Tren Penelitian Ligamen Krusiatum Anterior (Acl) di Asia dalam 10 Tahun Terakhir

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh sehatQ

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, terdapat banyak penelitian mengenai Anterior cruciate ligament (ACL) atau ligamen krusiatum anterior. Topik ini menjadi perbincangan hangat oleh banyak ahli bedah lutut lantaran banyaknya kasus cedera ligamen ACL yang terjadi di masyarakat secara umum. Para peneliti telah berusaha memberikan informasi dalam diagnosis, pengobatan, pencegahan, prognosis, dan teknik rehabilitasi pada pasien cedera ACL. Peningkatan studi terkait dengan ACL dipicu oleh perkembangan peralatan rekonstruksi ACL, alat diseksi kadaver, serta modalitas pencitraan. Perkembangan pengobatan, diagnosa cedera, dan semua topik mengenai ACL tidak hanya berkembang di negara-negara maju yang banyak terdapat di benua Amerika dan Eropa, melainkan juga beberapa negara di Asia. Dalam publikasi terkait dengan topik ini, sudah ada dua studi tentang tinjauan sistematis dalam lingkup ACL, namun belum terdapat publikasi yang menyediakan semua data terkait dengan publikasi ACL, utamanya di negara-negara Asia. Pengelolaan informasi secara efektif menjadi metode yang diunggulkan dengan mengumpulkan bukti-bukti studi terbaik untuk pengambilan keputusan dalam perawatan ACL secara holistik. 

Tren publikasi tentang ligamen ACL ini telah meningkat dari tahun ke tahun di seluruh dunia, termasuk di beberapa negara Asia. Terdapat 821 artikel yang berasal dari wilayah Asia sejak tahun 2010 hingga 2019. Jumlah artikel terbitan terbanyak adalah pada tahun 2019, yakni sebanyak 150 artikel, dan jumlah artikel terbitan paling rendah pada tahun 2010 sejumlah 24 artikel. Tren publikasi ACL ini dinilai memiliki nilai inkremental yang positif. Seorang profesor asosiasi dari Rumah Sakit Universitas Nasional Kangwon, Korea Selatan, Jung Ho Noh, merupakan penulis dengan urutan teratas dengan jumlah artikel terbitan tertinggi dalam urutan penulis pertama. Sementara penulis urutan teratas dengan jumlah artikel terbitan paling banyak, yakni sebanyak 24 artikel diduduki oleh Ryosuke Kuroda, seorang profesor dari Universitas Kobe, Jepang.

Analisis jenis penelitian mengungkapkan bahwa penelitian klinis merupakan jenis penelitian yang paling sering dilakukan dalam 10 tahun terakhir, dengan jumlah artikel sebanyak 410 artikel.  Dari jenis studi penelitian klinis tersebut, studi kohort adalah jenis studi penelitian klinis tertinggi yang menyumbangkan 42,6% dari total penelitian klinis, diikuti dengan studi cross-sectional (25.8%), studi kasus kontrol (13.6%). Sebagian besar penulis-penulis yang berasal dari Asia mempublikasikan studi mereka dalam jurnal indeksasi tinggi dengan faktor dampak lebih dari 1.0. Hal ini membuktikan bahwa penulis-penulis dari Asia memiliki kualitas protokol penelitian yang baik. Selain itu, hal ini juga dijadikan motivasi untuk menaikkan rangking internasional universitas atau pusat pendidikan. Penulis-penulis Asia berharap untuk dapat mendokumentasikan dan membuat pekerjaan mereka dapat diakses oleh ahli bedah lain di seluruh dunia. Sebagian besar artikel yang dimuat di jurnal Q1 (57%) menurut penilaian oleh www.scimagojr.com juga membuktikan bahwa kualitas penelitian penulis Asia sangat baik. 

Peningkatan jumlah jurnal di bidang ACL banyak dikaitkan dengan pengembangan metode baru dalam rekonstruksi ACL. Dalam hal ini, masih banyak hal yang dapat dieksplorasi lebih lanjut seputar ACL itu sendiri, seperti fitur histologi, biomekanik, studi hewan, studi kadaver, serta studi  pencitraan. Artikel dengan jumlah sitasi tertinggi yaitu dengan jumlah 212 sitasi, yakni merupakan penelitian klinis dengan judul “Likelihood of ACL graft rupture: not meeting six clinical discharge criteria before return to sport is associated with a four times greater risk of rupture”. Sementara tipe artikel tinjauan sistematis dengan sitasi tertinggi sebanyak 1456 sitasi berasal dari penulis Kambhampati dan Vaishya, dengan judul “Knee injury and osteoarthritis outcome score (KOOS): development of a self-administered outcome measure”. Sebuah study dari Vielgut et al dengan judul “Rating systems in the evaluation of knee ligament injuries” memiliki jumlah sitasi tertinggi sebanyak 1624 kali sitasi.  Terdapat 297 artikel dengan jumlah sitasi lebih dari 10 kali. Hal ini menunjukkan kebaruan penelitian yang dilakukan oleh peneliti-peneliti di Asia terkait dengan lingkup ACL. Di Asia, Jepang merupakan urutan negara teratas dengan jumlah penerbitan tertinggi.

Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi, serta kesadaran para peneliti untuk memutakhirkan metode diagnosis, pengobatan, dan program rehabilitasi peneliti yang baru dan lebih efektif dirasakan sudah baik. Sementara itu, negara-negara dengan jumlah penerbitan artikel yang rendah tidak menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki protokol penelitian. Ada beberapa asumsi terkait dengan hal tersebut, yakni apakah mereka telah menerbitkan artikel di penerbit jurnal yang tidak terindeks atau mereka memiliki data untuk menulis naskah, namun mereka tidak punya waktu untuk menulis karena banyaknya pasien yang harus dioperasi. Dalam hal ini, untuk menjembatani kesenjangan penelitian ACL di antara negara-negara Asia, kolaborasi internasional dengan bimbingan dari pusat penelitian yang lebih mapan harus lebih didorong. Studi yang dilakukan oleh Wu et al, mengungkapkan bahwa kolaborasi antara negara-negara berpenghasilan rendah dengan negara-negara berpenghasilan menengah memiliki tingkat bukti yang lebih tinggi dan desain studi terkontrol yang lebih prospektif. Berdasarkan pemaparan di atas, peningkatan pesat pada publikasi ACL di kalangan penulis Asia selama 10 tahun terakhir pada penerbit jurnal berdampak tinggi ini menunjukkan peningkatan minat pada topik ACL dan dapat digunakan sebagai dasar untuk studi di masa mendatang.

Penulis: Sholahuddin Rhatomy, Riky Setyawan, Anggaditya Putra, Dwikora Novembri Utomo

Link Jurnal: Anterior Cruciate Ligament Publications in Asia in 10 Years: A Systematic Review https://sites.kowsarpub.com/asjsm/articles/105255.html

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu