Konstruksi Sosial dan Daya Saing Sumber Daya Manusia Etnis Kaili di Kota Palu

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Suara Borneo

Penelitian ini berlatar belakang menggali basis pengetahuan etnis Kaili untuk melihat  dan mendalami pandangan etnis Kaili tentang pengembangan sumber daya manusia. Inti persoalan yang ingin dipecahkan dalam studi ini adalah bagaimana etnis Kaili di Kota Palu mengkonstruksi pengembangan sumber daya manusia dan berbagai elemen yang terkait dengan upaya peningkatan daya saing sumber daya manusia. Menyangkut bagian penting dalam studi ini adalah nilai-nilai budaya etnis Kaili. Penelitian ini mengangkat pandangan etnis Kaili tentang dasar sumber daya manusia yang dimiliki antara lain berdasarkan penelusuran pustaka, bahwa tulisan tentang etnis ini sangat kurang. Catatan tentang Kaili yang ditulis oleh orang Asing, ditemukan dalam tulisan Kruyt (1898), dan Collins (2006). Kruyt singgah di Palu ketika melakukan perjalanan dari Poso ke Lindu, hasil perjalanannya itu dibuatkan buku dengan judul “Van Poso Naar Parigi Sigi En Lindue”. Adapun Collins dalam menulis buku “Sejarah Bahasa Melayu Sulawesi Tengah 1793-1795” sebagai seorang sarjana bahasa, tidak pernah melakukan penelitian di Palu. Tulisan Collins menunjukkan bahwa keberadaan Kaili di Palu telah ada berabad lamanya, dan memiliki hubungan dengan dunia luar melalui perdagangan dengan beberapa pendatang yang melakukan jual beli lewat jalur pelabuhan Donggala.

Pustaka yang digunakan dalam penelitian ini adalah elaborasi dari teori Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) dan teori dari ilmu sosial, tepatnya sosiologi. Dreher (2016:54) mengemukakan bahwa penyelidikan tentang ‘realitas sui generis‘ masyarakat membutuhkan penelusuran dengan cara mengungkapkan dari mana kenyataan ini dibangun. Dikemukakan juga oleh Stewart & Sambrook (2012:17) bahwa pengembangan sumber daya manusia perlu untuk memasukkan lebih banyak interpretivist/perspektif konstruksionis sosial, dan meningkatkan fokus pada pendekatan kritis dalam akademisi. Teori dari sosiologia adalah konstruksi sosial yang dikemukakan oleh Berger (1991), yang melihat bahwa dalam memahami masyarakat terdapat proses dialektik fundamental dari masyarakat yang terdiri dari tiga momentum, atau
langkah yaitu eksternalisasi, obyektivasi, dan internalisasi. Eksternalisasi adalah suatu pencurahan kedirian manusia secara terus menerus ke dalam dunia, baik dalam aktivitas fisik maupun mental.

Obyektivasi adalah disandangnya produk-produk aktivitas itu (baik fisik maupun mental), suatu realitas yang berhadapan dengan para produsennya semula, dalam bentuk suatu kefaktaan (faktisitas) yang eksternal terhadap, dan lain dari, para produser itu sendiri. Internalisasi adalah peresapan kembali realitas tersebut oleh manusia, dan mentransformasikannya sekali lagi dari struktur-struktur dunia obyektif ke dalam struktur- struktur kesadaran subyektif. Melalui eksternalisasi, maka masyarakat merupakan produk manusia. Melalui obyektivasi, maka masyarakat menjadi suatu realitas sui generis, unik. Melalui internalisasi, maka manusia merupakan produk masyarakat. Dengan model dialektis di mana terdapat tesa, anti tesa, dan sintesa, Berger melihat masyarakat sebagai produk manusia dan manusia adalah produk masyarakat. Semua realitas sosial mempunyai komponen esensial kesadaran. Kesadaran sosial membangun pengetahuan manusia.

Metode yang digunakan untuk menjawab persoalan penelitian adalah penelitian kualitatif. Lokasi penelitian dilakukan di kota Palu, ibukota Provinsi Sulawesi Tengah. Dengan memfokuskan pada sumber daya manusia etnis Kaili terkait pendidikan formal yang dicapai. Berdasarkan kriteria tersebut maka dipilih dua subyek penelitian yaitu subyek yang dapat melanjutkan pendidikan formal hingga pendidikan yang tertinggi dikategorikan sebagai role model (panutan), dan subyek yang tidak dapat melanjutkan pendidikan dengan berbagai alasan dan kondisi, subyek yang putus sekolah dikonsepsikan “patah pinsil”, menurut konstruksi masyarakat lokal. Berdasarkan pendekatan konstruksi sosial Peter Berger dan Thomas Luckmann, hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut, Komponen pendukung dan penghambat daya saing sumber daya manusia etnis Kaili di Kota Palu, terkait dengan  faktor  alam,  agama, budaya, ekonomi, dan politik. Bagi subyek role model (panutan), untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia, berkaitan dengan prinsip dasar bahwa orang Kaili harus natau (pintar atau cerdik), Nabia (berani atau memiliki tekad), merasa Naeya (malu) bila tidak meningkatkan pendidikan. Prinsip lainnya, harus mampu menjalankan kegiatan dengan baik ditunjukkan dengan konsep belo rapovia belo rakava (baik yang dilakukan maka kebaikan juga yang akan diterima), dan majadi tau (menjadi manusia), karena prinsip belo rapovia belo rakava dan majadi tau akan menjadikan diri sebagai manusia yang bermanfaat. Sedangkan menurut subyek “patah pinsil”, mempunyai prinsip sebaliknya, yaitu mereka naase nomore (asyik menikmati kesenangan) sehingga menghambat peningkatan pendidikan sebagai upaya memperkuat daya saing sumber daya manusia. Dari hasil penelitian tersebut, kebaruan (novelty) yang ditunjukkan oleh penelitian ini adalah melalui kontribusi dari pendekatan ilmu sosial, menghasilkan informasi berbasis pengetahuan sosial terkait teoritik pengembangan sumber daya manusia yang menghendaki adanya input informasi berbasis pengetahuan sosial  tersebut  sebagai bahan yang akan dikelola dalam proses pengembangan sumber daya manusia.

Penulis: Dr. Indah Ahdiah, S.Sos, M.Si., Prof. Dr. Ida Bagus Wirawan, Drs.,SU., Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs. M. Si

Link jurnal terkait tulisan di atas: https://produccioncientificaluz.org/index.php/opcion/article/view/24591

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu