Analisis Potensi Proanthocyanidins dalam Ekstrak Buah Coklat

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Hello Sehat

Konsumsi buah coklat meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini oleh karena masyarakat semakin sadar bahwa coklat sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia. Salah satunya adalah mengurangi risiko penyakit jantung dimana cokelat, terutama cokelat hitam, memiliki kandungan zat flavanoid yang tinggi, antioksidan untuk meminimalisir risiko penyakit jantung. Selain itu, menurut studi yang dilakukan Universitas of New England pada tahun 2014, zat flavanoid yang terkandung di cokelat juga berfungsi untuk meningkatkan memori otak pada manusia.

Kulit buah coklat, sampai dengan saat ini hanya digunakan sebagai pakan ternak dan jika tidak dimanfaatkan dengan baik akan meningkatkan jumlah limbah dari kulit buah coklat, padahal dari segi medis kulit buah coklat memiliki banyak bahan yang dapat diisolasi dan dimanfaatkan. Salah satu kandungan terbesarnya adalah polifenol berupa katekin (37%), antosianin (4%), dan proantosianidin (58%). Proanthocyanidin, jenis polifenol terbesar dari ekstrak kulit , dapat digunakan sebagai agen imunomodulator, anti-kanker, antioksidan, antibakteri, dan anti-inflamasi.

Proanthocyanidin, jenis polifenol terbesar dari ekstrak kulit buah kakao, dapat digunakan sebagai alternatif alami untuk penyembuhan radang, seperti penyakit periodontal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa proanthocyanidin dapat menghambat pertumbuhan Porphyromonas gingivalis (P. gingivalis) dan pembentukan biofilm, juga memiliki aktivitas anti inflamasi dengan cara menurunkan produksi mediator proinflamasi (IL-1 dan TNF-α) serta dapat menghambat sekresi IL-8 dan kemokin (Motif C-C) ligan 5 (CCL5) yang dipapar oleh P.gingivalis.

Penelitian ini menggunakan hewan coba tikus wistar, yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kontrol negatif, kontrol positif, dan perlakuan. Untuk mendapatkan tikus model periodontitis, pada seluruh kelompok diinjeksi dengan 0,05 ml P. gingivalis ATCC 33277 pada konsentrasi 2×109 CFU / ml di distobukal dan distopalatal sulkus gingiva molar satu rahang atas. Injeksi diulangi setiap 3 hari sekali selama 2 minggu. Setelah mendapatkan model tikus periodontitis, selanjutnya dilakukan pengambilan cairan sulkus gingiva tikus pada hari ke 0 untuk kelompok kontrol positif dan negatif serta kelompok perlakuan. Pemberian gel plasebo untuk kelompok kontrol negatif, metronidazol untuk kelompok kontrol positif dan gel ekstrak proantosianidin kulit buah kakao 10% untuk kelompok perlakuan, setiap hari selama 28 hari. Cairan sulkus gingiva diambil pada hari ke 7, 14, dan 28. Gel plasebo dan gel ekstrak proantosianidin kulit buah kakao 10% diaplikasikan pada daerah sulkus gingiva distobukal dan distopalatal molar satu rahang atas dengan menggunakan alat plastik filling.

Tahap berikutnya gigi dibersihkan dengan kapas untuk mengontrol saliva, kemudian sampel gingival crevicular fluids (GCF) diambil dengan kertas point nomor 15 selama 30 detik. Titik kertas diposisikan secara horizontal di area sulcus gingiva di bagian distobuccal molar satu rahang atas. Pengambilan GCF harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan cedera pada area sulcus gingiva yang pada akhirnya akan menimbulkan kontaminasi. Titik kertas dimasukkan ke dalam tabung eppendorf 0,5 mL dan disimpan pada suhu -20 ° C, sampai dilakukan uji ELISA. Sebelum dilakukan uji ELISA, tabung eppendorf ditambahkan 50 µL 0,02 M Larutan Buffer Fosfat (pH 7,0-7,2), dilanjutkan dengan sentrifugasi 2000-3000 RPM pada suhu ruang 18-25°C selama 20 menit, setelah itu dilakukan uji ELISA. dilakukan dengan kit ELISA TNF-α dan COX-2. Kemudian hasil pengujian dibaca menggunakan ELISA reader dengan panjang gelombang 450 nm selama maksimal 30 menit setelah pemberian larutan stop. Data yang diperoleh diuji statistic dengan menggunakan ANOVA dilanjutkan dengan uji LSD. 

Hasil analisis menunjukkan, terdapat perbedaan yang signifikan diantara seluruh kelompok, yang mana penurunan ekspresi TNF-á pada kelompok proanthocyanidins pada hari ke-28 adalah yang tertinggi dibanding pada kelompok yang sama pada hari ke- 0, 7 dan 14 hari. Ekspresi ini tidak jauh berbda bila dibandingkan dengan kelompok kontrol positif pada hari ke-28. Hasil analisis juga menunjukkan, terdapat perbedaan yang signifikan diantara seluruh kelompok, yang mana penurunan ekspresi COX-2 pada kelompok proanthocyanidins pada hari ke-28 adalah yang tertinggi dibanding pada kelompok yang sama pada hari ke- 0, 7 dan 14 hari. Ekspresi ini tidak jauh berbeda bila dibandingkan dengan kelompok kontrol positif pada hari ke-28. 

Hasil penelitian menunjukkan kelompok perlakuan dengan gel ekstrak proanthocyanidin 10% memiliki ekspresi TNF-α dan COX-2 yang paling rendah. Hal ini disebabkan oleh proanthocyanidin pada ekstrak kulit kakao yang memiliki sifat anti inflamasi dan antibakteri. Aktivitas proantosianidin dalam menghambat COX-2 kemungkinan dengan menghambat aktivitas sitokin proinflamasi. Hal ini didukung oleh beberapa penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa proanthocyanidin dapat menghambat pertumbuhan P. gingivalis dan menurunkan ekspresi COX-2 melalui penghambatan aktivitas inflamasi sitokin.

Penulis: Dr. Anis Irmawati, drg., MKes

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:  Yani CorvianindyaRahayu1, Agustin Wulan Suci Dharmayanti2, Yolanda Eka Putri3, Anis Irmawati (2020). The Analysis of Proanthocyanidins Cacao Peel Extract (Theobroma cacao L.) Potential on The Expression of TNF-α and COX-2 on Periodontitis Rat.  Malaysian Journal of Medicine and Health Sciences 16(Supp 4): 4337-4343.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu