Terapi Oksigen Hiperbarik Dapat Menurunkan Stres Oksidatif pada Arthritis Rematik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

AR (artritis reumatoid) adalah suatu penyakit jaringan otot dan tulang disekitar sendi yang bersifat sistemik dan menahun. Karena perjalanan penyakitnya yang kambuh kambuhan dan merusak sendi, akan menyebabkan masalah Kesehatan yang serius di masyarakat dan menyebabkan penurunan kualitas hidup dan produktifitas dari pederitanya.

 Gejala khas AR adalah  kaku sendi pada waktu bangun pagi, artritis simetris, terutama interfalang proksimal jari tangan. Pada fase lanjut bisa menyerang sendi kaki, sendi bahu dan vertebra. Manifestasi ekstra artikuler seperti, nodul rematoid, vaskulitis dan menyerang organ vital (mis; ginjal)

Prevalensi AR berkisar 0,3 % – 5,0 % dari populasi di Indonesia.  Nyeri dengan intensitas tinggi dan destruksi sendi progresif menimbulkan penderitaan berat, cacat permanen serta  kematian prematur dengan dampak psiko-sosio-ekonomik yang  berat. Karena itu, deteksi dini dan pengobatan yang efektif dan efisien sangat penting.

Salah satu penyebab yang diperkirakan menimbulkan AR adalah ketidakseimbangan jumlah dan fungsi dari T helper 17 (Th-17) dan sel T regulasi (Treg), walaupun saat ini penyebab pasti dari AR belum diketahui dengan pasti. Secara garis besar interaksi faktor genetik dengan faktor lingkungan, hormon estrogen,  sosial ekonomi rendah dan merokok merupakan faktor risiko terjadinya AR. Beberapa gen yang terkait dengan patogenesis  AR yang lain adalah : MHC  (major histocompatibility complex)  kelas II, MHC kelas III, hormone (prolactin, estrogen synthase), Gen respons imun non-MHC, Macrophage M1 & M2 dan sebagainya.

Stress Oksidatif pada AR disebabkan gangguan pada kadar oksigen pada jaringan sendi yang menyebabkan peningkatan reaktif oksigen species (ROS), yang mengakibatkan kerusakan sendi dan merangsang terjadinya proses keradangan lebih lanjut. Karena itu stress oksidatif dan keradangan tidak bisa dipisahkan. Salah satu sitokin yang nemyebabkan radang pada AR adalah Th-17, yang terkait erat dengan kadar C-reactive Protein (CRP) dan terkait erat dengan keluhan pasien.

Terapi yang diberikan pada AR saat ini sangat beragam, antara lain terapi konvensional seperti Anti Inflamasi, obat penekan sistem imunitas, serta terapi non konvensional seperti obat biologis. saat ini diteliti terapi menggunakan oksigen hiperbarik pada penderita AR. Hal ini didasarkan kepada teori bahwa penyebab AR adalah (inflamasi) dan oksigen hiperbarik dapat menghambat keradangan tersebut, dengan jalan mengatasi stress oksidatif. Dengan HBO, oksigen dapat memperbaiki sel yang mengalami hipoksia, yang pada akhirnya akan menggeser sel Th-17 menjadi sel T-reg. dikombinasi dengan obat AR yang lain seperti Metotrexate, dan lain lain diharapkan mampu mengatasi keradangan pada AR.

Terapi oksigen hiperbarik (HBO) adalah suatu terapi dimana pasien diberi oksigen murni 100% dan tekanan tinggi dalam suatu Ruang Udara Bertekanan Tinggi (RUBT). Mekanisme terapi ini melalui dua hal, yaitu hiperoksigenasi secara langsung ke dalam sel melalui difusi dan peningkatan tekanan hidrostatik. Terapi HBO meningkatkan saturasi oksigen dan jaringan yang juga akan meningkatkan produksi reactive oxygen species (ROS) dan reactive nitrogen species (RNS). Keadaan hipoksia saat terjadi inflamasi disertai dengan peningkatan ROS/RNS dapat menginduksi hypoxia-inducible factor 1 (HIF-1 α). Pensinyalan HIF-1α yang aktif juga akan mengarah ke ekspresi mRNA Catalase (CAT) dan Glutathione peroxidase 1 (GPx1) yang lebih tinggi sehingga mengurangi stres oksidatif. Ketidak seimbangan antara pencetus keradangan (Inflamasi) dan penghambat keradangan (Anti-Inflamasi) pada penderita AR dapat mencetuskan dan memperberat penyakit AR itu sendiri. Karena itu diperkirakan HBO dapat memperbaiki penyakit AR.  

Pada oksigen hiperbarik, tekanan yang diberikan lebih besar dari tekanan atmosfer di atas permukaan laut (1 atm = 14.7 psi, 1 kg/cm2 , 101.3 kPa, 760 torr atau 760 mmHg). Pada tekanan 1 atm, konsentrasi oksigen dalam plasma darah yaitu sebesar 0.3 mL/dL . Dalam keadaan istirahat, jaringan akan mengambil 5-6 mL oksigen per desiliter darah bila perfusi normal. Pemberian 100% oksigen dalam tekanan yang normobaric akan meningkatkan oksigen yang terlarut dalam darah hingga 1.5 mL/dL, dan bila diberikan pada tekanan 3 atm, maka oksigen terlarut akan menjadi kurang lebih 6 mL/dL, sehingga akan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sel tanpa memerlukan keterlibatan dari haemoglobin. Adanya oksigen yang terlarut ini, maka oksigen akan teralirkan ke daerah yang tidak dapat dijangkau oleh eritrosit, dan dapat menyebabkan terjadinya oksigenasi jaringan.Oleh karena itu dilakukan penelitian yang bertujuan mengetahui apakah HBO dapat mengatasi stress oksidatif yang timbul pada AR

Penelitian dilakukan di Surabaya dengan menggunakan fasilitas terapi oksigen hiperbarik di salah satu Rumah sakit, dengan menggunakan tikus sebagai hewan coba. Tikus diberikan zat pencetus keradangan di sendinya seperti apa yang terjadi pada AR. Kemudian dilakukan evaluasi diameter paw tikus, kadar Th-17 , dan HIF1 α, setelah diberikan terapi oksigen hiperbarik selang beberapa waktu (10 hari) pada tikus yang diberi perlakuan di banding dengan tikus yang tidak diberi perlakuan terapi oksigen hiperbarik selama 10 hari.

Hasilnya secara klinis, diukur diameter paw tikus skor artritis pada tikus yang diberikan terapi HBO secara signifikan lebih baik dibanding yang tidak diberikan terapi HBO, dan didapatkan penurunan kadar Th-17 dan kenaikan kadar T-reg.

Sebagai Kesimpulan dari penelitian ini, terapi HBO akan menigkatkan oksigenasi jaringan dan mengatasi oksidatif stress serta dapat dipertimbangkan sebagai terapi alternatif dari AR sebagai pelengkap terapi konvensional yang ada saat ini.

Penulis: Titut Harnanik, Joewono Soeroso, Mohammad Guritno Suryokusumo, Tedy Juliandhy

Penulis koresponden: Prof. Dr. Joewono Soeroso, dr., M.Sc, Sp.PD-KR, FINASIM

Informasi detail mengenai studi ini dapat dilihat pada tulisan di https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6982795/

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu