Panji di Masa Pergerakan; Sebuah Kajian Pendahuluan Perkembangan Kesenian Panji di Jawa

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Budaya Panji

Paruh pertama abad ke-20 di Indonesia sering disebut sebagai zaman pergerakan. Istilah Pergerakan selalu digunakan dalam buku teks mata pelajaran sejarah untuk pelajar maupun historiografi nasional Indonesia seperti Sejarah Nasional Indonesia (Kartodirdjo, Poesponegoro, dan Notosusanto 1975; Poesponegoro dan Notosusanto 2008) dan edisi baru, Indonesia dalam arus sejarah (Lapian dan Abdullah 2012). Pergerakan politik di Indonesia selalu mendominasi wacana pergerakan dan mengabaikan perkembangan di sektor lain, termasuk perkembangan budaya. Perkembangan dalam sektor ini, khususnya di Jawa, terkait dengan kebangkitan orang Jawa, yang berkelindan erat dengan nasionalisme Indonesia, perluasan modernitas, dan kebangkitan kembali Islam. Topeng Panji dengan segala bentuknya di sekitar Jawa adalah salah satu contoh perkembangan ini. Tulisan ini berupaya untuk merintis penelitian tentang perkembangan kesenian Panji khususnya topeng Panji di Jawa mulai dari ujung barat hingga pesisir timur. Dengan menelusuri sejarah sosial budaya melalui perspektif birokrat, seniman, pejabat pemerintah yang menulis di buku, jurnal, dan sumber kontemporer lainnya, penelitian ini bertujuan untuk menuliskan sejarah singkat topeng Panji dan perkembangannya selama periode tersebut.

Seperti yang dikemukakan Miroslav Hroch (2000: 22-23), dalam analisis komparatifnya tentang formasi sosial di sejumlah negara di Eropa, terdapat tiga fase pergerakan nasional: periode kepentingan ilmiah atau fase A, periode patriotik agitasi atau fase B, dan kebangkitan gerakan massa nasional atau fase C. Pada fase pertama setiap kebangkitan nasional ditandai dengan kepedulian yang besar dari kelompok individu, biasanya intelektual, untuk studi bahasa, budaya, dan sejarah kebangsaan yang tertindas. Orang-orang ini tetap tanpa pengaruh sosial yang meluas, dan mereka biasanya bahkan tidak berusaha untuk memulai propaganda patriotik. Ketertarikan mereka dilatarbelakangi oleh kecintaan yang aktif terhadap wilayah tempat mereka tinggal, terkait dengan kehausan akan pengetahuan terhadap setiap fenomena baru dan kurang diteliti, fenomena tersebut yang saya sebut sebagai perkembangan budaya yang sering terabaikan dalam historiografi Indonesia khususnya di era pergerakan. Tulisan ini mengikuti teori yang disampaikan oleh Hroch tersebut.

Tarian Panji sudah populer di Jawa Barat sejak abad kesembilan belas. Dalam buku “Java: tooneelen uit het leven karakterschetsen en kleederdragten van Java’s bewoners in afbeeldingen naar de natuur geteekend” terdapat bab khusus dengan ilustrasi dari Hardouin tentang topeng babakan. Seperti yang diamati Laurie Ross (2016) bahwa penari ronggeng yang digambarkan dalam buku ini kemungkinan besar adalah seorang seniman yang menarikan cerita Panji. Anggapan ini muncul karena ada topeng putih di pojok kanan bawah gambar. Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa pakaian penari atau dalang terkemuka juga menunjukkan pakaian Panji. Dari atas, penari menggunakan penutup kepala yang mirip dengan tekes.

Dalam memoarnya, Achmad Djajadiningrat (1936) menceritakan pengalamannya menjadi penari topeng. Seperti kebiasaan dalam keluarga Bupati dan petinggi Pribumi lainnya pada hari itu, masing-masing memiliki kelompok penari. Anggota kelompok tari biasanya adalah kerabat keluarga. Paman Achmad, Bupati Pandeglang, juga memiliki kelompok tari yang terdiri dari kerabatnya. Pamannya menunjuk seorang guru tari yang terampil untuk melatih anak-anak dan kerabatnya termasuk Achmad. Gurunya meminta Achmad untuk mempelajari Tari Kalana, yang lebih sulit dari karakter dan tarian lainnya. Kalana atau Klana adalah salah satu tokoh utama dalam kosmologi tari Panji. Dalam tari topeng tradisi Cirebon terdapat lima tokoh inti. Panji selalu ditarikan terlebih dahulu kemudian diikuti oleh Samba, Rumyang, Tumenggung, dan Klana. Karakter Klana berasal dari Bewarna. Dia adalah raja di wilayah itu (Ross 2016: 295).

Selain kiprahnya sebagai Bupati Serang, Achmad Djajadiningrat banyak terlibat dalam kegiatan budaya khususnya di Batavia dan Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 1921, ia menjabat sebagai panitia Kongres Kebudayaan Jawa II di Bandung. Ia bertanggung jawab atas persiapan pameran. Dalam acara ini panitia menampilkan berbagai kesenian tradisional dari Jawa bagian barat hingga timur. Achmad Djajadiningrat juga memainkan peran penting dalam teater tradisional Sunda dengan lakon Lutung Kasarung khususnya pendukung pakaian adat, yang dipakai oleh protagonis utama dalam pertunjukan itu adalah gaya Pajajaran kuno. Kostum tradisional para penari tersebut dimungkinkan karena adanya penyelidikan dari Achmad Djajadiningrat pada suku Baduy kuno, sisa-sisa kerajaan Pajajaran yang berhasil melestarikan agama dan adat istiadat lama.

Adipati lain yang terlibat dalam perkembangan kesenian Panji, khususnya tari topeng adalah Raden Adipati Ario Soerio Adiningrat. Menjabat sebagai Adipati Malang dari tahun 1898 sampai 1934 (Sutherland 1974: 33). Menurut Onghokham (1972: 111–121), Malang telah lama menjadi pusat budaya topeng. Ada sebuah tempat di daerah Malang bernama Kepanjen, yang diyakini banyak orang berasal dari nama pahlawannya yaitu Panji (Ke-Panji-an). Untuk pertunjukan tari dan tokoh yang diangkat dari cerita siklus Panji, topeng Malang memiliki corak topeng, kostum, dan corak tarinya. Soerio Adiningrat dikenal sebagai salah satu patron kesenian ini pada tahun 1930-an,

Java–Instituut adalah penggagas hampir semua kegiatan kesenian dan perkembangan kebudayaan pada periode ini. Java-Instituut adalah lembaga kebudayaan paling dihormati yang bukan didirikan dan dipimpin oleh Belanda sejak awal. Menurut Anggaran Dasarnya, Java-Instituut bertujuan untuk mengembangkan budaya asli orang Jawa, Madura, Sunda, dan Bali. Untuk mencapai tujuan tersebut, mereka ingin mengumpulkan dan mencatat sebanyak mungkin materi dari budaya Jawa. Lebih lanjut, mereka ingin mengampanyekan pengetahuan dan pemahaman tentang budaya Jawa dengan mengadakan kongres, pameran, diskusi, publikasi, dan kegiatan lainnya. Pangeran Prangwedana, kemudian bergelar Mangkunagara VII, dan Dr Hussein Djajadiningrat adalah aktor utama berdirinya Jawa-Instituut. Mangkunagara VII adalah seorang patron budaya Jawa yang giat dan berpengaruh pada awal abad kedua puluh dari istana Mangkunagaran di Surakarta. Dia telah belajar di Universitas Leiden selama tiga tahun. Tepat sebelum perjalanannya ke Belanda, untuk pertama kalinya dia bertemu dengan Hussein Djajadiningrat di Batavia. Hussein Djajadiningrat sendiri adalah adik dari Adipati Achmad Djajadiningrat yang berperan penting sebagai intelektual terkemuka selama masa pergerakan. Salah satu kontribusinya yang terpenting adalah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang menjadi tulang punggung kemerdekaan Indonesia di tahun 1945. 

Pada akhirnya, seperti yang telah dikemukakan bahwa artikel ini merupakan fase awal dari penelitian yang lebih ekstensif tentang perkembangan budaya Jawa di masa penjajahan akhir Indonesia. Beberapa tokoh terkemuka yang terkait dengan jaringan Java-Instituut secara aktif mendorong perkembangan semacam ini, termasuk seni dan ekspresi budaya terkait Panji. Beberapa di antaranya yang disebutkan dalam artikel ini seperti Hussein Djajadiningrat dan Pangeran Mangkunagara VII. Jaringan ini menjadi sangat berpengaruh tidak hanya di tingkat daerah, Jawa, Madura, dan Bali tetapi juga secara nasional di Era Gerak hingga akhir penjajahan Belanda. Namun demikian, bagian dari sejarah kebudayaan Indonesia ini tetap kurang mendapat perhatian hingga hampir seabad kemudian. Sampai batas tertentu, orang seperti Hussein Djajadiningrat dan Mangkunagara VII hampir diingat dalam historiografi resmi Indonesia hanya terbatas pada kontribusinya pada ranah politik gerakan nasionalis.

Melihat perkembangan beberapa tahun terakhir, antusiasme masyarakat Indonesia terhadap kesenian Panji kembali meningkat di berbagai daerah, terutama di Jawa. Ada banyak event dan festival tentang Panji yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian dan kajian yang tepat untuk lebih menyoroti koleksi artefak terkait Panji di Museum dan Galeri yang masih belum teridentifikasi secara memadai serta dapat menginspirasi lebih banyak lagi ide dan inovasi di masa yang akan datang.

Penulis: Adrian Perkasa

Informasi lebih rinci dari riset ini dapat dilihat di:  http://wacana.ui.ac.id/index.php/wjhi/article/view/887

Adrian Perkasa (2020). Panji in the Age of Motion; An investigation of the development of Panji-related arts around Java. Wacana, Vol.21 (2), p.214-234. 

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu