Efektivitas Pemberian Vitamin D terhadap Ekspresi Fibroblast Growth Factor-2 selama Aplikasi Mekanoterapi pada Tikus Wistar Hamil

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi sumber vitamin D. (Sumber: Kompas Lifestyle)

Pasien perempuan memiliki kemungkinan hamil selama perawatan ortodonti. Kehamilan merupakan keadaan fisiologis yang membawa berbagai perubahan hormonal pada wanita. Kehamilan tidak hanya mempengaruhi kesehatan umum, tetapi juga kesehatan mulut. Selama perawatan ortodonti dengan aplikasi orthodontic mechanical stress (OMS), terjadi perubahan pada ligamen periodontal dan aktivitas sel dan biokimia tulang alveolar, yang memungkinkan terjadinya pergerakan gigi, salah satunya adalah fibroblas pada ligamentum periodontal. Terdapat beberapa suplemen vitamin yang dokter rekomendasikan untuk dikonsumsi sebagai penunjang nutrisi bagi ibu hamil, salah satunya adalah vitamin D.

Pemberian vitamin D pada saat pergerakan gigi ortodonti (PGO) pada model hewan studi kondisi hamil, meningkatkan jumlah osteoklas dan ekspresi reseptor aktifator nuklir kB ligan (RANKL). Akan tetapi, pemberian vitamin D tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ekspresi faktor pertumbuhan endotel vaskular (VEGF), angiogenesis, jumlah hitung osteoblas dan ekspresi tulang alkaline fosfatase (BALP) selama PGO tikus wistar hamil. FGF-2 merupakan salah satu jenis faktor pertumbuhan yang berperan penting dalam proses penyembuhan luka dan pembentukan kembali tulang alveolar akibat jejas. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemberian vitamin D terhadap ekspresi FGF-2 selama aplikasi mekanoterapi pada tikus wistar hamil (Rattus novergicus).

Dalam studi ini, kami menemukan bahwa ekspresi FGF-2 dengan kromogen coklat terdeteksi dari masing-masing kelompok di sisi tarikan dan sisi kompresi. Ekspresi data FGF-2 pada setiap kelompok berdistribusi normal dan homogen (p> 0.05). Ekspresi FGF-2 terbesar terdeteksi pada kelompok K7, sedangkan terendah pada kelompok P7 pada sisi tegangan dan sisi kompresi. Ekspresi FGF-2 pada sisi tekan (p = 0,14; p> 0,05) dan sisi tegangan (p = 0,28; p> 0,05) tidak berbeda nyata. Ekspresi FGF-2 terbesar terdeteksi pada kelompok K7, sedangkan yang terendah pada kelompok P7 sisi kompresi dan sisi tegangan. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada ekspresi FGF-2 di sisi kompresi dan sisi tarikan antar kelompok.

FGF-2 berperan dalam mengatur proliferasi sel selama perkembangan embriologi.  FGF-2 merupakan faktor homeostatis dan berfungsi untuk meningkatkan respon jaringan dan cedera. Vitamin D dan kalsitonin berperan dalam mengatur jumlah kalsium dan fosfat. Vitamin D mampu merangsang pembentukan osteoblas. Vitamin D di dalam tulang dapat mengaktifkan dan mengatur transkripsi sejumlah gen target RANKL dalam osteoblas yang akan mengikat aktivator reseptor aktifator nuklir Kappa Beta (RANK) untuk osteoklastogenesis dan aktivasi osteoklas yang penting untuk PGO. Kadar vitamin D yang berlebihan akan menyebabkan osteoklas menjadi lebih aktif dari pada osteoblas sehingga resorpsi tulang akan meningkat dan pembentukan tulang akan terganggu. Pemberian vitamin D pada tikus hamil dengan aplikasi mekanoterapi dapat meningkatkan ekspresi RANKL dan jumlah osteoklas, tetapi tidak memiliki efek signifikan pada jumlah osteoblas dan ekspresi BALP.

FGF-2 memiliki efek menghambat kalsifikasi melalui penurunan kalsium serum dan fosfat. FGF-2 dapat menurunkan pengapuran dengan cara menghambat aktivasi vitamin D. Dalam keadaan hiperkalsemia akibat overdosis vitamin D, yaitu tingginya kadar kalsium dalam darah akibat peningkatan kalsium dari saluran pencernaan dapat mengakibatkan ekskresi kalsium dalam urin meningkat sehingga proses pengapuran tulang menurun. Hal ini didukung oleh penelitian sebelumnya tentang hypervitaminosis D yang menyatakan bahwa pemberian vitamin D dosis tinggi pada embrio menyebabkan pembentukan trabekula tulang terhambat. Hypervitaminosis D pada tikus hamil dapat menyebabkan penurunan massa tulang dan mineral pada embrio tikus.

Aplikasi mekanoterapi selama PGO menyebabkan tekanan dan regangan pada serat ligamen periodontal dan sel di daerah ligamen periodontal di daerah kompresi dan tegangan. Proses kompleks ini memulai perekrutan osteoklas dan progenitor osteoblas, seperti dimulainya ekstravasasi dan kemoattraktan sel inflamasi. Fase awal pergerakan gigi ortodontik selalu melibatkan respon inflamasi akut yang ditandai dengan vasodilatasi kapiler dan migrasi leukosit ke kapiler. Sel-sel yang bermigrasi ini menghasilkan berbagai sitokin. Sitokin ini merangsang sintesis dan sekresi berbagai zat untuk sel target seperti prostaglandin, faktor pertumbuhan, dan berbagai sitokin.

Inflamasi akut yang terjadi merupakan fase awal dan bersifat eksudatif. Satu sampai dua hari kemudian fase inflamasi akut menjadi inflamasi proliferatif kronik yang melibatkan fibroblas, sel endotel, osteoblas, dan sel tulang alveolar. Selama periode ini leukosit terus bermigrasi ke jaringan periodontal dan mengatur proses remodeling tulang alveolar. Sitokin disekresikan oleh sel mononuklear seperti Interleukin-1 (IL-1). IL-1 dapat meningkatkan sintesis dan sekresi beberapa zat termasuk prostaglandin atau faktor pertumbuhan seperti FGF-2 selama PGO.

Kesimpulan dari studi ini adalah efektivitas pemberian vitamin D selama gaya mekanik ortodontik pada tikus wistar bunting (R. novergicus) tidak berpengaruh signifikan terhadap ekspresi FGF-2 pada sisi tarikan dan tekan.

Penulis: Ida Bagus Narmada

Tulisan selengkapnya dapat diakses pada:

https://connectjournals.com/toc2.php?abstract=3242402H_5311A.pdf&&bookmark=CJ-033216&&issue_id=&&yaer=2020

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu