Webinar GELIAT Airlangga ke-16: Komunikasi sebagai Alat Pencegahan Penyebaran Covid-19

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

UNAIR NEWS – Gerakan Peduli Ibu dan Anak Sehat (GELIAT) Universitas Airlangga bekerja sama dengan UNICEF dan Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR kembali mengadakan webinar yang ke-16 pada Selasa (22/12/20). Webinar tersebut mengundang tim promosi kesehatan dari Dinas Kesehatan & Rumah Sakit, tokoh masyarakat yang tergabung dalam organisasi masyarakat, tim Lembaga Swadaya Masyarakat di bidang Kesehatan, tim Dinas Komunikasi dan Informasi, serta jurnalis untuk ikut bergabung.

Sama seperti webinar-webinar sebelumnya, seminar kali ini juga dilaksanakan berbasis web, melalui platform Zoom dan live streaming channel YouTube Geliat Airlangga, dalam rangka mencegah penyebaran Covid-19 selama proses berlangsung.

Peningkatan kasus Covid-19 yang salah satunya diakibatkan oleh penurunan kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan menjadi alarm terkait pentingnya strategi komunikasi dan manajemen risiko yang tepat dalam penanggulangan bencana Covid-19. Merespon situasi tersebut, di kesempatan kali ini, Geliat Airlangga mengusung tema “Komunikasi sebagai Alat Pencegahan Penyebaran Covid-19”.

Ratna Dwi Wulandari penanggungjawab acara menyampaikan harapannya bahwa webinar kali ini dapat membantu dalam mengomunikasikan hal-hal penting terkait Covid-19 pada kelompok-kelompok sasaran dengan lebih cepat dan lebih baik lagi. Sehingga, secara bersama-sama masyarakat dapat memerangi pandemi.

Sementara itu, Dr. Suko Widodo, Drs., M.Si., Ketua Pusat Pengembangan Media dan Kehumasan UNAIR mengatakan bahwa komunikasi itu harus memuat pesan yang menginspirasi sekaligus membangun. “Efektifnya komunikasi itu bukan hanya sekedar bertukar informasi, tapi menyangkut emosi, dan niat baik dari itu. Jadi, kita juga perlu mendengar,” tambahnya.

Nursila Dewi praktisi komunikasi risiko mengatakan bahwa definisi inti komunikasi risiko adalah menerangkan kemungkinan dan konsekuensi terkait kedaruratan atau krisis kesehatan untuk menekan kemungkinan kejadian/konsekuensi.

“Dalam menyebarkan informasi untuk membangun kepercayaan dan kerja sama, yang pertama kenali dulu reaksi terhadap kedaruratan. Yang kedua, membuat strategi komunikasi risiko,” ucapnya.

Dr. Hendro Wardhono, Drs., M.Si., Wakil Ketua IV Ikatan Ahli Bencana Indonesia Jawa Timur, menjelaskan pengurangan risiko bencana yang diterapkan di Indonesia menggunakan empat kerangka.

“Dalam konteks mengurangi risiko bencana itu memahami risiko bencana. Yang kedua adalah memperkuat tata kelola risiko bencana dan manajemen risiko bencana, baik dalam lingkup government maupun non-government. Yang ketiga, investasi dalam pengurangan risiko bencana untuk ketangguhan. Dan, yang keempat adalah meningkatkan kesiapsiagaan,” jelasnya. (*)

Penulis: Aisyah Tsabita Zaki Ihsani

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu