Layanan Bedah Saraf di Pusat Covid-19 Indonesia: Pengalaman di Rumah Sakit Akademik Rujukan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi dokter bedah saraf. (Sumber: Alodokter)

Pandemi COVID-19 masih terus melaju dengan kecepatan yang belum menunjukkan perlambatan. Upaya telah banyak dilakukan dengan berbagai cara mulai dengan yang paling sederhana seperti mencuci tangan, memakai masker, hingga penemuan “obat baru” yang menyembuhkan dan “vaksin” yang dapat mencegah penularan. Banyak metode “penyembuhan” dan “pencegahan” bermunculan baik di media ilmiah, media populer, maupun media sosial. Beberapa dari publikasi ilmiah tentang obat Covid-19 kemudian ditarik kembali karena tidak memenuhi kaidah ilmiah.

Dampak pandemi terutama menimpa sistem kesehatan di hampir seluruh Negara di dunia. Mereka harus berbenah untuk membuat alur penanganan yang tertata di tengah pandemic yang belum diketahui sebelumnya. Kesiapan RS diuji di sini. RSUD Dr. Soetomo sebagai salah satu rumah sakit rujukan COVID-19 yang ditunjuk oleh Kemenkes juga harus menata ulang sistem pelayanannya. Di samping sistem pelayanan, RSUD Dr. Soetomo sebagai RS pendidikan utama Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga juga harus beradaptasi dengan proses pendidikan yang baru.

Layanan Bedah Saraf yang merupakan salah satu layanan di RSUD Dr. Soetomo dan juga menyelenggarakan pendidikan untuk Program Spesialis ikut terdampak oleh pandemi. Penurunan yang tajam tampak dalam statistic jumlah layanan yang diberikan oleh RS di semua lini, baik layanan rawat jalan, rawat inap, dan rawat darurat. Ini merupakan dampak dari pengetatan skrining pasien yang datang ke RSUD Dr. Soetomo. Di titik admisi pasien, semua pasien dilakukan skrining ketat menggunakan sistem skoring yang dikembangkan oleh Tim Khusus Penyakit Infeksi RSUD Dr. Soetomo. Pengurangan jumlah pasien juga akibat banyaknya ruangan yang sebelum pandemi digunakan sebagai ruang rawat inap normal, saat pandemi digunakan sebagai ruang isolasi khusus pasien COVID-19. Faktor lain yang mempengaruhi jumlah pasien adalah kekhawatiran masyarakat sendiri terhadap dampak penyakit ini.

Untuk mencegah penyebaran antar tenaga kesehatan dan peserta didik, RSUD Dr. Soetomo bersama Fakutas Kedokteran Universitas Airlangga melakukan upaya preventif dengan menata ulang proses belajar mengajar. Saat ini semakin banyak perguruan tinggi dan universitas di seluruh negeri, termasuk Universitas Airlangga, yang memilih meniadakan kelas tatap muka untuk menyikapi dampak situasi Covid-19. Lantas, pembahasan terkait program pendidikan saat ini beralih ke topik rencana kesinambungan akademis jangka panjang karena Indonesia masih terus berupaya menghadapi dampak Covid-19. Untuk peserta didik di tingkat S1, semua pembelajaran tatap muka diganti menjadi pembelajaran melalui daring. Pada tahapan pendidikan profesi dokter, jadwal putaran dibagi menjadi 2 bagian, dengan bagian pertama dilakukan melalui daring dan bagian kedua dilakukan secara luring. Syarat pembelajaran luring adalah apabila jumlah kasus sudah mulai mereda, dan sudah jelas kesiapan antara penyedia proses pembelajaran dan mahasiswa yang akan belajar.

Bagi peserta didik Pendidikan Spesialis-1 tentu akan sulit bila murni daring karena selain belajar mereka juga memberikan layanan langsung kepada pasien di bawah supervise dokter penanggung jawab pelayanan. Untuk memberikan pengalaman professional sambil menyeimbangkan dengan mengurangi risiko penularan COVID-19, maka departemen membuat aturan 10 hari bekerja dan 20 hari bekerja dari rumah. Pekerjaan dari rumah dapat berupa membuat karya ilmiah, mengikuti pembelajaran daring di webinar, atau melakukan tugas administrative yang tidak mensyaratkan kehadiran fisik di rumah sakit. Walaupun tidak dapat melindungi seratus persen dari bahaya penularan, langkah ini dinilai efektif mengurangi risiko.

Dalam konteks serba keterbatasan ini, pintu pembelajaran lain terbuka luas yaitu pembelajaran daring. Tumbuh dan berkembang pesatnya proses daring ini membuka sekat batas bahkan antar Negara. Suatu keuntungan finansial yang sangat besar untuk dapat belajar dari para ahli di seluruh dunia secara gratis melalui webinar yang mereka selenggarakan. Merebaknya tukar informasi di dunia maya ini juga membuka banyak peluang lain seperti telemedisin dan telekonfrenesi yang sebelumnya dianggap sulit untuk dilaksanakan.

Penulis: Wihasto Suryaningtyas

Artikel mengenai Layanan Bedah Saraf di Masa Pandemi ini dimuat di Jurnal Scopus (Q1):

Neurosurgery at the epicenter of the COVID-19 pandemic in Indonesia: experience from a Surabaya academic tertiary hospital. Neurosurg Focus 49 (6):E5, 2020 Available at:

https://thejns.org/focus/view/journals/neurosurg-focus/49/6/article-pE5.xml

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu