Faktor Risiko Terjadinya Kebocoran Saluran Kencing Pasca Operasi Hipospadia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Operasi Hipospadia. (Sumber: SehatQ)

Operasi hipospadia (kelainan saluran kencing) merupakan operasi yang tergolong sulit dan tidak sederhana dalam arti proses operasi dan hasil yang didapa. Seringkali operasi yang sudah dilakukan dengan susah payah masih ada komplikasi atau belum sempurna. Komplikasi yang paling banyak pasca operasi hipospadia adalah timbulnya kebocoran pada saluran kencing yang baru dibuat pada operasi hipospadia (fistula uretrokutan).

Faktor-faktor Timbulnya Fistula Uretrokutan

Timbulnya fistula uretrokutan sangat berkaitan erat dengan proses penyembuhan luka operasi. Seperti diketahui pembuatan saluran kencing pada operasi hipospadia berasal dari kulit penis. Kalau penyembuhan luka pada kulit yang dibuat saluran tersebut sempurna/baik maka tidak akan timbul fistula atau kebocoran dari saluran kencing yang baru. Banyak faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan luka tersebut antara lain usia saat operasi, pemakaian selang uretra, pengalihan aliran kencing (sistostomi), infeksi luka operasi, tipe hipospadia, teknik operasi, panjang saluran kencing baru yang dibuat, dan operator operasi juga dapat menjadi faktor penyebab timbulnya fistula uretrokutan.

Penelitian dilakukan secara retrospektif berdasarkan data di beberapa rumah sakit di Indonesia tentang fistula uretrokutan. Penelitian ini melibatkan 17 orang ahli urologi dan 1 orang dokter umum di 12 rumah sakit. Data tentang faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya fistula uretrokutan dari tiap rekam medik pasien yang dikumpulkan dan dikelompokkan kemudian dilakukan analisa. Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara faktor-faktor tersebut dengan timbulnya fistula uretrokutan maka dilakukan analisa secara binomial regresi logistic dengan SPSS 21. Data yang terkumpul sebanyak 591 kasus. Beberapa kasus tidak dapat disertakan dalam analisa karena data faktor risiko yang tidak lengkap misalnya pasien yang tidak kontrol pasca operasi.

Berdasarkan data yang terkumpul didapatkan bahwa sebagian besar pasien dioperasi pada usia diatas 4 tahun (60%). Sedangkan idealnya operasi dilakukan antara usia 6 – 24 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat untuk berobat dalam hal ini adalah operasi hipospadia masih rendah. Seiring bertambahnya usia maka semakin berkembang risiko komplikasi pasca operasi hipospadia. Tipe hipospadia dikelompokkan dalam dua kategori yaitu proksimal (n=264) dan distal (n=303). Berdasarkan data yang terkumpul bahwa beberapa teknik operasi sebagian besar digunakan teknik operasi Tubular Incined Plate (ITP) dan Thiersch-Duplay (44,16%).

Pemilihan teknik operasi ini tergantung pada pengalaman dan ketertarikan dokter yang melakukan operasi. Panjang saluran kencing baru yang dibuat sebagian besar 2-3 cm (32,13%). Sementara selang kateter yang digunakan sebagian besar berukuran 8Fr (46,41%). Pemilihan pemakaian selang kateter atau kencing dialihkan melalui sistostomi tergantung pada masing-masing operator. Berdasarkan data yang terkumpul juga didapatkan bahwa pada 80 kasus (15,27%) terdapat fistula uretrokutan. Setelah dilakukan analisa statistik bahwa faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap timbulnya kebocoran saluran kencing (fistula uretrokutan) adalah umur saat operasi, pengalihan aliran kencing dengan sistostomi, dan ukuran selang kateter yang dipakai. Sedangkan faktor infeksi luka operasi, tipe hipospadia, teknik operasi, panjang saluran kencing baru yang dibuat, dan operator operasi tidak signifikan.

Hasil dari penelitian ini tentu tidak selalu didukung dengan hasil penelitian yang sudah dilakukan. Sebagian hasil penelitian sebelumnya mendukung dan Sebagian hasil penelitian lain bertentangan dengan hasil penelitian ini. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor.

Faktor-faktor yang secara signifikan mempengaruhi timbulnya kebocoran saluran kencing (fistula uretrokutan) pasca operasi hipospadia adalah usia saat operasi dan ukuran selang kateter. Sedangkan pengalihan kencing dengan sistostomi menurunkan risiko timbulnya kebocoran saluran kencing (fistula uretrokutan) pasca operasi hiospadia.

Penulis: Gede Wirya Kusuma Duarsa, Pande Made Wisnu Tirtayasa, Besut Daryanto, Pradana Nurhadi, Johan Renaldo, Tarmono, Trisula Utomo, Prahara Yuri, Safendra Siregar, Irfan Wahyudi, Gerhard Reinaldi Situmorang, Mohammad Asykar Asharullah Palinrungi, Yonas Immanuel Hutasoit, Andre Yudha Alfanius Hutahaean, Yevri Zulfiqar, Yacobda H Sigumonrong, Hendy Mirza, Arry Rodjani, Yudhistira Pradnyan Kopling.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32360223/

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu