparahan tersebut. Tingkat keparahan penyakit dapat dipengaruhi oleh mekanisme Toll-like receptors (TLRs) dari setiap individu.

Single nucleotide polymorphisms (SNPs) pada TLR, misalnya TLR-1, TLR-2, TLR-3, TLR-4, TLR-6, TLR-8, dan TLR-9 dianggap berperan mengenali bakteri M. tuberculosis. Polimorfisme gen TLR menyebabkan perbedaan manifestasi penyakit. Tingkat keparahan pasien TB-MDR dapat ditentukan berdasarkan rontgen paru. Perubahan gen virulen seperti gen esxA, yang melepaskan ESAT-6 (protein esensial yang memengaruhi virulensi) juga diamati dalam studi ini. Gen esxA dianggap sebagai penentu patogen utama dan diketahui berperan penting dalam invasi Mycobacterium tuberculosis dan memodulasi aktivasi makrofag untuk mengurangi virulensi.

Pada penelitian ini polimorfisme TLR dianalisis dengan mendeteksi TLR1-TLR12 menggunakan metode digital assay. Variasi dalam gen esxA diuji dengan polymerase chain reaction (PCR) dan sekuensing antara kelompok TB-MDR paru ringan-sedang dan kelompok TB-MDR paru berat secara objektif, berdasarkan tingkat keparahan pada rontgen.

Hasil studi pada pasien TB-MDR menunjukkan bahwa 63,16% pasien mengalami kerusakan paru bilateral dan 36,84% mengalami kerusakan paru unilateral. Berdasarkan analisis sekuens dari TLR-1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, dan 9 yang berasal dari sel darah pasien TB-MDR paru, alel SNP ditemukan pada posisi intron pada semua TLR protein signaling genes. SNP dalam posisi ekson hanya ada pada gen TLR-1, TLR-2 dan TLR-6. SNP pada posisi intron dari gen TLR-1 pasien TB-MDR paru berat menunjukkan perbedaan protein dibandingkan dengan pasien TB-MDR paru sedang-ringan.

Studi ini menunjukkan bahwa SNPs pada TLR-1, TLR-2, dan TLR-6 pada pasien TB-MDR paru memiliki hubungan yang bermakna terhadap tingkat keparahan penyakit. Polimorfisme TLR memiliki hubungan yang bermakna terhadap TLR‑1 rs5743572 pada posisi intron, TLR‑2 rs3804100 pada posisi ekson, dan TLR‑6 rs5743808 pada posisi ekson. Tidak terdapat perbedaan pada struktur fungsional protein ESAT-6 antara isolat Mycobacterium tuberculosis strain MDR, dan tidak ditemukan variasi pada gen esxA. Pasien TB-MDR dengan tingkat keparahan ringan tidak mengurangi virulensi dari bakteri. Dokter perlu memberikan penjelasan kepada pasien bahwa pasien harus bersedia menerima pengobatan TB-MDR untuk mencegah penularan kepada orang lain.

Penulis: Soedarsono

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami pada link berikut,

https://www.ijmyco.org/article.asp?issn=2212-5531;year=2020;volume=9;issue=4;spage=380;epage=390;aulast=Soedarsono

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu