Pentingnya Pola Kelahiran dalam Mendukung Program Inisiasi Menyusui Dini

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Orami

Inisiasi menyusui dini adalah kunci berharga untuk memberikan permulaan hidup yang terbaik bagi bayi baru lahir, serta memungkinkan mereka untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Inisiasi Menyusui Dini dalam satu jam pertama kelahiran dapat menurunkan risiko kematian dan morbiditas bayi. Inisiasi menyusu dini memastikan bahwa bayi baru lahir akan menerima kolostrum, yang mengandung nutrisi penting, antibodi, komponen imunologi, dan faktor pertumbuhan yang berperan penting dalam tumbuh kembang, serta membangun sistem kekebalan tubuh bayi.

Manfaat lain yang diperoleh dari inisiasi menyusu dini adalah memperkuat ikatan ibu dan bayi, menurunkan risiko perdarahan postpartum, menurunkan risiko obesitas pasca persalinan, memperpanjang jarak kelahiran, dan menurunkan risiko kanker payudara dan ovarium pada ibu hamil. Meskipun WHO telah merekomendasikan agar ibu mulai menyusui dalam satu jam pertama kelahiran, 3 dari 5 bayi baru lahir di seluruh dunia telah menunda inisiasi menyusui dini tersebut.

Indonesia juga menghadapi situasi yang sama dalam meningkatkan pemberian ASI dini dan tetap menjadi tantangan. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukkan bahwa lebih dari separuh bayi baru lahir (50.7%) mengalami penundaan inisiasi menyusu.

Pemahaman pola inisiasi menyusu yang tertunda berdasarkan urutan dan interval kelahiran sangat penting untuk menentukan strategi yang sesuai untuk memastikan pemberian ASI dini kepada semua bayi baru lahir. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan urutan kelahiran dan interval dengan inisiasi menyusui yang tertunda di Indonesia. Studi yang kami lakukan dengan menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 menemukan bahwa 40,2% bayi baru lahir di Indonesia tidak menerima inisiasi menyusu tepat waktu. Pola kelahiran secara signifikan terkait dengan inisiasi menyusui yang tertunda. Anak sulung memiliki kemungkinan 77% lebih tinggi untuk mengalami penundaan inisiasi menyusui dini (dengan AOR sebesar 1,77; 95% CI, 1,02 – 3,04; p <0,05) dibandingkan anak dengan urutan kelahiran 4 atau lebih tinggi dan interval kelahiran ≤ 2 tahun. 

Kelahiran pertama merupakan fase penting di mana ibu memulai peran barunya. Mempersiapkan ibu yang baru pertama kali melahirkan tentang apa yang harus mereka lakukan di hari-hari awal setelah melahirkan merupakan investasi yang baik, terutama terkait praktik menyusui. Selain itu, penyedia layanan kesehatan dapat memberikan perhatian khusus kepada ibu yang baru pertama kali datang dengan menjadi terbiasa dengan kebutuhan mereka terkait dengan persiapan menyusui. Dukungan yang kuat dari suami, anggota keluarga lainnya, serta lingkungan sosial dapat menjadi sistem pendukung yang kuat untuk mendorong ibu yang baru pertama kali mulai menyusui.

Penulis: Tama, T. D., Astutik, E., Katmawanti, S., & Reuwpassa, J. O

Informasi lebih detail mengenai artikel ini dapat dilihat di:

Tama, T. D., Astutik, E., Katmawanti, S., & Reuwpassa, J. O. (2020). Birth Patterns and Delayed Breastfeeding Initiation in Indonesia. Journal of Preventive Medicine and Public Health53(6), 465. Doi: 10.3961/jpmph.20.212 

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu