Kehati-Hatian Penggunaan Pasta Gigi pada Mereka yang Alergi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi alergi terhadap pasta gigi. (Sumber: Indozone)

Hipersensitivitas atau alergi adalah suatu respon antigenik yang berlebihan, yang terjadi pada individu yang sebelumnya telah mengalami suatu sensitisasi dengan antigen atau alergen tertentu. Pada dekade 20 tahun terakhir ini kejadian hipersensitif meningkat, sehingga dapat menimbulkan masalah bagi dunia kesehatan. Alergi ditimbulkan karena perubahan reaksi tubuh (menjadi rentan) terhadap suatu bahan yang ada dalam lingkungan hidup kita sehari-hari. Dermatitis kontak alergi (DKA) akibat kosmetik terjadi sebanyak 2-4% dari seluruh kasus dermatitis kontak yang datang ke poliklinik, bahkan bisa lebih banyak lagi.

Alergen merupakan zat asing non parasit yang dapat menyebabkan reaksi kekebalan tertentu dalam tubuh ketika masuk ke dalam tubuh. Kondisi yang disebabkan oleh alergen disebut alergi. Alergi dapat menyebabkan beberapa gangguan pada mukosa, kulit, saluran pencernaan, saluran udara, dan pembuluh darah yang mengakibatkan gejala seperti urtikaria, dermatitis, edema, asma, bahkan ke arah kematian.Kontak kosmetik dengan kulit dalam waktu yang lama, menginisiasikan terdapat proses sensitisasi dari beberapa kandungan bahan kimia yang ada di dalamnya. Beberapa produk kosmetik yang umum digunakan oleh masyarakat adalah seperti sabun, sampo, deodoran, pasta gigi, krim wajah, tabir surya, dan parfum.

Banyak angka kejadian kasus dermatitis kontak akibat alergi disebabkan oleh beragam produk kosmetik tersebut. Reaksi iritasi terhadap kosmetik biasanya terjadi pada pasien yang memiliki kulit sensitif atau riwayat atopi.Kejadian yang baru dan jarang terjadi adalah reaksi alergi akibat penggunaan pasta gigi di California, Amerika Serikat, menyebabkan meninggalnya seorang anak wanita usia 11 tahun. Bahan kandungan yang terdapat pada pasta gigi diduga sebagai penyebab alergi, adalah senyawa protein susu yang digunakan, yaitu recaldent atau Casein Phospopeptide-Amorphous Calcium Phosphate (CPP-ACP). Bahan tersebut dipakai untuk pasta gigi pada pasien yang mengalami gigi hipersensitif karena mempunyai khasiat remineralisasi. Recaldent merupakan nama komersil dari CPP-ACP, merupakan protein alami yang ditemukan dalam susu sapi.

Peningkatan kesehatan gigi pada usia dini sangat penting karena merupakan salah satu unsur penting untuk mendukung kesehatan secara holistik, yaitu dengan memelihara kebersihan gigi dan mulut menyikat gigi secara teratur minimal dua kali dalam satu hari menggunakan pasta gigi. Pasta gigi secara umum dibuat dari campuran beberapa bahan yang masing-masing memiliki fungsi yang berbeda, yaitu sebagai terapi, pelembab, air, rasa, pengawet, deterjen, dan pemutih.Variasi produk pasta gigi yang terdapat di pasaran dan efek samping yang mungkin timbul dari penggunaan pasta gigi, membuat orang tua harus dapat memilih pasta gigi untuk anak yang tepat, yaitu diantaranya adalah komposisi pasta gigi dan usia anak.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti ingin mengetahui kemungkinan adanya protein susu yang terdapat pada beberapa pasta gigi anak yang telah beredar di masyarakat. Hal ini dapat bermanfaat bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya terkait dengan makanan dan kosmetik yang hendak digunakan terutama anak-anak yang rentan terhadap alergen, terkait dengan perkembangan pada sistem kekebalan tubuh.

Sampel yang digunakan adalah produk pasta gigi anak yang telah beredar di mayarakat. Sampel dibagi menjadi 8 kelompok, yaitu kelompok pasta gigi dipilih secara acak sesuai dengan tujuan (stratified random sampling), dan diberi koding untuk menjaga kerahasiaan produk. Kelompok pembanding digunakan pasta recaldent dan susu sapi murni. Setiap sampel dianalisis kadar proteinnya menggunakan uji biuret dan berat molekul protein dengan uji SDS Page. Penelitian menunjukkan bahwa protein ditemukan pada sampel 2, 3, 5, 6, 7 dan 8 melalui uji biuret, dengan konsentrasi 1,82; 1,53; 2,76; 1,92; 1,85; dan 3,2 µg/mL.

Protein yang telah ditemukan dalam kelompok sampel dilanjutkan dengan pemeriksaan berat molekulnya. Berat molekul protein pasta gigi anak pada sampel 5 dan 6 menunjukkan berat molekul 20,7 dan 19,1 kDa yang cukup dekat dengan berat molekul pasta recaldent 17,7 kDa. Hal tersebut berarti bahwa protein yang terdapat pada pasta gigi tersebut terdapat kemungkinan mirip dengan pasta recaldent, sehingga diperlukan kewaspadaan jika seorang anak memiliki riwayat alergi. Sedangkan pada kelompok susu sapi ditemukan dua pita yaitu 28,7 dan 39,7 kDa, yang menunjukkan sangat dekat dengan α-kasien dan β-kasien.

Kewaspadaan terhadap bahaya alergi yang terjadi pada anak-anak perlu mendapatkan perhatian yang serius para orang tua. Pasta gigi yang diduga mengandung protein dengan berat molekul mendekati recaldent ditemukan pada sampel 5 dan 6.

Penulis: Hendrik Setia Budi

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://www.contempclindent.org/article.asp?issn=0976-237X;year=2020;volume=11;issue=3;spage=245;epage=248;aulast=Budi

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu