Pengaruh Sodium Hyaluronate terhadap Karakteristik Implan Kornea Buatan berbasis Kolagen-Kitosan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi kornea buatan. (Sumber: HiTekno.com)

Kornea yang terletak di bagian depan mata manusia memiliki tingkat rawan kerusakan yang tinggi. Dampaknya mulai dari gangguan penglihatan ringan hingga kebutaan. Kerusakan kornea dapat disebabkan oleh adanya infeksi, malnutrisi, inflamasi, keturunan, bahkan benturan. Sejumlah 36 juta kasus kebutaan terjadi akibat kerusakan kornea, dan angka tersebut diprediksi akan bertambah dua kali lipat di tahun selanjutnya. Metode konvensional dengan mengganti kornea dengan allogeneic graft masih memberikan reaksi penolakan dari tubuh hingga 65% dalam 4 bulan pasca transplantasi.

Bahan kolagen diketahui sebagai kandidat tertinggi dalam penggunaannya sebagai implan kornea buatan, dengan sifatnya yang jernih dan penerimaan tubuh yang tinggi. Namun kolagen memiliki daya tarik yang lebih lemah dibandingkan dengan kornea manusia. Penelitian yang dilakukan oleh Chen pada tahun 2005 menemukan bahwa adanya penambahan kitosan dan sodium hyaluronate (NaHA) memengaruhi karakteristik dari implan kornea sehingga semakin menyerupai kornea manusia.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Widiyanti pada tahun 2020, dilakukan pembuatan implan kornea dengan bahan biokomposit berbasis kolagen dengan penambahan kitosan yang dicampur dengan NaHA untuk menunjukkan pengaruh dari penambahan sodium hyaluronate pada karakteristik penerusan cahaya, karakteristik morfologi dan laju degradasi dari implan kornea buatan.

Implan kornea buatan terdiri dari bahan utama yaitu kolagen, dan bahan tambahan berupa kitosan dan sodium hyaluronate (NaHA). Selain itu pada proses pembuatannya digunakan asam hidroklorida, asam asetat, hydroxypropyl methylcellulose (HPMC), phospate buffered saline (PBS), dan air distilasi.

Pembuatan implan kornea buatan dimuai dengan melarutkan kolagen dan kitosan pada asam asetat dengan kekentalan berbeda. Setelah larut sempurna, larutan kolagen dikombinasikan secara crosslink dengan HPM, kemudian disterilisasikan dengan larutan kitosan selama satu jam. Kemudian komponen NaHA dengan konsentrasi 0%, 0.3% dan 0.6% ditambahkan dan dilarutkan hingga sempurna. Masing-masing larutan kemudian dipanaskan selama 24 jam dengan suhu 35 derajat celcius hingga membentuk membran. Membran dengan tiga variasi konsentrasi NaHA menjadi sampel pada penelitian ini.

Ketiga sampel diuji dengan Uv-Vis Spectrophotometer untuk memeriksa kadar penerusan cahaya dari sampel. Jika kadar penerusan cahaya terlalu rendah, maka sampel tidak layak untuk digunakan sebagai implan kornea buatan. Didapatkan bahwa sampel dengan penambahan NaHA sebanyak 0.6% meningkatkan kadar penerusan cahaya hingga mencapai 76.6% cahaya diteruskan.

Uji kedua adalah uji morfologi permukaan dari sampel menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM). Uji morfologi permukaan berfungsi untuk melihat kondisi fisik sampel pada keadaan kering, yang menunjukkan kekuatan dan ketangguhan sampel tersebut. Pada penelitian ini didapatkan bahwa adanya penambahan kitosan malah membuat sampel menjadi rapuh dan rawan pada kondisi kering.

Uji terakhir yang dilakukan merupakan uji degradasi yang mengukur kadar pengikisan dari sampel dalam kurun waktu tertentu. Setelah diuji selama sembilan hari, didapatkan bahwa sampel dengan penambahan NaHA sebanyak 0.3% menunjukkan kadar degradasi tertinggi dibandingkan dengan sampel lain. Jika laju degradasi terlalu cepat, maka implan kornea buatan bisa habis dalam tubuh sebelum tubuh sempat untuk melakukan regenerasi. Semakin tinggi kitosan yang digunakan, semakin rendah laju degradasi dari implan kornea buatan.

Dengan adanya tiga pengujian dari tiga sampel yang digunakan pada penelitian ini, dapat diketahui bahwa penggunaan sodium hyaluronate (NaHA) dapat meningkatkan kadar penerusan cahaya dari implan kornea buatan, dengan faktor morfologi dan degradasi yang perlu ditingkatkan untuk pengembangan selanjutnya.

Penulis: Prihartini Widiyanti

Artikel lengkapnya dapat dilihat pada link berikut ini:

http://www.jidmr.com/journal/wp-content/uploads/2020/09/66-M20_1105_Prihartini_Widiyanti_Indonesia.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu