Potensi Antioksidan Ekstrak Daun Jambu Biji

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Jawa Pos

Kontaminasi lingkungan banyak dihasilkan melalui hasil sampingan dari aktivitas manusia, berasal dari proses industri dan industri rumah tangga. Dioksin merupakan senyawa persisten yang dikeluarkan sebagai hasil samping industri, pembakaran ataupun sumber lainnya, senyawa ini bersifat resisten terhadap  degradasi  secara  fisik  ataupun  metabolik. Dari 210 senyawa dioksin yang ditemukan, 2,3,7,8-tetrachlorodibenzo-p-dioxin (TCDD) merupakan salah satu senyawa paling beracun diantara senyawa dioxin. Menurut Mohamed SA et al (2015) menyatakan bahwa banyak racun yang berada pada lingkungan, terakumulasi didalam tubuh telah terbukti mempengaruhi spermatogenesis pada tikus dan manusia dan dapat menyebabkan jumlah sperma rendah, morfologi sperma abnormal dan kualitas semen yang buruk. Hasil percobaan yang dilakukan pada beberapa hewan percobaan terhadap TCDD menunjukkan spektrum toksik yang luas termasuk adanya toksisitas reproduksi maupun karsinogenitas pada hewan percobaan. 

Di antara berbagai toksisitas TCDD, toksisitas reproduksi banyak ditemukan baik pada pria dan wanita. Senyawa TCDD dapat terakumulasi di dalam jaringan adiposa baik hewan maupun manusia sehingga, hewan atau manusia apabila terpapar senyawa ini yang berasal dari kontaminasi lingkungan secara terus menerus memiliki efek kumulatif yang mengarah pada gangguan reproduksi. Paparan TCDD dapat menimbulkan nekrosis pada bagian tubulus seminiferus sel sertoli, dan kerusakan spermatozoa, sehingga toksisitas TCDD pada testis berpengaruh dalam abnormalitas spermatogenesis.  Efek toksisitas TCDD telah diketahui dapat mengganggu aktivitas endokrin dalam menghasilkan hormon, salah satunya hormon reproduksi.  Toksisitas TCDD dalam tubuh dapat menimbulkan stres oksidatif, oleh karena itu diperlukan bahan yang berfungsi untuk memutus rantai oksidatif yang ditimbulkan oleh TCDD seperti senyawa antioksidan (Sayuti dkk, 2015). Antioksidan adalah senyawa eksogen atau endogen. Antioksidan dapat berasal dari senyawa sintetik maupun alami. Antioksidan alami berasal dari tumbuhan, salah satu tumbuhan yang memiliki kandungan antioksidan yang tinggi dan Bouchoukh et al, (2019) menyatakan bahwa Daun Jambu Biji telah terbukti melalui Uji DPPH yang digunakan untuk mengukur kadar antioksidan yaitu, daun jambu biji. Daun jambu biji memiliki kemampuan antioksidan yang baik dalam uji Free Radical Scavenging dan Ferric Reducing Ability (FRAP). 

Senyawa-senyawa aktif pada daun jambu bji yang berperan sebagai antioksidan yang berasal dari gugus fenolic diantaranya, protocatechuic acid, ferulic acid, quercetin, guavin B, ascorbic acid, gallic acid, and caffeic acid. Selain itu pada gugus flavonoid terdapat, isoflavonoid, Flavonol, Katein dan Kalkon. Senyawa antioksidan dari polifenolik ini memiliki peran sebagai pereduksi, penangkap radical bebas, dan menghambat proses pembentukan ROS dengan mengikat ion logam diperlukan untuk katalisis generasi ROS (Gutiérrez et al, 2008).  Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ngoula pada tahun 2017 mengenai efek heat stress pada reproduksi cavie jantan dan strategi pencegahan kerusakan pada reproduksi jantan menggunakan essensial oil daun jambu biji. Hasil menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun jambu biji pada cavie yang dipapar heat stress hingga 45℃ memiliki peningkatan kepadatan sel spermatogenesis dan motilitas pada sperma dan mengurangi kerusakan sel sperma. Aktivitas antioksidan meningkat dikarenakan pada essential oil dau jambu biji dapat mengurangi laju radikal bebas sehingga dapat memutus rantai pembentukan radikal peroksil dan dapat mencegah terjadinya stress oksidatif akibat ketidakseimbangan antioksidan dan radikal bebas. Kandungan antioksidan dalam daun jambu biji sebagai antioksidan telah banyak diteliti. Senyawa antioksidan yang terdapat dalam ekstrak daun jambu biji dapat berpotensi memiliki pengaruh terhadap toksisitas TCDD, khususnya untuk menurunkan jumlah apoptosis sel sertoli dan menurunkan kadar MDA pada mencit (Mus musculus) jantan. 

Penulis: Wahyu Indah Sulistya Rani

Program Studi Magister Biologi Reproduksi Universitas Airlangga

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu