Sefotaksim VS Seftriakson sebagai Antibiotik Pilihan untuk Ketuban Pecah Prematur

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi ketuban pecah dini. (Sumber: Alodokter)

Ketuban pecah prematur (KPP) atau disebut juga dengan ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya selaput ketuban sebelum onset atau mulainya persalinan. KPP yang terjadi pada usia kehamilan di bawah 37 minggu disebut dengan KPP preterm. KPP preterm menyulitkan sekitar 3 persen kehamilan dan bertanggung-jawab atas 30-40% kelahiran prematur. Terjadinya KPP secara umum dapat menyebabkan berbagai masalah dan komplikasi pada bayi seperti meningkatkan risiko prematuritas, hingga risiko kematian janin. Selain pada bayi, KPP juga dapat menyebabkan masalah bagi ibu, yaitu meningkatkan risiko infeksi yang dikenal dengan korioamnionitis.

Antibiotik telah direkomendasikan secara umum sebagai terapi KPP. Dalam berbagai studi, antibiotik disebutkan mampu mengurangi angka kejadian infeksi dan meningkatkan periode laten, yaitu periode antara pecahnya ketuban dan onset persalinan. Artinya, antibiotik diharapkan dapat sekaligus digunakan untuk mencegah kejadian infeksi dan membantu mempertahankan kehamilan pada KPP, mencegah prematuritas. Namun, pilihan regimen antibiotik yang direkomendasikan sebagai terapi sekaligus upaya mencegah persalinan prematur terbilang masih kontroversial hingga saat ini.

Terdapat banyak rekomendasi yang menyebutkan berbagai antibiotik seperti Eritromisin, Klindamisin, Ampisilin, Piperasilin, hingga Metronidazole. Mayoritas penelitian berfokus pada Eritromisin atau golongannya (antibiotik makrolid) sebagai terapi utama KPP. Beberapa studi telah membandingkan efikasi dan efektivitas antar golongan antibiotik. Namun, belum banyak yang menyorot bahwa antibiotik dari golongan Sefalosporin, seperti Sefotaksim dan Seftriakson, dapat menjadi pilihan regimen baru untuk KPP yang cukup menjanjikan.

Perbedaan dalam pemilihan jenis dan regimen antibiotik memang sangat mungkin terjadi. Hal ini dapat terjadi karena pemberian antibiotik disesuaikan dengan sensitivitasnya terhadap bakteri penyebab infeksi. Golongan Sefalosporin telah diteliti memiliki persentase sensitivitas yang tinggi terhadap bakteri Escherichia coli, dimana bakteri tersebut merupakan bakteri tersering penyebab infeksi saluran kemih (ISK), salah satu faktor risiko terjadinya persalinan preterm pada KPP.

Antibiotik golongan Sefalosporin telah menjadi pilihan antibiotik lini pertama di beberapa rumah sakit. Salah satunya, disebutkan dalam sebuah penelitian di India dan juga di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Sefotaksim merupakan antibiotik yang paling sering digunakan, diikuti dengan Seftriakson. Tidak ditemukan perbedaan outcome bayi berupa mortalitas atau kematian bayi, berat badan lahir bayi, dan skor Apgar (skor untuk menentukan status bayi baru lahir) di antara Sefotaksim dan Seftriakson. Namun, Sefotaksim terlihat lebih mampu memperpanjang periode laten lebih dari 48 jam, yang mana memberikan kesempatan lebih baik untuk maturasi paru bayi, mengurangi risiko fatalnya prematuritas. Kedua antibiotik, baik Sefotaksim maupun Seftriakson, juga terbukti sukses dalam mencegah infeksi pada ibu dengan KPP.

Meskipun belum terdapat institusi yang mengeluarkan pedoman atau guideline internasional yang menyebutkan Sefotaksim, Seftriakson, atau pun Sefalosporin lainnya sebagai rekomendasi utama KPP preterm hingga saat ini, penelitian mengenai Sefotaksim dan Sefalosporin lainnya untuk terapi KPP terus berkembang dan mulai disebut sebagai regimen baru yang sangat patut untuk dipertimbangkan.

Penulis : Shinta Dewi Rasti, Maftuchah Rochmanti, Relly Yanuari Primariawan

Detail artikel dapat dilihat di :

Shinta Dewi Rasti; Maftuchah Rochmanti; Relly Yanuari Primariawan. 2020. Cefotaxime vs Ceftriaxone for the Prolongation of Latency Period in Preterm Premature Rupture of Membranes. The International Arabic Journal of Antimicrobial Agents. Vol. 10, No. 1.ISSN 2174-9094. Link : http://imed.pub/ojs/index.php/IAJAA/article/view/2361

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu