Bahan Samping Pengolahan Rumput Laut sebagai Substitusi Pasir pada Pembuatan Bata Ringan (CLC)

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI hasil bata. (Sumber: Dokumentasi pribadi)
ILUSTRASI hasil bata. (Sumber: Dokumentasi pribadi)

Pengolahan rumput laut, khususnya spesies Kappaphycus alvarezii, menjadi produk karaginan membuahkan hasil samping yang cukup melimpah. Sebanyak 30-40% dari berat kering rumput laut kering dikonversi menjadi produk karaginan dan sekitar 60-70% menjadi bahan samping yang jarang termanfaatkan. Hasil samping ini terbagi menjadi dua bentuk, yakni hasil samping padatan dan hasil samping cair. Bahan samping padatan tersebut kaya akan selulosa, protein dan bahan lainnya yang masih memiliki nilai guna. Hasil samping pengolahan rumput laut  memiliki potensi menjadi berbagai produk bernilai guna. Salah satunya sebagai filler dari bahan baku pembuatan bata ringan

Bata ringan merupakan salah satu material bangunan yang dikembangkan dengan konsep awal seperti bata merah pada umumnya, tapi memiliki karakteristik banyak rongga. Rongga ini  menyebabkan adanya udara di dalam bata ringan sehingga mempunyai berat yang lebih ringan jika dibandingkan dengan bata merah pada volume yang sama. Bata ringan telah banyak dilaporkan dan juga dinilai lebih kuat dari pada bata konvensional. Rongga yang dimiliki bata ringan dapat menahan goncangan sehingga tidak menyebabkan patah saat terkena goncangan yang cukup keras.

Kami memiliki hipotesa bahwa hasil samping padat pada industri rumput laut berpotensi mensubstitusi bahan campuran pasir pada pembuatan bata ringan CLC (Cellular Leightweight Concrete). Hal ini disebabkan bentuk dari hasil samping industri rumput laut berupa butiran kecil mirip pasir. Selain itu, pada hasil samping ini, masih terdapat kandungan selulosa. Di mana selulosa dapat menyebabkan struktur yang lebih kompak dan kuat.

Bahan yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan bata ringan, yaitu bahan samping diperoleh dari industri rumput laut, pasir, semen Portland merk Semen Gresik yang digunakan sebagi perekat, sikamen LN, air, dan foam agent. Penelitian dilaksanakan dengan metode experimental dan diproduksi dengan bekerja sama dengan produsen bata ringan di mana diharapkan hasil dari penelitian dapat diaplikasikan langsung di lapangan.

Pembuatan bata ringan diawali denganmembuat adonan antara semen dan pasir. Hasil samping padat yang telah disaring, air, dan sikamen LN diaduk hingga adonan tercampur sampai homogen. Adonan ditambahkan dengan foam agent,lalu diaduk hingga tercampur rata. Adonan kemudian dihitung berat jenisnya terlebih dahulu sebelum dicetak. Adonan yang telah tercampur kemudian dimasukkan ke dalam cetakan bata ringan silinder dan dibiarkan sampai mengering. Setelah mencapai hari ke-3, bata ringan dikeluarkan dari cetakan, kemudian dikeringkan selama 28 hari. Setelah mencapai umur 28 hari, bata ringan dikarakterisasi sesuai dengan parameter yang direkomendasikan oleh standard national Indonesia (SNI) untuk bata ringan.

Evaluasi produk bata ringan didasarkan pada parameter, antara lain, kuat tekan, kuat tarik belah, dan berat jenis. Kuat tekan dan kuat tarik belah merupakan parameter utama dalam menentukan kekuatan bata ringan. Kekuatan bata ringan selain dipengaruhi oleh bahan penyusunnya, dipengaruhi oleh usia dari bata ringan tersebut. Seiring bertambahnya masa simpan, kekuatan semen dalam  ikatan akan semakin baik. Hal ini disebabkan semen di dalam produk akan terus memperkuat ikatan antara bahan penyusun dengan waktu optimal 28 hari. Kami menduga bahwa kandungan zat selulosa di dalam hasil samping padat industri rumput laut dapat membantu memperkuat ikatan di dalam bata ringan tersebut.

Pada uji kualitas kuat tekan bata ringan, besar kuat tekan pada bata ringan semakin meningkat dengan bertambahnya penambahan bahan hasil samping. Perlakuan terbaik terdapat bata ringan dengan perlakuan hasil samping sebesar 50 % dengan besar 1,21 MPa. Sedangkan bata ringan tanpa penambahan hasil samping mempunyai besar kuat tekan sebesar 0,86 MPa. Menurut standar kekuatan daya tekan bata ringan minimal sebesar 0,7 MPa. Sehingga kami berpendapat produk yang kami hasilkan dapat menyerupai kualitas produk bata ringan di pasaran. Kekuatan daya tekan bata ringan ini disebabkan kuatnya ikatan di dalam bata ringan antar bahan penyusunnya.

Hasil uji kuat tarik belah pada penelitian menunjukkan bahwa seiring bertambahnya konsentrasi hasil samping yang disubstitusikan ke dalam produk bata ringan, kuat tarik belah bata ringan mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan kandungan selulosa yang terdapat pada hasil samping membentuk ikatan yang kuat dan panjang sehingga menyebabkan ikatan antar bahan yang digunakan di dalam bata ringan semakin rapat dan kuat. Kuat tarik belah yang semakin baik dapat membuat kualitas bangunan yang dihasilkan semakin baik. Hal ini dikarenakan semakin tinggi kuat tarik belah, maka bangunan tersebut dapat mengurangi resiko bata ringan tersebut saat dipasang retak dan terbelah saat proses saat pengangkutan.

Produk bata ringan yang kami hasilkan menunjukkan hasil berat jenis yang semakin meningkat setiap kenaikan konsentrasi hasil samping yang disubstitusikan. Berat jenis terendah terdapat pada perlakuan tanpa limbah dengan besar 0,77  kg/l dan berat jenis tertinggi terdapat pada perlakuan konsentrasi hasil samping 50 % dengan besar 0,87 kg/l.

Dari berbagai parameter di atas, kami menyimpulkan bahwa hasil samping industri rumput laut dapat mempengaruhi terhadap kualitas dan dapat digunakan sebagai substitusi pasir dalam pembuatan bata ringan Cellular Lightweight Concrete (CLC). (*)

Penulis: Annur Ahadi Abdillah dan Andhika Alfa Musthofa

Informasi detail mengenai penelitian ini dapat diakses melalui tautan :

http://www.envirobiotechjournals.com/PR/v29i220/Poll%20Res-13.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu