Berdamai dengan Nyeri Kanker

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi nyeri kanker. (Sumber: https://www.emc.id/)

Seiring dengan meningkatnya angka kejadian kanker di dunia, maka kebutuhan akan obat-obatan pereda nyeri pada kanker stadium lanjut terus bertambah. Nyeri dapat disebabkan oleh penekanan tumor atau bisa juga sebagai akibat terapi yang kita berikan (misal operasi, radiasi atau kemoterapi).

Nyeri yang dirasakan oleh penderita kanker dapat mengganggu kualitas hidup mereka, bila tidak ditangani dengan pengobatan yang tepat. Tujuan mengatasi nyeri pada penderita kanker adalah agar pasien merasakan hidup yang lebih nyaman, sehingga jika nyeri teratasi, dia bisa bekerja atau bersosialisasi seperti biasa dan tidak akan merepotkan keluarga.

Salah satu jenis kanker yang menjadi beban secara global adalah kanker mulut rahim. Kanker mulut rahim merupakan kanker ketiga tersering pada wanita di negara maju. Di negara sedang berkembang seperti Indonesia kanker ini merupakan kanker tersering nomor dua setelah kanker payudara. Hampir semua penderita kanker mengalami nyeri, terutama kanker pada stadium lanjut. Lebih dari 80% pasien ini mengalami nyeri sedang hingga berat, bahkan penderita yang telah tuntas menerima terapi kankernya, 33% masih mengalami nyeri kronis.

Penanganan nyeri kanker bisa dilakukan melalui cara farmakologi atau obat-obatan maupun tindakan nonfarmakologi. Sekitar 90% nyeri, dapat ditangani dengan obat-obatan, namun seringkali menimbulkan efek samping bahkan efek ‘ketagihan’.

Salah satu metode pengobatan nonfarmakologi adalah penggunaan elektro-akupunktur.  Akupunktur telah lama dikenal di belahan bumi mana pun dan terbukti memiliki banyak khasiat. Pada penderita kanker, penggunaan akupunktur (khususnya elektro-akupunktur) telah banyak ditulis dalam jurnal-jurnal internasional terutama khasiatnya dalam mengatasi nyeri kanker, mengatasi mual dan muntah akibat kemoterapi, meningkatkan nafsu makan, mengobati insomnia dan keluhan-keluhan lain yang sering dialami oleh penderita kanker.

Dalam studi ini telah diteliti peranan elektro-akupunktur pada penderita kanker mulut rahim stadium lanjut (IIIB) yang telah menerima kemoterapi Cisplatin sebanyak 4 seri (dengan interval 3 mingguan). Aspek yang dinilai adalah skala nyeri, kadar endorfin-b dalam darah dan kualitas hidup (menggunakan kuesioner EORTC QLQ-C30 yang telah diakui oleh WHO). 28 pasien kanker mulut rahim stadium IIIB dengan nyeri sedang (skala 4-6) ditentukan secara random untuk dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menerima terapi nyeri konvensional secara farmakologi menggunakan kombinasi parasetamol 500mg dan codein 10 mg yang diberikan 3 kali dalam sehari, sedangkan kelompok kedua menerima terapi akupunktur 3 kali dalam seminggu masing-masing selama 30 menit. Baik terapi konvensional maupun akupunktur dilakukan selama 3 minggu.

Elektro-akupunktur dilakukan pada titik-titik akupunktur tertentu kemudian diberikan rangsangan listrik dengan intensitas yang bisa ditolerir oleh pasien selama 30 menit. Jarum akupunktur ditusukkan pada titik-titik akupunktur Hegu (LI 4), Zusanli (ST 36), Sanyinjiao (SP 6) dan Taichong (LR 3) pada kedua sisi tubuh (simetris) kemudian dihubungkan dengan suatu stimulator dan diatur pada gelombang kontinyu dengan frekuensi kombinasi 2/50Hz.

Titik Hegu terletak di antara ibu jari dan telunjuk pada telapak tangan bagian luar sedalam lebih kurang 2 cm. Titik ini paling sering digunakan untuk mengatasi nyeri karena merupakan titik analgesi terbesar yang pada pada tubuh. Titik Zusanli berada pada 4 jari di bawah tulang lutut, 2 jari ke samping tulang kering (tungkai bawah). Rangsangan pada titik ini akan meningkatkan produksi endorfin otak. Titik Sanyinjiau terletak 4 jari diatas tonjolan dalam tulang ‘maleolus’ dari tulang kering (tungkai bawah). Titik ini sering digunakan pada kelainan-kelainan organ reproduksi. Titik Taichong berada diantara tulang ibu jari dan telunjuk telapak kaki dengan kedalaman 1 jari. Titik ini seringkali digunakan bersamaan dengan titik Hegu dalam menghilangkan nyeri dan menenangkan pikiran.

Pada studi ini tidak didapatkan perbedaan skala nyeri yang bermakna pada kelompok kontrol baik sebelum mendapatkan Parasetamol-Codein maupun setelahnya. Hal ini disebabkan nyeri yang ditimbulkan oleh pemberian kemoterapi Cisplatin salah satunya merupakan nyeri neuropati yang dengan pemberian obat-obat tersebut tidak / kurang efektif untuk mengatasinya. Berbeda halnya pada kelompok elektro-akupunktur didapatkan perbedaan skala nyeri yang bermakna antara sebelum dan sesudah dilakukan terapi elektro-akupunktur. Akupunktur dapat digunakan untuk mengatasi nyeri kanker dalam berbagai tingkatan, nyeri pasca operasi dan nyeri neuropati yang diakibatkan oleh pemberian kemoterapi.

Hal ini paralel dengan perbedaan bermakna kadar endorfin-b dalam darah antara sebelum dan setelah terapi akupunktur pada kelompok perlakuan. Elektro-akupunktur terbukti meningkatkan lepasnya endorfin endogen yang juga dapat terjadi pada kondisi-kondisi seperti olah raga yang teratur, pikiran yang tenang, meditasi, tertawa, mendengarkan musik, aktifitas seksual dan banyak kondisi lain. Kondisi yang menunjukkan kadar endorfin rendah ditandai dengan perasaan depresi dan nyeri tubuh.

Angka yang diperoleh pada kuesioner kualitas hidup (EORTC QLQ-C30 versi Indonesia) tidak menunjukkan adanya perbedaan bermakna pada kedua kelompok baik sebelum dan sesudah mendapatkan terapi konvensional maupun elektro-akupunktur, hal ini mungkin disebabkan oleh tingginya subyektifitas dalam menilai keluhan penderita. Kendala yang sama seringkali juga ditemukan pada studi-studi yang menggunakan kuesioner sejenis.

Dari studi ini dapat disimpulkan bahwa akupunktur (dalam hal ini elektro-akupunktur) dapat bersifat sebagai terapi komplementer atau pun alternatif untuk mengatasi nyeri akibat kanker dengan tanpa efek samping apa pun yang seringkali ditimbulkan oleh pengobatan farmakologi yang konvensional.

Penulis: Wita Saraswati

Artikel lengkapnya dapat dilihat pada link berikut ini:

https://www.liebertpub.com/doi/10.1089/acu.2020.1425

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu