Mahasiswa UNAIR Melihat Keterbatasan Kuliah Online dari Sudut Pandang Positif

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dari Kiri: Halfie Zaqiyah Gusti Puspitasari, Alfina Rossa, Zanna Afia Deswari

UNAIR NEWS – Pandemi Covid-19 berdampak pada berbagai bidang kehidupan, termasuk pada sistem perkuliahan di Universitas Airlangga (UNAIR) yang berganti menjadi sistem online dan atau blended learning. Seluruh civitas akademika dituntut untuk dapat beradaptasi dengan kondisi tersebut untuk mencegah penyebaran virus.

Meski demikian, ada hal-hal positif yang dapat diambil hikmahnya oleh mahasiswa UNAIR. Salah satunya adalah Halfie Zaqiyah Gusti Puspitasari, mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan para program studi mahasiswa S1 Pendidikan Ners.

Selama menjalani perkuliahan secara daring, Halfie merasa mendapatkan banyak pengalaman baru. Meski pergerakan dibatasi, menurutnya, dampak positif dari perkuliahan online adalah menambah sudut pandang baru.

Menurut Halfie, selama pandemi waktu kuliah menjadi lebih fleksibel. Ia juga memiliki waktu luang lebih banyak untuk melakukan pengembangan diri, hingga terbukanya relasi baru karena jaringan komunikasi dalam suatu acara hingga tingkat internasional.

“Dampak pembelajaran online selama setahun tergantung dari kita menyikapinya. Karena dunia tidak akan berhenti dan ilmu pengetahuan tidak akan mati. Oleh karena itu kita yang harus pandai menyikapi dan menempatkan diri,” jelas mahasiswa angkatan 2017 itu.

Kuliah Online Mempertemukan Mahasiswa dengan Sosok Baru

Selain Halfie, Alfina Rossa atau yang akrab disapa Rossa merasa bahwa dirinya cukup enjoy dalam mengikuti perkuliahan online, meski terkadang tugas yang diberikan lebih banyak dibanding perkuliahan biasa. Meski begitu, mahasiswa program studi S1 Ilmu Komunikasi itu sempat merasa kesulitan menjalani kuliah online karena sinyal di kampung halaman sangat susah hingga membuatnya sempat terpikirkan untuk kembali ke Surabaya.

“Bersyukur banget provider ngerti karena tiba-tiba sinyal jadi lancar dipakek untuk Zoom. Udah nggak ada masalah,” terang mahasisa angkatan 2018 itu.

Selain itu, menurut Rossa, kelas yang diadakan secara online justru mempertemukan mahasiswa dengan seseorang yang belum tentu dapat ditemui ketika perkuliahan biasa. Hal tersebut karena di jurusannya sering mengadakan kelas yang dibuat dalam bentuk webinar dengan menghadirkan dosen dari luar negeri atau luar kampus.

Penugasan yang Bervariatif

Zanna Afia Deswari mahasiswa S1 Ilmu Informasi dan Perpustakaan UNAIR merasa bahwa perkuliahan online membuat penugasan yang diberikan oleh dosen menjadi lebih bervariatif. Tidak hanya diminta untuk membuat makalah atau resensi, namun juga diminta untuk membuat video, podcast, atau proyek lain yang dapat mengasah kreativitas dan skill mahasiswa.

“Aku pribadi sangat mengapresiasi upaya kampus, dosen, dan juga temen-temen mahasiswa dalam mengoptimalkan perkuliahan daring. Meskipun tidak mudah, tapi setidaknya kita bisa belajar banyak hal dan mengambil hikmah dari pelaksanaan kuliah daring ini,” terang mahasiswa angkatan 2017 tersebut.

Akrab dengan Teknologi

Lucke Putri Anjani mahasiswa S1 Ilmu Hukum angkatan 2019 merasa bahwa kuliah online membuatnya menjadi jauh lebih akrab dengan teknologi. Menurutnya, kegiatan pembelajaran juga sudah terselenggara dengan baik meski ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan seperti performa AULA.

“Mungkin yang perlu ditingkatkan adalah performa dari AULA, yang terkadang bisa down saat diakses banyak mahasiswa secara bersamaan, khususnya pada saat ujian,” terangnya.

Kendala tersebut juga diamini oleh Candra Rizal Sabili atau Candra, kakak tingkat Lucke yang merupakan angkatan 2017. Menurut Candra, dirinya menjadi lebih was-was ketika menjalani ujian atau kuis secara online karena khawatir sewaktu-waktu jaringan internet mati, hilang, atau laman ujian tertutup.

“Masalah yang paling krusial yaitu ketika jaringan internet tidak stabil sehingga tidak bisa mengikuti mata kuliah yang bersangkutan, ketika dipanggil dosen dan tidak menyahut dianggap tidak masuk, sering terjadi miskomunikasi, dan pengeluaran kuota internet bertambah,” lanjutnya.

Hambatan tersebut juga dialami oleh Farhan Fahrudin Subianto, mahasiswa S1 Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan. Menurut mahasiswa angkatan 2017 itu, selain karena jaringan kurang stabil, akses mahasiswa untuk bertanya kepada dosen menjadi lebih lebih sulit karena seringkali jawaban dari dosen tidak sesuai dengan maksud pertanyaan mahasiswa.

Dari Kiri: Lucke Putri Anjani, Candra Rizal Sabili, Farhan Fahrudin Subianto

“Kelas online rasanya lebih mudah, namun sayangnya penyerapan ilmunya justru lebih sulit serta kurang ketatnya pengawasan mendorong pudarnya tanggung jawab mahasiswa dalam menempuh pendidikan,” pungkasnya. (*)

Penulis : Galuh Mega Kurnia

Editor : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu