Pembedahan pada Pasien Sindrom Piriformis yang Tidak Membaik dengan Terapi Konserfatif

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Sindrom Piriformis. (Sumber: Alodokter)

Sindrom piriformis adalah suatu kondisi yang ditandai dengan nyeri punggung bawah yang menjalar ke kaki yang disebabkan oleh benturan saraf skiatik oleh otot piriformis. Sindrom piriformis sering tidak dikenali atau salah didiagnosis oleh dokter sebagai masalah tulang belakang atau kondisi inflamasi lainnya karena kurangnya ketersediaan modalitas alat diagnosis seperti electromyography (EMG), computed tomography (CT), dan magnetic resonance neurography (MRN).

Penanganan sindrom piriformis ditujukan untuk memodifikasi penyakit dan mengurangi gejala yang meliputi modifikasi gaya hidup, pemberian obat-obatan anti peradangan, fisioterapi dan penyuntikan obat anestesi di lokasi nyeri namun beberapa studi melaporkan penderita sering kembali ke dokter dikarenakan kekambuhan nyeri yang sering terjadi pada penanganan konservatif. Terapi pembedahan merupakan suatu alternatif pada kasus-kasus dengan kekambuhan. Pengalaman kami menunjukkan bahwa lebih dari 80% pasien dengan sindrom piriformis melaporkan bahwa nyeri mereka hilang setelah dilakukan tindakan terapi pembedahan. Semua prosedur yang dilakukan oleh penulis dalam tulisan ini telah sesuai dengan pedoman SCARE. Artikel ini telah terdaftar di http://www.researchregistry.com (researchregistry6134).


Presentasi Kasus

Seorang laki-laki berusia 72 tahun datang dengan keluhan nyeri pantat kiri menjalar ke kaki kiri sejak 2 tahun terakhir disertai dengan sensasi kesemutan. Gejala tersebut diperparah oleh aktivitas kehidupan sehari-hari, terutama duduk. Pasien sering duduk di kursi kayu yang keras. Pada pemeriksaan radiologis tidak ditemukan adanya kelainan selain penyempitan ringan saluran saraf di tulang belakang.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan bahwa kaki kiri pasien sering tergeletak dengan posisi jari kaki mengarah ke samping kiri pasien saat pasien beristirahat. Tes SLR menunjukkan hasil positif pada sudut 40o dan pada tes FAIR didapatkan hasil positif setelah manuver provokasi. Nyeri peregangan otot piriformis dan nyeri tekan pada palpasi didapatkan pada pasien. Respon pasien terhadap nyeri bokong yang dinilai berdasarkan skala analog visual (VAS) dengan skor 0-10, berkisar pada skor 8.

Pasien diberikan injeksi pada otot piriformis menggunakan steroid untuk penanganan awal dan didapatkan berkurang secara signifikan (skor VAS, 3). Setelah prosedurdilakukan, pasien dapat melakukan aktivitas sehari-harinya sendiri. Namun, gejala muncul kembali 3 bulan kemudian (skor VAS, 7). Injeksi piriformis kedua dilakukan dengan hasil yang sama. Setelah pengobatan konservatif yang gagal dan diagnosis PS terkonfirmasi, kami melakukan terapi pembedahan otot piriformis sebagai upaya terakhir. Temuan intraoperatif menunjukkan adanya pendesakan saraf skiatik kiri oleh otot piriformis. Setelah pendesakan saraf skiatik dilepaskan dengan reseksi otot piriformis, steroid diberikan ke area sekitar saraf dan jaringan untuk mengatasi peradangan disertai dengan pemberian gel penghalang adhesi untuk mencegah adhesi pasca operasi.


Teknik Operasi

Pembedahan dilakukan oleh penulis dengan pasien dalam posisi tengkurap. Sayatan kulit dibuat lurus dengan ukuran sekitar 10 cm di atas trokanter mayor. Otot piriformis terletak pada aspek posterior dari otot trokanter mayor dan obturator internus (Gambar 1A). Otot gluteus maximus dipisahkan searah seratnya dengan diseksi tumpul sampai otot piriformis terlihat. Saraf skiatik dieksplorasi dan ditemukan di bawah otot piriformis, dengan jaringan yang meradang di sekitar saraf skiatik. Pembebasan saraf skiatik dari otot piriformis dilakukan dengan pemotongan parsial otot piriformis yang menekan saraf skiatik (Gambar 1B). Selanjutnya, jaringan fibrosa di sekitar saraf skiatik dipisahkan dengan hati-hati untuk menghindari kerusakan saraf (Gambar. 1C). Triamcinolone acetonide (20 mg) (Flamicort, Dexa Medica, Palembang, Indonesia), yang merupakan kortikosteroid sintetik dan gel barrier adhesi (Mediclore, Jakarta, Daewoong Pharmaceutical Company, Indonesia), dioleskan pada saraf skiatik dan jaringan sekitarnya untuk mengurangi efek inflamasi dan mencegah perlengketan.

Gambar 1. Foto intraoperatif. A. Perencanaan sayatan bedah. B. Pemisahan bagian dalam otot piriformis (P). C. pembedahan  jaringan fibrosa di sekitar saraf skiatik, SG: otot gemellus superior, OI: otot internus obturator, QF: otot quadratus femoris.

Beberapa studi melpaorkan bahwa hasil pembedahan dianggap memuaskan jika ada penurunan yang signifikan dalam respon nyeri menurut VAS, dengan penurunan> 50% selama 1 tahun setelah pembedahan. Pada pasien ini, didapatkan hasil yang memuaskan yang berlangsung> 3 tahun setelah operasi, tanpa adanya defisit neurologis atau komplikasi bedah. Gejala berkurang secara signifikan (skor VAS, 2). Selama 3 tahun masa observasi, pasien melaporkan kondisi yang memuaskan dimana nyeri mengalami pengurangan yang signifikan, pasien dievaluasi setiap 3 bulan setelah operasi (skor VAS, 2; pengurangan nyeri > 75% menurut VAS setidaknya selama 12 bulan) setelah operasi dan periode tindak lanjut 3 tahun (dievaluasi tahunan).

Gambar 2. Lokasi skematis saraf skiatik yang terletak di bawah otot piriformis.

Diagnosis sindrom piriformis sering tersamarkan dan sulit dideteksi karena gambaran klinisnya menyerupai gangguan pada saraf tulang belakang. Pertimbangan riwayat keluhan pasien, presentasi klinis, dan respons terhadap steroid atau injeksi lokal anestesi pada otot piriformis sangat penting untuk memastikan diagnosis sindrom piriformis dan memberikan pengobatan yang tepat. Prosedur pembedahan untuk reseksi otot piriformis tidak rumit dan memberikan hasil yang memuaskan. Terapi pembedahan bisa menjadi pilihan terakhir untuk mengobati sindrom piriformis yang gagal dalam pengobatan konservatif.

Penulis: Achmad Fahmi

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2210261220311226

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu