Nilai Diagnostik Uji Encode TB IgG dan IgM Rapid Test dalam Menunjang Diagnosis Tuberkulosis Paru

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi diagnostik Tuberculosis. (Sumber: liputan6.com)

Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan utama yang diderita sekitar 10 juta orang tiap tahunnya dan menjadi salah satu dari 10 penyebab kematian utama di seluruh dunia. Menurut laporan WHO tahun 2015, kasus tuberkulosis di Indonesia diperkirakan sekitar 1 juta kasus pertahun dengan jumlah kematian 100.000 tiap tahunnya.

Kultur sebagai baku emas diagnosis tuberkulosis memiliki keterbatasan waktu pengerjaan yang lama sedangkan PCR sebagai metode yang saat ini direkomendasikan WHO harganya cukup mahal. Infeksi alamiah merangsang timbulnya antibodi terhadap Mycobacterium tuberculosis oleh karena itu saat ini telah dikembangkan sarana diagnostik yang cepat dengan pemeriksaan berbasis tes serologi untuk mendeteksi antibodi anti M.tuberculosis. Metode yang dikembangkan yaitu Imunochromatography (ICT)tersedia di pasaran dalam format cassete meliputi Ig total, IgG dan IgM, serta IgG kombinasi dengan IgM dan IgA.

Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik yang dilakukan di RSUD Dr Soetomo Surabaya dari bulan November 2017- Mei 2018. Subyek yang dimasukkan pada grup tuberkulosis adalah penderita berusia di atas 18 tahun yang dicurigai mengidap infeksi tuberkulosis paru dan positif pada pemeriksaan Tes Cepat molekuler (TCM) dan pemeriksaan mikroskopis BTA dan bersedia menjadi subyek penelitian dengan menandatangani informed consent. Grup non tuberkulosis adalah penderita penyakit paru selain tuberkulosis yang telah tegak diagnosisnya melalui klinis, radiologis maupun pemeriksaan patologi anatomi. Sampel ikterik, lipemik, hemolisis serta penderita yang telah mendapat pengobatan tuberkulosis dieksklusi dari penelitian.

Sebanyak 3 mL darah diambil dari tiap subyek penelitian. Serum didapatkan melalui sentrifugasi pada 1500 g selama 15 menit. Serum ditempatkan dalam aliquot dan disimpan pada lemari es suhu -80ºC sampai dilakukan analisis menggunakan uji Encode TB IgG dan IgM Rapid Test dari negara Cina dengan nomor lot 20170433. Metode yang digunakan adalah  lateral flow chromatographic imunoassay  dengan prinsip double antigen sandwich.

Subyek penelitian berjumlah 52 orang dengan kelompok tuberkulosis sebanyak 34 orang dan non tuberkulosis 18 orang. Kelompok tuberkulosis terdiri dari laki-laki 20 orang dan perempuan 14 orang sedang kelompok non TB terdiri dari 14 orang laki-laki dan 4 orang perempuan. Sampel TB merupakan pasien dengan hasil pemeriksaan BTA dan TCM positif sedangkan Sampel Non TB terdiri atas pasien pneumonia, tumor paru, efusi pleura non TB, pneumothorax, PPOK dan asma bronkiale yang telah terkonfirmasi.

Hasil IgG anti M.tuberculosis positif pada serum 12 orang pada kelompok TB dan didapatkan 1 serum positif palsu pada kelompok Non TB pada penderita kanker lidah dengan metastase paru dengan hasil BTA dan TCM negatif.  Pemeriksaan IgM anti M.tuberculosis pada semua subyek penelitian kelompok TB maupun non TB memberikan hasil negatif.

Sensitivitas Encode TB dalam mendeteksi IgG anti M.tuberculosis  didapatkan sebesar 35% dengan spesifisitas sebesar 94% dengan nilai ramal positif sebesar 92% dan nilai ramal negatif sebesar 43% dan akurasi diagnostik sebesar 55,7%. Sensitivitas Encode TB dalam mendeteksi IgM  anti M.tuberculosis sebesar 0%, spesifisitasnya 100%, nilai ramal positif 0% dan nilai ramal negatif 100% dan akurasi diagnostik sebesar 34,6%.

Respon imun humoral berperan dalam infeksi aktif tuberkulosis yang dapat diukur melalui deteksi antibodi anti M.tuberculosis. Sensitivitas yang rendah pada penelitian IgG anti M.tuberculosis Encode TB kemungkinan karena penggunaan antigen yang terbatas pada uji Encode rapid test yaitu menggunakan CFP10 dan ESAT 6, selain itu kemungkinan berkaitan dengan penurunan afinitas antibodi terhadap antigen M.tuberculosis. Hasil IgM yang negatif pada semua subyek penelitian ini kemungkinan dikarenakan IgM merupakan antibodi pada fase akut, sedangkan infeksi tuberkulosis merupakan infeksi kronis sehingga kemungkinan pada penelitian ini titer IgM tidak meningkat dan memberikan hasil negatif.

Hasil negatif palsu dapat disebabkan karena rendahnya kadar antibodi pasien dibawah batas deteksi dan kemungkinan juga dapat disebabkan karena  tekhnik packaging yang kurang baik. Sedangkan hasil positif palsu didapatkan pada satu pasien di grup non TB. Pasien tersebut didianosis kanker lidah dengan metastase paru. Hasi positif palsu pada uji Encode TB bisa terjadi dikarenakan adanya infeksi dari bakteri Mycobacterium selain M.tuberculosis yang memiliki epitope serupa seperti Mycobacterium other than Tuberculosis (MOTT) yang banyak didapatkan pada rongga mulut dengan hygienitas yang kurang baik , Mycobacterium africanum ataupun Mycobacterium bovis.

Uji Encode TB merupakan pemeriksaan untuk mendeteksi antibodi pada serum yang cepat dan mudah diaplikasikan serta tidak membutuhkan peralatan maupun kemampuan khusus tetapi berdasar penelitian ini tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai alat diagnostik tunggal untuk diagnosis tuberkulosis paru namun dapat dikombinasikan dengan pemeriksaan klinis maupun laboratorium. Sensitivitas uji Encode TB ditingkatkan dengan pemilihan antigen multipel yang lebih spesifik dengan konsentrasi yang tepat dan mengkombinasikan  uji Encode TB dengan alat diagnostik yang lain untuk meningkatkan sensitivitas diagnostik.

Penulis : Aryati

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://indonesianjournalofclinicalpathology.org/index.php/patologi/article/view/1524

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu