Sel Punca dan Suplementasi Kalsium β-TCP sebagai Kombinasi Terapi Regenerasi pada Tulang Rawan: Pendekatan Penelitian Laboratoris

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi regenerasi sel. (Sumber: suara.com)

Kerusakan pada tulang rawan merupakan salah satu kondisi yang sulit diatasi pada dunia medis. Hal ini karena tulang rawan merupakan salah satu bagian tubuh yang memiliki daya regenerasi yang rendah dan terbatas. Selama beberapa dekade terakhir berbagai metode dikembangkan untuk meningkatkan potensi terapetik sel tulang rawan.  Salah satu pendekatan yang sering digunakan adalah dengan cara penambahan molekul kalsium yang dinamakan tricalcium phospate (TCP). Penggunaan bahan TCP sebagai substitusi tulang dianggap paling efektif dibandingkan dengan bahan lainnya. Molekul TCP  memiliki biokompatibilas yang baik, mudah diserap, dan dapat direkonstruksi sewaktu-waktu. Penggunaan jenis TCP generasi terakhir seperti beta TCP (β-TCP) semakin meningkatkan nilai terapetik dari molekul ini pada terapi kerusakan tulang. 

Perkembangan tehnik terbaru juga menunjukkan sel punca sebagai memiliki potensi yang ideal dalam terapi regenerasi tulang rawan. Salah satu jenis sel punca yang lazim digunakan adalah derivat dari sel mesenkim tubuh atau yang dikenal dengan nama mesenchymal stem cell (MSC). Tehnik pengambilan yang mudah dan volatilitas yang tinggi dari MSC merupakan alasan kuat semakin tingginya potensi sel punca ini sebagai agen regenerasi sel. Selain itu, MSC diketahui mampu beregenerasi dengan baik menjadi sel tulang rawan. Keunggulan lainnya yang ditawarkan pada penggunaan sel punca MSC sebagai agen terapi adalah rendahnya kemungkinan sel-sel ini menimbulkan reaksi imunitas dari tubuh. Hal ini dapat dijelaskan karena sel punca dianggap oleh sistem imunitas tubuh sebagai bagian dari diri sendiri. Tujuan penelitian ini adalah membahas potensi kombinasi (β-TCP) dan sel punca MSC sebagai salah satu terapi yang rasional dalam tujuan meningkatkan efikasi dari terapi kerusakan tulang rawan.

Desain Penelitian Kombinasi Sel Punca MSC dan β-TCP

Desain penelitian ini terutama bertujuan untuk menilai banyaknya sel tulang rawan yang hidup setelah mendapatkan terapi sel punca MSC dan β-TCP. Sel punca pada penelitian ini didapatkan dari wanita hamil yang menjalani tindakan operasi kelahiran. Lemak pada bagian bawah perut saat operasi dikumpulkan dan diproses lebih lanjut untuk menjadi sel punca MSC. Validitas sel punca MSC pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pewarnaan sel dengan empat antibodi yang berbeda. Uji coba sel punca MSC lebih jauh menunjukkan bahwa sel ini mampu berubah menjadi sel lemak dan sel tulang rawan. Molekul β-TCP pada penelitian ini didapatkan dari produsen medis yang telah tervalidasi. Jaringan tulang rawan yang digunakan pada penelitian ini didapatkan dari bank jaringan RSUD Dr.Soetomo yang telah terstandarisasi.

Langkah awal penelitian ini dimulai dengan menumbuhkan sel punca, β-TCP, dan jaringan tulang rawan dalam tempat kecil yang dinamakan microplate. Kelompok pembanding pada penelitian ini merupakan jaringan tulang rawan yang tidak mendapatkan perlakuan apapun. Pengamatan pertumbuhan jaringan tulang rawan diamati menggunakan metode MTT assay dengan tujuan menghitung proliferasi jaringan tulang rawan. Tingkat proliferasi yang dihasilkan pada metode ini akan mencerminkan regenerasi dari jaringan tulang rawan setelah mendapatkan perlakuan.

Efikasi Sel Punca MSC Dan β-TCP Pada Regenerasi Tulang Rawan

Hasil MTT assay menunjukan jaringan tulang rawan yang terpapar pada sel punca MSC dan β-TCP memiliki viabilitas (jumlah sel yang hidup) 14% lebih tinggi bila dibandingkan dengan jaringan tulang rawan normal. Perbedaan tingkat pembelahan sel ini juga bermakna secara signifikan.  Hasil studi ini menunjang temuan sebelumnya yang menjelaskan bahwa penggunaan derivat sel punca dapat meningkatkan regenerasi sel tulang rawan pada suplementasi kalsium fosfat. Studi lainnya juga membahas lebih jauh potensi dari sel punca MSC bila digabungkan dengan terapi tamabahan seperti metformin, zinc, magnesium, dan bahan lainnya. Satu hal yang dapat diamati pada hampir seluruh hasil temuan ini adalah penggunaan sel punca MSC akan meningkatkan regenerasi sel targetnya.

Studi ini berhasil membuktikan bahwa sel punca MSC ternyata mampu meningkatkan daya regenerasi dari tulang rawan. Adanya fakta studi-studi lainnya yang menemukan hasil serupa dengan studi ini membuktikan bahwa sel punca memiliki potensi sebagai agen terapi regeneratif dimasa mendatang. Namun begitu implementasi penggunaan sel punca pada khalayak luas masih perlu dikaji lebih komprehensif, mengingat adanya berbagai isu dalam penggunaan sel punca seperti efek teratogenik dan karsinogenik. Studi yang berfokus pada penggunaan hewan coba yang dilanjutan dengan studi klinis berjenjang merupakan salah satu tahapan yang harus dilalui sebelum terapi regeneratif sel punca benar-benar dapat dimanfaatkan oleh khalayak ramai.

Pada akhirnya potensi dari sel punca dalam regenerasi pada manusia tidak terbantahkan lagi. Sel punca juga menyimpan harapan tersendiri untuk terapi berbagai penyakit yang hingga saat ini masih sulit untuk disembuhkan. Namun perjalanan sel punca sebagai agen regenerasi dimasa mendatang masih perlu bukti ilmiah dan klinis yang konkrit agar penggunaanya aman dimasyarakat luas.

Penulis:  Lukman Hakim

Informasi lengkap tulisan ini dapat diakses pada laman

https://medic.upm.edu.my/upload/dokumen/2020070611245716_MJMHS_0144.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu