Prevalensi Expanded Dengue Syndrome pada Pasien Infeksi Virus Dengue di RSUD Dr. Soetomo Tahun 2017-2018

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber: gatra.com

Expanded Dengue Syndrome

Expanded Dengue Syndrome (EDS)merupakan salah satu manifaestasi klinis dari infeksi virus dengue (IVD) yang melibatkan organ seperti paru, hati, ginjal, jantung, maupun otak dengan atau tanpa ditemukannya tanda kebocoran plasma. Saat ini, terjadi peningkatan kasus demam dengue dan demam berdarah dengan EDS. Angka kematian karena DBD cukup tinggi pada tahun 2016, salah satu penyebab kematian karena adanya syok akibat terlambatnya penderita datang kerumah sakit maupun kurang tepatnya penanganan yang diberikan. Selain syok, dilaporkan juga beberapa kasus dengan penyebab kematian karena adanya Expanded Dengue Syndrome seperti ensefalopati dengue dan koagulasi intra-vaskular diseminata (KID), serta beberapa kasus disertai komorbid.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan menggunakan data sekunder, rekam medik pasien. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien anak dan dewasa yang terdiagnosis IVD dengan expanded dengue syndrome dan pernah dirawat di RSUD Dr. Soetomo pada tahun 2017-2018. Definisi Operasional dari Expanded dengue syndrome adalah spektrum luas dari infeksi dengue yang mempengaruhi berbagai sistem organ; kardiovaskular,  gastrointestinal-hepar, neurologis, pernafasan dan sistem renal.

Dari 156 pasien IVD hanya ada 30 pasien dengan expanded dengue syndrome.  Persantase penyebaran manifestasi terbanyak adalah neurologis (36,67%), disusul dengan gangguan sistem ginjal (20%), dan gangguan kardiovaskular (16,67%).

Manifestasi neurologis seperti kejang, ensefalopati, ensefalitis/meningitis, perdarahan intrakranial, dan neuropati pernah dilaporkan sebelumnya. Pada penelitian kali ini, dilaporkan kasus ensefalopati (20%), ensefalitis(10%), and kejang demam (6,67%). Manifestasi ini disebabkan karena adanya invasi virus ke jaringan secara langsung (neurotoksisitas) kerusakan yang dimediasi oleh sitokin pada sawar darah otak.

Demam dengue terkait acute kidney injury (AKI) dan sindroma hemolitik uremik sangat jarang. Namun dalam penelitian ini, ditemukan AKI (13,33%) dan sindroma hemolitik uremik (6,67%). Nekrosis tubular akut yang diinduksi syok merupakan penyebab utama gagal ginjal pada pasien DBD selain disfungsi multi-organ dan rhabdomyolysis.

Manifestasi kardiovaskular dari dengue jarang terjadi, tetapi gangguan irama jantung seperti blok atrioventrikular, atrial fibrilasi, dan denyut ventrikel ektopik telah dilaporkan dikaitkan dengan miokarditis viral. Dalam penelitian ini ditemukan pasien dengan miokarditis (10%) dan kardiomiopati ( 6,67%).

Manifestasi untuk sistem pernafasan adalah acute respiratory distress syndrome (ARDS) (10%) dan Perdarahan Paru (3,3%) pada penelitian ini. ARDS adalah salah satu komplikasi yang ditakuti dari demam berdarah dengue, akibat peningkatan permeabilitas membran alveolar-kapiler yang menyebabkan edema interstisial dan alveolar. Restorasi awal perfusi jaringan yang adekuat sangat penting untuk mencegah perkembangan sindrom syok dengue menjadi ARDS.

Hepatitis, fulminant hepatic, kolesistitis, dan pancreatitis akut, merupakan kasus yang pernah dilaporkan terkait sistem gastrointestinal. Pada penelitian ini didapatkan kasus kolesistitis (6.65%) and Hepatitis (6.65%).

Mayoritas kondisi pasien saat keluar rumah sakit dalam keadaan sembuh terdapat 12 pasien, Ad dubia 11 pasien, dan meninggal 6 pasien. Pasien meninggal disini ada beberapa yang disebabkan oleh AKI, miokarditis, dan juga akibat ARDS.

Pada penelitian ini juga melihat hasil laboratorium expanded dengue syndrome. Hasil laboratorium yang diambil datanya adalah hasil pemeriksaan trombosit, hematokrit, hemoglobin dan uji serologi anti-dengue. Sebagian besar pasien datang ke rumah sakit dengan jumlah trombosit 51.000 – 100.000 (46,67%). Sebagian besar pasien baru sadar akan penyakitnya dan ingin datang ke rumah sakit saat sudah memasuki fase kritis. Trombositopenia biasanya diamati pada periode antara hari ke-3 dan ke-8 setelah timbulnya penyakit.

Pasien IVD menunjukkan pemeriksaan hematokrit pada fase kritis sebagian besar normal. Pada penelitian ini, sebagian besar pasien EDS datang ke rumah sakit dengan hematokrit normal (56,67%) sama halnya dengan pemeriksaan hemoglobin. Sebagian besar penderita EDS datang ke rumah sakit dengan kadar hemoglobin normal (56,67%).

IgM dapat muncul pada hari ke 3-5 pada infeksi primer, memuncak beberapa minggu setelah pemulihan dan menetap beberapa bulan. Dalam penelitian ini dari total 30 sampel dari pasien EDS, hanya ada 18 pasien yang melakukan tes serologis. Hasil serologi terbanyak adalah IgM (+/-) dan IgG (+) anti dengue.

Dari 156 sampel hanya terdapat 30 pasien (19,23%) penderita EDS di RSUD Dr. Soetomo tahun 2017 – 2018. Dari 30 pasien ada manifestasi neurologis (36,67%), ginjal (20%), kardiovaskular (16,67%), sistem pernapasan (13,33%), dan gastro-hepatik (13,33%). Manifestasi terbanyak adalah neurologis yaitu ensefalopati. Didapatkan pula hasil laboratorium, sebagian besar pasien datang dengan hematokrit normal, hemoglobin normal, dan total trombosit 51.000 – 100.000. Diperlukan penelitian lebih lanjut yang lebih mendalam terhadap sindroma expanded dengue syndrome karena studi ini masih kekurangan jumlah kasus dan data dari rekam medis.

Penulis: Aryati

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: Adissadah AF, Aryati, Pusarawati H. 2020. Prevalence of Expanded Dengue Syndrome in Patients with Dengue Virus Infection at the Dr. Soetomo Hospital Surabaya in 2017 – 2018. IJCP. 26(3) DOI: http://dx.doi.org/10.24293/ijcpml.v26i3.1589

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu