Apakah Berolahraga dengan Intensitas Tinggi Baik untuk Tubuh?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber: liputan6.com

Saat ini olahraga menjadi pilihan gaya hidup untuk meningkatkan kebugaran dan kesehatan tubuh. Masyarakat berlomba-lomba melakukan olahraga baik secara mandiri maupun berkelompok bahkan kompetisi olahraga bagi masyarakat non atlit juga semakin sering ditemukan. Tapi apakah masyarakat memahami bahwa olahraga yang berguna untuk meningkatkan kesehatan atau kebugaran tubuh memerlukan persyaratan tertentu?

Sama dengan meminum obat, setiap orang mempunyai dosis terapi sendiri. Demikian juga dengan olah raga, setiap orang mempunyai dosis olah raga individual berdasar jenis, frekuensi, intensitas dan waktu olahraga. Apabila olahraga dilakukan tidak sesuai dosis atau terlalu ringan tidak akan mendapat manfaat bagi tubuh tapi sebaliknya jika dilakukan berlebihan juga akan berakibat buruk terhadap organ tubuh manusia termasuk ke tulang.

Tulang merupakan jaringan tubuh tempat penyimpanan kalsium terbesar kurang lebih 90% disimpan di dalam tulang. Sepanjang hidup tulang akan selalu mengalami proses perubahan yang disebut remodeling tulang yaitu mekanisme yang saling berkaitan antara formasi oleh osteoblas dan resorpsi oleh osteoklas. Resorpsi adalah proses pembongkaran tulang oleh sel osteoklas untuk memenuhi kebutuhan kalsium tubuh dan kemudian akan dibentuk lagi melalui proses formasi oleh sel osteoblas.

Pada proses formasi, osteoblas memproduksi beberapa protein antara lain osteokalsin yaitu protein nonkolagen yang dapat digunakan sebagai petanda biokimiawi proses formasi tulang. Pada saat resorpsi, osteoklas melepas hasil degradasi matriks protein kolagen tipe 1 antara lain cross-linked telopeptide (C-telopeptide) yang dapat digunakan sebagai petanda biokimiawi proses resorpsi tulang.

Penurunan kepadatan tulang terjadi karena ketidakseimbangan proses remodeling tulang dimana proses resorpsi oleh osteoklas tidak diikuti proses formasi oleh osteoblas. Kelangsungan proses pembentukan osteoklas (osteoklastogenesis) karena adanya ikatan antara protein receptor activator of nuclear factor-kB (NF-kB) atau RANK dengan RANK-ligand (RANKL), yang akan merangsang pembentukan osteoklas menjadi aktif sehingga terjadi peningkatan proses resorpsi tulang. Osteoblas juga menghasilkan osteoprotegerin (OPG) yang mempunyai efek mengikat RANKL sehingga bisa menghambat interaksi RANKL-RANK. Di sisi  lain glukokortikoid bekerja secara langsung di osteoblas dan mempengaruhi reorganisasi sitoskeleton dan apoptosis osteoblas.

Telah dilakukan penelitian eksperimental randomized post test only control group design dengan menggunakan hewan coba tikus yang mendapatkan latihan dengan intensitas tinggi untuk mengetahui efek terhadap tulang. Sampel penelitian adalah tikus putih betina (Rattus norvegicus strain Wistar) yang berumur kurang lebih 3 bulan sebanyak 20 ekor dan dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan perlakuan. Pada kelompok perlakuan diberikan latihan fisik intensitas tinggi berupa latihan renang dengan pembebanan 18% berat badan dalam waktu 90% dari waktu maksimumnya, dilakukan 2 kali per set dengan frekuensi 3 kali per minggu, selama 8 minggu. Pada akhir perlakuan diperiksa kadar glukokortikoid, osteoprotegerin, osteokalsin, c-telopeptide dan dihitung jumlah osteoblas apoptotik. yang merupakan parameter untuk mengetahui proses remodeling tulang.

Hasil analisis regresi kategorial menunjukkan ada pengaruh latihan fisik intensitas tinggi terhadap kadar Glukokortikoid (p<0,05), Osteoprotegerin (p<0,05), Osteokalsin (p<0,05). Terdapat pengaruh perubahan kadar Osteoprotegerin terhadap C-telopeptide (p<0,05). Analisis regresi tidak menunjukkan ada pengaruh yang bermakna perubahan kadar glukokortikoid terhadap jumlah osteoblas apoptotik (p>0,05), dan perubahan jumlah osteoblas apoptotik terhadap kadar Osteokalsin (p>0,05). Hasil analisis jalur menunjukkan dua jalur, latihan fisik intensitas tinggi akan meningkatkan kadar Glukokortikoid (ɤ=0,793) dan menurunkan kadar Osteoprotegerin (ɤ=-0,688), yang kemudian akan memberikan efek berlawanan (β=0,658) sehingga kadar C-telopeptide meningkat.

Jalur ke dua adalah adalah peningkatan kadar Glukokortikoid akan menurunkan kadar Osteokalsin. Hubungan kausal antar variabel yang menggambarkan ketidakseimbangan atau gangguan remodeling tulang adalah peningkatan rasio c-telopeptide/osteokalsin. Jalur yang berperan dalam peningkatan rasio c-telopeptide/osteokalsin adalah jalur  latihan fisik berpengaruh pada kadar glukokortikoid, osteoprotegerin, c-telopeptide dan jalur kadar glukokortikoid berpengaruh pada kadar osteokalsin.

Berdasar hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa latihan fisik atau olah raga dengan intensitas tinggi dalam jangka waktu lama akan berpengaruh pada gangguan remodeling tulang ditandai dengan peningkatan kadar glukokortikoid yang akan menyebabkan peningkatan rasio c-telopeptide/osteokalsin sebagai marker penurunan kepadatan tulang.

Penulis: Gadis Meinar Sari

Artikel lengkapnya dapat dilihat pada link berikut ini:

https://www.ejmanager.com/mnstemps/196/196-1606598125.pdf?t=1606725429

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu