Studi In-Vivo dari Implan Kornea Buatan berbasis Kolagen – Kitosan – Sodium Hyaluronate

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi kornea manusia. (Sumber: Tekno Tempo.co)

Kornea memiliki fungsi krusial dalam melindungi mata dari kemungkinan bahaya yang ada. Sebagai pelindung dari mata, kornea sering kali mengalami kerusakan baik disebabkan oleh malnutrisi, infeksi, maupun benturan. Kerusakan kornea tidak dapat dianggap sepele, karena kerusakan kornea menjadi peringkat kedua penyebab kebutaan tertinggi setelah katarak. Sebanyak 285 juta orang di dunia mengalami kebutaan dengan 3 juta di antaranya terjadi di Indonesia. Dengan angka yang tinggi, diprediksi tiap satu menit terdapat satu orang yang mengalami kebutaan di Indonesia.

Hingga saat ini, solusi terbaik dari penanganan kerusakan kornea adalah keratoplasty yaitu transplantasi kornea dari donor terhadap pasien. Meskipun begitu, terdapat banyak penolakan tubuh terhadap tindakan keratoplasty ini hingga pada bulan ke-20 pasca operasi. Terdapat 49% kemungkinan kegagalan operasi dan terdapat banyaknya kornea donor yang tidak standar akibat jaringan yang juga rusak. Potensi adanya donor kornea hanya satu dari 70 orang pasien di seluruh dunia. Jumlah yang kecil tersebut diimbangi dengan persebaran potensi donor yang tidak merata.

Terdapat berbagai penelitian mengenai jaringan kornea guna membuat implan kornea buatan dan mengatasi kekurangan jumlah donor kornea di dunia. Penelitian yang dilakukan oleh Chen pada thaun 2005 dilakukan untuk menganalisis pemanfaatan dari implan kornea buatan berbasis kolagen yang ditambah dengan kitosan dan sodium hyaluronate.

Implan kornea buatan dibuat dengan cara melarutkan kitosan dan kolagen dalam asam asetat dengan kekentalan berbeda. Larutan dari kolagen kemudian dicampur secara crosslink dengan HPMC dan disterilkan dengan larutan kitosan. Kemudian dilakukan penambahan sodium hyaluronate (NaHA) dengan variasi 0%, 0.3% dan 0.6%. Tiga sampel tersebut pun diuji untuk mengetahui respon tubuh terhadap implan kornea buatan tersebut.

Dilakukan uji sitotoksititas yaitu potensi penolakan tubuh dan merusaknya bahan terhadap sel di sekitarnya. Uji sitotoksisitas dilakukan dengan metode MTT Assay test. Tingkat sitotoksisitas yang didapat dari pengujian sampel menunjukkan bahwa ketiga sampel tidak tergolong toksik dengan tingkat sitotoksisitas terendah dicapai oleh sampel dengan variasi 0.6% NaHA. Sampel kemudian diuji secara In-Vivo pada kelinci New Zealand. Secara makro dan mikro, dilakukan pengamatan pada delapan pekan pasca operasi implan.

Dari uji In-Vivo yang dilakukan, tidak ditemukan adanya tanda-tanda inflamasi dan kerusakan dari implan maupun sel di sekitarnya. Pusat penglihatan dari hewan uji pun jernih dan tidak terganggu. Selain uji secara makro, dilakukan uji secara mikro dengan mengamati perbedaan dari hewan uji yang diberi implan korrnea buatan dan tanpa penambahan implan kornea buatan. Didapatkan bahwa ketebalan dari implan kornea buatan setelah 8 pekan pemasangan memiliki ketebalan yang sama dengan kornea asli.

Dari seluruh uji yang dilakukan baik secara makro maupun mikro, didapatkan hasil uji yang menunjukkan bahwa implan kornea buatan berbasis kitosan berpotensi diproduksi karena bersifat kompatibel dengan tubuh. Adanya penambahan kolagen juga menambah karakter perlindungan dari kornea yang menahan serangan racun dan patogen. Terdapat potensi pengembangan lebih lanjut baik dari segi struktur stroma, pertumbuhan jaringan epitel, dan rendahnya tingkat inflamasi yang perlu dicapai seluruhnya agar implan kornea buatan memiliki kualitas yang optimal.

Penulis: Prihartini Widiyanti

Artikel lengkapnya dapat dilihat pada link berfikut ini:

http://www.jidmr.com/journal/wp-content/uploads/2020/09/68-M20_1106_Prihartini_Widiyanti_Indonesia.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu