Media Audio Visual Promosi Kesehatan di Ruang Tunggu Puskesmas

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
SEJUMLAH orang berada di ruang tunggu puskesmas. (Foto: Puskesmas Bantul)
SEJUMLAH orang berada di ruang tunggu puskesmas. (Foto: Puskesmas Bantul)

Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan primer yang mengutamakan upaya promotif dan preventif kepada individu dan masyarakat guna mencapai derajat kesejahteraan tertinggi di wilayahnya. Promosi Kesehatan merupakan kegiatan utama yang dilakukan, namun masih sulit dilaksanakan. Promosi Kesehatan adalah upaya mendorong kemandirian, mengembangkan kegiatan berbasis masyarakat yang sesuai dengan sosial budaya setempat, dan didukung oleh kebijakan yang berorientasi pada kesehatan masyarakat.

Selain itu, promosi kesehatan dipandang sebagai penyampaian informasi terkait kesehatan untuk mempengaruhi nilai-nilai, sikap, dan motivasi seseorang / kelompok serta mengubah perilaku kesehatannya. Penyampaian pesan promosi kesehatan melalui media (leaflet, poster, dan video) kepada masyarakat Puskesmas diharapkan dapat membantu menyampaikan informasi terkait kesehatan kepada pasien dan pengunjung. Termasuk menciptakan sikap yang baik dan positif untuk membina dan mengembangkan suasana yang sesuai untuk memperoleh ilmu yang relevan. Tantangan utama dalam penelitian ini adalah kurangnya informasi mengenai respon pengunjung rawat jalan Puskesmas terhadap media edukasi audio visual di ruang tunggu, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Desain dan Metode

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain eksperimental yang melibatkan pembuatan video dan informasi tentang layanan yang tersedia di ruang tunggu. Proses ini membutuhkan penggunaan perangkat lunak Sparkol Videoscript: di mana video yang dihasilkan berisi musik, gambar, dan kata-kata, masing-masing berdurasi 60-180 detik. Video edukasi meliput layanan kesehatan masyarakat serta perilaku terkait.

Video tersebut ditampilkan di ruang tunggu pengunjung, termasuk area pendaftaran, perawatan umum, pemeriksaan ibu hamil, dan perawatan gigi, serta tempat pengambilan obat dan uang tunai. Sampel terdiri atas 124 pengunjung yang berusia di atas 18 tahun. Responden dipilih dengan menggunakan sampling acak sistematis.

Selain itu, pendataan dilakukan dalam dua minggu pertama pemasangan media video di ruang tunggu Puskesmas. Analisis data menggunakan Regresi Ordinal untuk mengidentifikasi kekuatan masing-masing faktor dalam mempengaruhi perhatian pasien.

Hasil

Jumlah responden penelitian hampir sama, baik responden laki laki maupun perempuan. Tingkat pendidikan tertinggi adalah SLTA dan sebagian besar peserta adalah petani. Sedangkan usia peserta terdistribusi secara merata.

Persepsi keparahan penyakit diperoleh melalui pengukuran yang dilakukan dengan skala diferensial semantik pada kisaran 0-10. Hasil penelitian menunjukkan 0 sebagai nilai derajat keparahan terendah, sedangkan tertinggi dicapai pada titik 3, dengan rata-rata persepsi 3.411, dan standar deviasi 1.672.

Nilai-nilai tersebut menunjukkan tingkat keparahan yang ringan. Karena itu, puskesmas diasumsikan memberikan pelayanan dasar / esensial kepada masyarakat terdekat. Sebagian besar responden (44,35%) memandang kondisi lingkungan di ruang tunggu sebagai sumber gangguan ringan. Sebagian besar responden (52,42%) tidak melakukan kegiatan apa pun saat menunggu. Namun, beberapa individu cenderung melakukan tindakan ringan, termasuk berbicara, dan menggunakan ponsel, sementara sebagian kecil berpartisipasi dalam aktivitas sedang, seperti menggendong atau mengajak anak-anak bermain.

Tingkat perhatian responden menunjukkan tingkat perhatian yang sedang hingga tinggi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh variabel keparahan penyakit, lingkungan, dan aktivitas responden mempengaruhi perhatian pengunjung Puskesmas terhadap video yang ditampilkan.

Beberapa perbedaan yang diamati antara kedua jenis kelamin dalam tingkat perhatian yang diberikan pada suatu objek menunjukkan perempuan memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk memperhatikan item simbolik. Namun demikian, hasil penelitian menunjukkan jenis kelamin tak berpengaruh signifikan pada perhatian responden terhadap video audio visual di ruang tunggu Puskesmas.

Hasil penelitian juga menunjukkan tingkat pendidikan yang lebih tinggi memiliki perhatian yang lebih baik. Sedangkan tentang jenis pekerjaan, tidak ada pengaruh jenis pekerjaan terhadap tingkat perhatian pengunjung. Status kesehatan atau kondisi biologis seseorang sangat mempengaruhi perhatian. Sebagian besar responden (44,35%) menggambarkan situasi lingkungan di ruang tunggu sebagai sumber gangguan ringan yang selanjutnya mempengaruhi derajat perhatian. Hasil yang diperoleh juga menunjukkan rendahnya kemampuan lingkungan puskesmas dalam mempengaruhi perhatian, yang kemungkinan disebabkan jumlah pengunjung, dan kebisingan yang relatif.

Berdasar hasil dan pembahasan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa perhatian yang dikaitkan dengan media edukasi audiovisual dipengaruhi oleh usia pengunjung, tingkat keparahan penyakit pasien, situasi lingkungan dan aktivitas pengunjung. Jenis kelamin, tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan tidak mempengaruhi perhatian individu terhadap media pendidikan audiovisual. (*)

Penulis: Dr. Sri Widati.,S.Sos.,M.Si (Dosen Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku FKM Universitas Airlangga)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7445667/

Anas Tamsuri and Sri Widati. (2020). Factors influencing patient attention toward audiovisual-health education media in the waiting room of a public health center. Journal of Public Health Research, 9(2): 1807; doi: 10.4081/jphr.2020.1807

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu