Cegah OA pada DM, Peran Perlecan!

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Diabetes Mellitus. (Sumber: Health Kompas)

OA, osteoarthritis, istilah yang sangat popular di masyarakat. Dari yang berpendidikan tinggi, sampai yang di daerah plosok. Sampai-sampai model apa pun sakitnya kalau terkait sendi, terutama lutut, “pasti” berdiagnnosis OA. Celakanya lagi setiap yang diduga OA, langsung ditimpakan kepada obat yang berakhiran -xicam. Obat ini seolah yang menjadi popular sebagai penanggungjawab berakhirnya diagnosis dan terapi, walau lebih sering juga tidak menghasilkan kesembuhan.  Obat -xicam sangat sering digunakan oleh baik paramedis bahkan oleh penderita sendiri.

Di mana OA sering bersarang? Salah satu yang memiliki kesempatan besar menerima konsekuensi kehadiran OA adalah penderita DM, diabetes mellitus. Sebagaimana telah banyak dipahami bahwa DM adalah salah satu penyakit metabolik yang antara lain ditandai dengan nilai kadar gula darah yang melebihi batas normal, kadar gula dalam darah melebihi batas nilai rata-rata pada orang sehat.

Risiko paparan kadar gula darah yang tinggi bisa memengaruhi hampir seluruh bagian tubuh. Baik sistem organ, jaringan, hingga tingkat sel. Kadar gula darah yang tinggi juga menyebabkan gangguan pada persendian.  Terjadi perubahan lingkungan mikroseluler sendi. Dampak negatif perubahan ini antara lain kepada tulang rawan sendi. Perubahan tulang rawan sendi berisiko meningkatkan terjadinya degradasi sendi. Proses degradasi sendi inilah yang berujung pada risiko penyakit OA. Akankah ini juga harus dibantai dengan obat -xicam? Mari kita melihat fenomena hasil riset, siapa tahu ada yang bisa diambil pelajaran sampai di tingkat awam tentang peran sebuah ekspresi protein parlecan!

DM dan OA   

Masyarakat Indonesia menjadikan pola konsumsi karbohidrat sebagai menu makanan yang dominan. Beberapa komponen makanan penunjang karbohidrat antara lain: protein nabati-hewani, lemak, mineral, vitamin, dan air. Diet karbohidrat yang tinggi bisa berdampak meningkatkan kadar gula darah. Kondisi demikian bisa menimbulkan penyakit kencing manis (diabetes melitus, DM).

Saat ini populasi penderita DM di dunia, khususnya di Indonesia semakin meningkat. Data WHO tahun 2000 menyebutkan terdapat 171.230.000 penderita DM di dunia. Indonesia menduduki peringkat keempat dengan jumlah penderita mencapai 8.426.000 orang. Salah satu komplikasi DM adalah OA.

Pada tahun 2030 jumlah penderita DM di Indonesia diperkirakan akan meningkat menjadi 21.257.000 orang, sehingga risiko penyakit OA juga meningkat. OA menimbulkan penurunan produktivitas kerja. Karenanya OA berdampak kepada menimbulkan kerugian finansial. Dampak penting di bidang ekonomi. 

Pola makan dominan karbohidrat bisa mengakibatkan paparan kadar gula darah yang tinggi pada permukaan sendi. Kondrosit (sel tulang rawan) sebagai penghuni tetap tulang rawan sendi menghasilkan banyak komponen.  Beberapa komponen tersebut antara lain; air (65-80%), kolagen tipe II (10-20%), agrecan (4-7%), glycoosaminoglycans dan hyaluronan, yang berkelindan menjaling hubungan bangunan terstruktur di sekitar kondrosit. Beberapa komponen minor antara lain: Kolagen tipe V, VI, IX, X, XI, XII, XIV, dekorin, biglykan, fibromodulin, dan perlecan. Parlecan adalah protein non kolagenus; matrilin, trombospondin-5 / COMP.

Lingkungan mikro matriks tulang rawan sendi memiliki suasana homeostasis. Banyak komponen yang saling berpengaruh di dalam lingkungan matriks sendi. Pengaruh tersebut juga berlaku kepada produksi kondrosit.  Ada pengaruh luar seperti; faktor biomekanik, faktor biokimia, faktor biofisik. Pengaruh internal bisa meliputi; chondrocytes mechanotransduction, faktor anabolik, faktor katabolik, termasuk faktor genetik. Semua pengaruh di atas membuat homeostasis yang bersifat dinamis terhadap lingkungan mikro matriks tulang rawan sendi.

Salah satu komponen yang berpengaruh pada suasa homeostasis sendi adalah Heparan Sulphate ProteoGlycan 2 (HSPG 2). Ia dikenal dengan nama perlecan. Sesuai beberapa riset belum lama ini, diperoleh temuan bahwa efek parlecan pada endotel (lapisan sel paling dalam) pembuluh darah berubah oleh karena kadar gula darah yang tinggi. Ini menujukkan bahwa perlecan dapat mereduksi salah satu dari keempat rantai Heparan Sulfat (HS).

Pengaruh perlecan pada matriks tulang rawan sendi masih belum sepenuhnya dikenal. Oleh karena itu melalui penelitian Ibrahim Nyoto, penulis, dkk., bukti itu berhasil ditemukan. Setelah melalui percobaan eksperimental laboratorium yang panjang, riset kami mengungkapkan bahwa kadar gula darah yang tinggi berpengaruh terhadap kesehatan tulang rawan akibat perubahan ekspresi protein perlecan.

Jadi, mari kita belajar berlatih untuk menyesuaikan kebutuhan karbohidrat sebagai pola kebiasaan dominan, menjadi kehati-hatian dalam kecukupan. Antara lain supaya kita tidak mudah menderita OA. Juga tidak mudah mengonsumsi obat -xicam yang ternyata bukan merupakan satu-satunya upaya untuk mengatasi OA, apalagi OA yang terkait DM.

Penulis: Abdurachman

Informasi detail terkait jurnal ilmiah scopus index ini bisa disimak di:

https://iopscience.iop.org/journal/1742-6596

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu