Kesan Mahasiswa Jalani Kuliah Online, Dari Buat Manekin Hingga Mengganti Alat Praktikum

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ayik Rochyatul Jannah mahasiswa S1 Pendidikan Dokter usai melakukan praktikum perkuliahan saat kuliah online dari rumah. (Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Pandemi Covid-19 berdampak pada berbagai bidang kehidupan, termasuk pada sistem perkuliahan di Universitas Airlangga (UNAIR) yang berganti menjadi sistem online dan atau blended learning. Seluruh civitas akademika dituntut untuk dapat beradaptasi dengan kondisi tersebut untuk mencegah penyebaran virus.

Selama hampir setahun menjalani perkuliahan di saat pandemi Covid-19, berikut adalah kesan dan pesan mahasiswa UNAIR dari berbagai angkatan dan jurusan saat dihubungi oleh UNAIR News pada Senin (28/12/2020).

Pengalaman Menjalani Blended Learning

Mahasiswa D3 Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Vokasi Ratna Aulia Dewi Ananto atau yang akrab disapa Ratna merasa dituntut untuk dapat beradaptasi dalam menjalani perkuliahan secara blended learning. Salah satu hal yang berkesan menurutnya adalah beberapa mata kuliah terkait praktikum harus ditunda dan bahkan ditiadakan.

Selain itu, hal yang membuat Ratna cukup kewalahan adalah dosen yang memberi tugas lebih banyak dari pada saat perkuliahan tatap muka.

“Mengikuti perkuliahan saat pandemi Covid-19 dengan metode baru dan dengan segala keterbatasannya belum pernah terpikirkan sebelumnya,” ucap mahasiswa angkatan 2018 tersebut.

Pada beberapa mata kuliah yang harus dilakukan secara offline, Ratna merasa protokol kesehatan sudah dilaksanakan dengan baik. Mulai dari pembagian sesi kelas praktikum, kewajiban menggunakan masker, kewajiban menggunakan sarung tangan lateks ketika memegang alat tertentu, dan pada beberapa kesempatan juga diminta untuk memakai baju hazmat.

Selain Ratna,Rifda, mahasiswa peminatap Epidemiologi S1 Kesehatan Masyarakat merasa bahwa kelebihan blended learning adalah ketika kuliah secara online, tempat belajar dapat diatur sendiri sesuai dengan kenyamanan. Selain itu, rekaman perkuliahan dapat diminta untuk dipelajari kembali.

Sementara kekurangannya, menurut Rifda adalah tidak ada kesempatan bertatap muka dengan dosen dan mahasiswa, sehingga kehidupan sosial di perkuliahan menjadi lebih renggang.

“Kekurangan yang lain adalah tugas praktikum yang diganti dengan video simulasi sulit dipahami, sulit untuk fokus, dan gangguang di sekitar yang membuat proses belajar terganggu,” jelasnya.

Ketika melakukan praktikum secara offline, mahasiswa angkatan 2017 tersebut merasa protokol kesehatan yang diterapkan sudah bagus. Namun, protokol terkait jaga jarak masih sulit untuk dilakukan terlebih oleh mahasiswa.

Membuat Manekin Sendiri untuk Praktikum Online

Sementara itu, Ayik Rochyatul Jannah mahasiswa S1 Pendidikan Dokter angkatan 2017 merasa perkuliahan secara offline membuatnya lebih paham dengan materi yang disampaikan oleh dosen dibanding saat perkuliahan secara online. Menurutnya, kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa kedokteran adalah ketika mata kuliah praktikum.

“Saat praktikum online, selain tidak begitu paham saat dijelaskan oleh dosen juga karena kita terbatas manekinnya sehingga harus membuat sendiri dengan bahan yang ada untuk dimodifikasi agar sesuai dengan yang asli,” ucap Ayik.

Manekin tersebut, menurut Ayik, digunakan untuk praktikum pada mata kuliah Clinical Cmprehensive Skill (CCS) dan Ketrampilan Medis. Selain membuat manekin, Ayik dan teman-teman seperjuangannya harus memanfaatkan peralatan dengan bentuk mirip alat aslinya agar bisa digunakan untuk praktikum.

Seperti penggunaan spidol besar sebagai pengganti spet 50cc, bolpoin sebagai penlight, kabel USB sebagai pengganti pipa lambung, hingga jepit jemuran sebagai pengganti pulse oximeter.

Karena menginjak koas (co-assistant), pada semester depan Ayik berharap perkuliahan bisa dilaksanakan secara offline. Sebab pada saat koas itu lah, mahasiswa kedokteran dituntut untuk dapat mempraktikkan ilmu secara langsung kepada pasien.

“Untuk semester depan ini kan aku dan temen-teman insya Allah sudah koas, jadi harapannya bisa offline walau hanya beberapa waktu. Karena ini waktu yang tepat buat kami belajar langsung ke pasien,” ucap Ayik. (*)

Penulis: Galuh Mega Kurnia

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu