Diabetes Melitus Tipe-1 dan Pandemi Covid-19

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh halodoc

Saat ini sudah hampir 1 tahun berlangsungnya Pandemi Covid-19. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan wabah COVID-19 sebagai darurat kesehatan masyarakat. Lebih dari 54 juta orang di seluruh dunia diketahui terinfeksi dan lebih dari 1 Juta orang telah meninggal dunia (data per 18 November 2020). Pada masa pandemi COVID-19, Orang lanjut usia (lansia) dan orang dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya seperti Diabetes Melitus (DM) lebih rentan untuk menjadi sakit parah akibat virus COVID-19.

DM merupakan salah satu penyakit yang dilaporkan beresiko mengalami infeksi terkait kondisi kesigapan imun yang terganggu (imunokompromised). DM pada anak yang sering dilaporkan adalah DMT1. Presentasi awal diagnosis DMT1 ini dapat berupa komplikasi akut dengan ketoasidosis diabetikum pada lebih kurang 40-50 % pasien. Adanya infeksi pada penderita DMT1 juga menyebabkan resiko untuk mengalami komplikasi akut KAD ini. 

DMT1 anak sebagian besar diperantarai proses autoimun. Dimana terjadi gangguan pengenalan self dan non self pada badan penyandang DMT1 yang bisa disebabkan faktor genetic, yaitu terjadinya polimorfisme gen.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Huang I et al dengan melakukan meta-analisis komprehensif dari 30 penelitian menunjukkan bahwa DM dikaitkan dengan out come yang buruk. Hal ini terutama terkait dengan usia dan kejadian hipertensi yang mengakibatkan keparahan ketika terinfeksi COVID-19, ARDS, dll hingga kematian.

International diabetes federation (IDF) merekomendasi beberapa hal tentang pengelolaan dan pencegahan COVID-19. Rekomendasi ini dibuat bersama oleh JDRF – Beyond Type 1 Alliance dan juga didukung oleh American Diabetes Association, Harvard Medical School dan The International Society for Pediatric and Adolescent Diabetes (ISPAD), diantanya kadar gula darah rata-rata yang meningkat pada individu dengan diabetes adalah faktor risiko yang dapat mengakibatkan keparahan pada pasien dengan COVID-19. Sehingga penting untuk melakukan uji kadar gula darah lebih sering; hubungi dokter atau ahli kesehatan melalui telepon / telehealth jika memungkinkan untuk mendapatkan nasihat manajemen diabetes pribadi, dan diasakan diri dengan cara memeriksa keton, terutama jika kadar dula darah tinggi.

Kelebihan berat badan / obesitas merupakan faktor risiko utama untuk outcome yang buruk – memaksimalkan kesehatan fisik dan mental dasar untuk meningkatkan kekebalan fisik. Jika kelebihan berat badan, berusahalah menuju berat badan yang lebih ideal. Siapkan makanan di rumah menggunakan makanan utuh dan tetap terhidrasi. Pastikan untuk berolahraga, di rumah atau di area luar ruangan di mana dapat dengan mudah menjaga jarak dari orang lain. Dapatkan cukup tidur berkualitas – kebanyakan orang dewasa membutuhkan 7+ jam per malam, anak-anak membutuhkan lebih banyak (setidaknya 9 jam). Buat lingkungan seaman mungkin, termasuk pasien yang kembali sekolah -. Belajar dari rumah sebisa mungkin. Koordinasikan dengan keluarga dan sekolah serta anjuran pemerintah. Jika ke tempat umum, pastikan memenuhi anjuran protokol kesehatan. Deteksi dini COVID-19 – jika sakit, segera diobati. Ukur suhu setiap hari dengan termometer dan ukur detak jantung dengan jam tangan.  Tindakan pencegahan dasar dapat menyelamatkan nyawa – lanjutkan kebiasaan kebersihan pribadi yang ketat. Cuci tangan setiap kali bersentuhan dengan barang atau tempat di luar rumah. Kenakan masker  dan penutup wajah/kaca mata medis setiap kali keluar rumah. Hindari kontak yang terlalu lama dengan partikel aerosol – mis. ruangan dalam ruangan dengan ventilasi rendah, terutama yang menampilkan percakapan keras atau nyanyian. Disinfeksi permukaan bersentuhan tinggi secara teratur di rumah Anda, batuk atau bersin ke siku atau tisu, dan hindari menyentuh wajah Anda. Bekerja dengan menjaga jarak sosial – terus meminimalkan interaksi fisik dengan orang lain. Minimalkan kontak dengan individu di luar rumah. Pertahankan jarak setidaknya 2 meter / 6 kaki dari orang lain. Minimalkan perjalanan ke luar rumah. Keluarga dapat memilih perawatan medis rutin dari rumah, dengan memanfaatkan opsi farmasi telehealth. Sesuaikan jadwal untuk menghindari waktu sibuk di tempat umum. Manfaatkan waktu belanja khusus untuk individu yang rentan jika tersedia.

Penulis: dr. Nur Rochmah Sp.AK

Sumber: Huang, I., Lim A, M., Pranata, R. 2020. Diabetes mellitus is associated with increased mortality and severity of disease in COVID-19 pneumonia – A systematic review, meta-analysis, and meta-regression, 14(4): 395–403.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu