Perbandingan Daging Se’i Produksi Industri Modern dengan Daging Se’i Produksi Industri Rumah Tangga

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Kompas.com

Daging sapi merupakan salah satu sumber protein hewani yang dibutuhkan oleh manusia, di Nusa Tenggara Timur (NTT), daging sapi merupakan daging yang paling digemari sebagai bahan dasar untuk pembuatan daging Se’i. Daging Se’i  adalah daging yang diasapi dengan menggunakan bara kayu, untuk menambah kelezatan pada pembuatan daging Se’i, daging diasapi dengan menggunakan bara api yang dibuat dari kayu kusambi. Oleh karena kebutuhan masyarakat terhadap daging mengalami peningkatan, maka untuk mencegah kerusakan akibat  mikroba serta mempertahankan kesegaran warna daging dalam upaya untuk menarik konsumen, khusunya di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di kota Kupang, para industri daging menggunakan bahan pengawet berupa bahan kimia, yaitu kalium nitrit (KNO3). Nitrit ini  dapat bereaksi dengan myoglobin sehingga memberikan warna merah daging,  selain itu ikatan antara nitrit dengan asam amino dari protein akan membentuk nitrosamine, di mana nitrosamin merupakan salah satu bahan kimia yang bersifat karsinogenik (memicu terjadinya kanker).  Data Rekam Medik di RSUD.Dr.Yohanes Kupang (2015), angka kejadian kanker kolorektal antara tahun 2013-2015  pertahunya rata-rata 24 orang. 

Berdasarkan peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.No.36/2013, Tentang batas maksimum penggunaan nitrit adalah sekitar 30 mg/kg bahan yang diawetkan. Namun berdasarkan pengamatan Apris A(2013), daging Se’i yang diproduksi industri rumah tangga per kilogramnya menggunakan KNO3, sekitar 110,19 mg, dan industri modern sekitar 34,68 mg. Oleh karena bahan nitrit dapat menginduksi pembentukan nitrosamin yang  dapat memicu kankker, maka pada tulisan ini peneliti menyampaikan hasil penelitian tentang  perbedaan antara ekspresi wild p53 pada kolon mencit yang diberi pakan daging Se’i yang diproduksi oleh industri modern dengan daging Se’i yang diproduksi industri rumah tangga.  Berdasarkan penelitian setiap orang mengkonsumsi daging Se’I sekitar 2,857 kg/hari, kemudian dikonversi dengan mencit diperoleh dosis daging yang diberikan pada mencit adalah sekitar 8,840 mg/hari. Kemudian mencit diberi daging secara oral menggunakan sonde. Adapun metode yang dilakukan adalah metode eksperimental yaitu menggunakan hewan coba mencit yang terdiri dari 4 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 9 ekor. 

Kelompok-1(K-1): kelopok mencit yang diberi makan standard, minum air dan diberi daging tanpa Nitrit. Kelompok-2(K-2): kelompok mencit yang diberi makan standard, minum air dan diberi daging Se’i yang berasal dari produksi  industri modern,  kelompo-3(K-3): kelopok mencit yang diberi makan standard, minum air dan diberi daging Se’i yang berasal dari  industri rumah tangga. Kelompok-4(K-4): kelompok mencit yang diberi makan standard dan minum air. Perlakuan dilakukan selama 28 hari. Sehari setelah perlakuan hewan coba dikorbankan, kemudian diambil kolonnya dan  dilakukan pemeriksaan ekspresi wild p53 dengan menggunakan metede indirect immunohistochemestry (IHC). Adapun hasil yang diperoleh  adalah : K-1: nilai reratanya =142 ; SD=22,48.  K-2 nilai reratanya=126,22; SD=24,14. K-3: nilai reratanya= 106,55; SD= 17,27, dan K-4 nilai reratanya= 78,11; SD= 20,02. Dengan menggunakan uji statistik Anova diperleh hasil yang menunjukkan suatu perbedaan yang bermakna(p<0.05).

Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian daging Se’i yang berasal dari industru rumah tangga dengan industry modern sama-2 terjadi pengingkatan wild p53, walaupun lebih rendah dari kelompok hewan coba yang diberi daging Se’i tanpa nitrit, namun lebih tinggi dari pada hewan coba yang tidak mendapat daging Se’i, Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa tubuh hewan coba(mencit) masih mampu melindungi diri dari  proses malignansi.

Penulis: Apris A.,I K. Sudiana., Santi

Link jurnal terkait tulisan tersebut: https://www.researchgate.net/publication/341974913_The_effect_of_nitrite_food_preservatives_added_to_se’i_meat_on_the_expression_of_wild-type_p53_protein

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu