Tuberculosis Paru Sebagai Komplikasi Pengobatan yang Tidak Memadai pada Tuberkulosis Paru Aktif

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Jawapos.com

Tuberkulosis paru masih merupakan problem kesehatan global dan nasional. Berdasar pedoman penanggulangan tuberkulosis nasional,penderita tuberkulosis kasus baru mendapat pengobatan selama 6 bulan dengan rincian 2 bulan fase intensip dengan 4 macam obat dan 4 bulan fase lanjutan dengan 2 macam obat.Pada fase intensip dengan 4 macam obat ini beberapa keluhan muncul akibat efek samping obat.

Penderita tuberkulosis paru kasus baru perlu diberikan obat Isoniazid (INH), Rifampicin, Etambutol,Pirazinamide selama 2 bulan, apabila selama 2 bulan pengobatan ada perbaikan yang ditandai oleh keluhan batuk, demam,sesak berkurang,berat badan naik dan konversi dahak positip pada awal pengobatan menjadi dahak negatip, pengobatan dapat dilanjutkan dengan İNH dan rifampicin 4 bulan sehingga total pengobatan selama 6 bulan.Pedoman pengobatan tersebut mengacu pada program penanggulangan tuberkulosis nasional kementrian Kesehatan indonesia.

Pengobatan penyakit tuberkulosis membutuhkan waktu panjang dengan tujuan untuk eradikasi kuman sehingga tidak terjadi kekambuhan.Waktu pengobatan yang panjang dengan kombinasi obat cukup banyak kadang membuat penderita tuberkulosis seperti syok menerima vonis sakit tuberkulosis.Persepsi negatip tersebut ikut andil dalam kejadian efek samping obat pada pengobatan tuberkulosis.

Efek samping obat tuberkulosis

Isoniazid dan rifampicin merupakan obat utama pada program pengobatan 6 bulan.Obat utama berarti kedua obat tersebut harus diminum terus selama total 6 bulan. Selain İNH dan rifampicin ada ciambutol dan pyrazinamide yang diberikan hanya pada fase intensip.INH dan rifampicin merupakan obat lini pertama yang bersifat baktericid (membunuh kuman) dan mempunyai kemampuan bekerja pada bakteri intrasel dan ekstrasel sehingga efektip sebagai obat saat awal pengobatan pada penderita dengan dahak positip (kuman ekstrasel) sampai akhir pengobatan dengan jumlah kuman yang sudah berkurang. Etambutol merupakan obat lini pertama yang bersifat bakteriostatik (menghambat pertumbuhan kuman) sedang pyrazinamide bekerja intrasel (mikobakterium dalam makrofag). Dengan kombinasi4 macam obat tersebut diharapkan efektip untuk eradikasi mikobakterium yang ada pada penderita tuberkulosis paru.

Efek samping Isoniazid, rifampicin, pyrazinamide dan etambutol yang diminum penderita tuberkulosis bisa manifes sebagai reaksi alergi ringan berupa kemerahan di kulit, gatal, bengkak sampai berat dengan manifestasi erupsi di kulit dan selaput lendir saluran napas dan pencernaan. Juga ada toksisitas obat berupa gangguan fungsi hati, ginjal dan penglihatan. Tidak semua pasien tuberkulosis mengalami efek samping obat tersebut hanya sebagian yang mendapat efek samping obat. Efek samping pada saiuran pencemaan dan hati bisa diperberat oleh persepsi pasien yang sejak awal takut minum obat dalam jurnlah banyak.Akibat efek samping di saluran pencernaan tersebut beberapa pasien menolak melanjutkan pengobatan walaupun keluhan masih bisa ditanggulangi dengan obat penawar.Umumnya pasien secara sepihak menghentikan obat, mungkin akibat kurang mendapat penjelasan yang cukup tentang efek samping obat yang diminum.

Berhenti minum obat tuberkulosis di tengah perjalanan pengobatan menimbulkan beberapa kemungkinan antara lain penyakit tuberkulosis memburuk tidak terkendali dan timbul kuman kebal obat. Pada kasus tuberkulosis paru dengan kelainan di perifer (pinggir) bila tidak mendapat pengobatan atau pengobatan atau pengobatan terputus, penyakit akan meluas ke rongga dada akibat kerusakan pleura (selaput pembungkus paru) sehingga menimbulkan inflamasi di rongga dada dan terjadi akumulasi cairan di rongga dada yang oleh orang awam dikenaÏ sebagai penyakit paru-paru basah.Apabila luka di selaput pembungkus paru cukup besar udara dari saluran napas bisa terus sampai ke rongga dada dan terjadi pneumotoraks.

Kondisi seperti ini dialami oleh pasien pada laporan kasus yang dilaporkan pada jurnal referensi.Penderita mengalami efek samping obat tuberkulosis berulang dan pengobatan terputus beberapa kali dengan konsekuensi pengobatan tidak adequat sehingga terjadi penyebaran tuberkuiosis ke rongga dada sehingga timbul cairan dan udara di rongga dada (hydropneumothorax) dan sampai cairan rongga dada menjadi nanah (pyopneumothorax). Selain penyakit tuberkulosis yang memburuk salah efek samping yang ditakutkan adalah terjadi kuman tuberkulosis kebal obat akibat pengobatan tidak adequat. Kuman kebal obat bisa timbul untuk satu obat (monoresisten) atau lebih dari satu obat (multiple drug resistence). Beruntung penderita tidak mengalami resistensi obat sehingga tidak timbul gagal pengobatan akibat multidrug resistence (MDR).

Penulis: Dr. Daniel Maranatha, dr., Sp.P(K)

Informasi lebih detail dapat dibaca pada:

Tuberculous pyopneumothorax as a complication of inadequate treatment in active pulmonary tuberculosis: A case report

https://microbiologyjournal.org/tuberculous-pyopneumothorax-as-a-complication-of-inadequate-treatment-in-active-pulmonary-tuberculosis-a-case-report/

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu