Tanaman Kurkumin vs Obat Klorokuin, Trend Mana yang Lebih Efektif untuk Terapi COVID-19?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Liputan6.com

COVID-19 merupakan wabah yang diakibatkan oleh virus baru jenis  SARS-CoV-2. virus jenis ini mempunyai penyebaran yang paling cepat dibanding para pendahulunya, dimana kontak fisik cukup untuk membuat lawan bicara tertular. Oleh karena itu, berbagai negara diseluruh dunia ramai ramai menjalankan lockdown, protokol kesehatan, serta pembatasan kegiatan fisik pada tempat tempat publik. Banyak negara menerapka karantina pada para penderita untuk menghentikan penyebaran virus yang makin tidak terkendali setiap bulan. Angka kematian yang terus bertambah menyebabkan pemerinath harus bergerak cepat dalam mendata wilayah penyebaran.

Pemrintah diseluruh dunia kini berharap banyak pada tenaga medis sebagai ujung tombak negara mereka. Semakin sedikit tenaga medis yang tersedia, semakin banyak pula korban yang akan berjatuhan. Beberapa pemerintah dinegara maju seperti uni eropa, Amerika Serikat, serta negara asia timur berlomba lomba menggalakkan penelitianterbaru tentang obat dan ramuan terbaru yang berhubugan dengan COVID-19. Salah satu harapan utama setiap negara, yakni terciptanya vaksin yang efektif untuk COVID-19. namun hal ini memakan waktu yang sangat lama serta biaya yang tidak sedikit.

Penelitian tentang vaksin menguras biaya yang benar benar besar, dikarenakan biaya perawatan bahan baku yang mahal, biaya insentif dan kesehatan para staf peneliti, biaya pengangkutan bahan baku, serta insentif bagi para sukarelawan untuk disuntik vaksin. Hal ini mendorong para peneliti untuk menemukan altenatif yang bisa digunakan dengan cepat, seperti obat antiviral dan ramuan. Salah satunya yakni klorokuin yang dianjurkan oleh Presiden Trump, Dexametahsone dari Jepang, serta avivavir dari Rusia. Untuk ramuan, tanaman jenis kurkumin bisa digunakan sebagai aniviral tanpa efek samping, seperti halnya konsumsi obat kimia. Kurkumin merupakan jenis tanaman akar tinggal seperti jahe, kunyit, kencur, laos,dan temulawak. Tanaman tanaman tersebut bisa langsung dimakan ataupun diolah menjadi minuman, agar rasanya tidak terlalu tajam dimulut. 

Untungnya, COVID-19 terjadi pada abad ke 21, dimana semua data tentang penelitian, pasien, serta perawatan yang dilakukakn diseluruh dunia terekam secara online dan terkumpul kedalam big data. Big data bisa diakses oleh siapapun secara global, dimana hal ini bisa mempercepat proses penelitian dan kolaborasi lintas benua, agar lebih efektif dalam menangani pandemi. Selain, itu, masifnya informasi dimedia sosial turut serta dalam mengedukasi maysrakat tentang pentingnya protokol kesehatan dan penanganan khusus selama pandemi.  

Studi ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan data mining untuk mengumpulkan sampel. Sampel merupakan  data sekunder sebagai data utama. Subjek penelitian ini ada tiga,  yakni tren pencarian informasi tentang kurkumin dan klorokuin pada internet dinegara Amerika, Inggris, dan Italia. Data didapat dari situs penyedia datset gratis seperti Google Trends.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Amerika merupakan negara dengan tingkat pencarian informasi tertinggi, baik untuk klorokuin, maupun tanaman herbal kurkumin. Hal ini dikarenakan Presiden Trump sendiri lewat kementrian pengawasan obat dan makanan mengizinkan pemakaian klorokuin untuk keperluan medis. Selain itu, jumlah penduduk amerika yang besar dibandingkan Italia dan Inggris menyebabkan pemakaian tanaman herbal lebih besar. 

Hasil studi juga menunjukkan bahwa pencarian informasi tentang kurkumin lebih besar pada inggris dibandingkan obat klorokuin. Hal ini dikaenakan kurkumin bisa diolah menjadi bermacam macam minuman, untuk bumbu dapur, serta untuk ramuan sendiri, jika dibandingkan dengan konsumsi klorokuin. Selain itu, tanaman kurkumin seperti jahe mengandung senyawa antiviral yang bisa mengatasi flu dan hidung tersumbat. Kencur juga bisa dikunyah untuk mengatasi batuk. 

Baik kurkumin maupun klorokuin tidak begitu populer di Italia. Salah satu penyebabnya yakni tidak adanya otoritas setepat yang menyarankan tentang informasi tersebut. Lain halnya dengan Amerika, dimana penggunaan obat klorokuin justru dilindungi dibawah otoritas Trump. Klorokuin pOpuler di amerika karena adanya otoritas setempat. Sedangkan pada Inggris, tanaman kurkumin lebih populer dikarenakan penggunaannya yang fleksibel. Kurkumin juga tidak terlalu mengandung efek samping yang berbahaya seperti obat kimia. 

Penulis: Dr. Maslichah Mafruchati M.Si.,drh

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:  http://www.ijfmt.com/issues.html Indian Journal of Forensic Medicine & Toxicology 2020 Indian Journal of Forensic Medicine and Toxicology E- ISSN: 09739130

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu