Efek Apoptosis Ekstrak Tanaman Ciplukan pada Sel Kanker Payudara

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Kompas Health

Di dunia, kanker payudara merupakan kanker terbanyak pada wanita dan jumlahnya meningkat dari tahun ke tahun.  Di Indonesia, kanker payudara didapatkan pada 10-20 dari 100.000 populasi dan menduduki peringkat ke 2 setelah kanker rahim. Kanker ini merupakan penyakit yang cepat menyebar ke jaringan sekitar maupun ke jaringan yang jauh. Salah satu upaya mendapatkan bahan obat untuk kanker adalah dengan meneliti kandungan dan kasiat bahan aktif tanaman. Metabolit sekunder dan turunan dari tanaman obat telah banyak diteliti unuk pengobatan kanker. Senyawa antitumor dari tanaman obat yang dapat membunuh atau menonaktifkan sel tumor tanpa merusak jaringan normal, banyak diteliti dengan kultur sel HepA, HepG2 dan MCF- 7.

Saat ini, anti kanker yang diperoleh dari tanaman obat dan secara klinis telah banyak digunakan untuk pengobatan berbagai kanker termasuk kanker: testis, payudara, paru-paru, dan sarkoma Kaposi, adalah vinblastin dan vincristin, yang pertama kali diekstraksi dari tanaman Catharanthus roseus (Apocyanaceae).  Tanaman Physalis minima Linn, yang di Jawa disebut tanaman “Ciplukan” juga merupakan salah satu tanaman yang banyak diteliti kandungan dan kasiat bahan aktifnya, termasuk untuk upaya pengobatan kanker. Rebusan seluruh tanaman ciplukan ini di beberapa daerah di Indonesia diminum untuk mengobati kanker, sedangkan daunnya digunakan sebagai tapal untuk sakit maag.

Telah dilakukan penelitian yang bertujuan membuktikan senyawa anti kanker dari ekstrak etanol tanaman Ciplukan dapat mencegah pertumbuhan kanker payudara yang ditimbulkan dengan induksi N-nitroso Methyl Urea (NMU) pada hewan coba tikus putih Wistar-Furth dan pada kultur sel MCF-7 yang merupakan sel dengan reseptor estrogen positif.

Ekstrak etanol tanaman Ciplukan dibuat dengan mengeringkan seluruh tanaman Ciplukan, kemudian dibuat menjadi serbuk dan direndam dengan etanol 96%. Cairan yang diperoleh diuapkan dan diperoleh cairan ekstrak kental, yang kemudian di larutkan kembali untuk disondekan pada tikus coba yang telah dibuat menderita kanker payudara dengan di injeksi NMU dosis tertentu 5x dengan jarak injeksi satu minggu. Cairan ekstrak Ciplukan ini disondekan dengan berbagai dosis (100, 250 and 400 mg/kg berat tikus) sehari sekali selama 4 minggu pada kelompok-kelompok tikus dengan kanker payudara tersebut. Jaringan kanker dari tikus diambil dan diperiksa ekspresi p53 wild type dan APAF-1 diperiksa dengan teknik histologi dan imunohistokimia, selanjutnya dianalisis.   

Analisis hasil pemeriksaan imunohistologi pada jaringan payudara yang terkena kanker terbukti bahwa ekstrak Ciplukan yang diberikan dengan dosis 100, 250 dan 400 mg / kg berat badan tikus tersebut diatas dapat meningkatkan secara signifikan protein p53 wild type (yaitu protein penekan tumor) dan APAF-1 (yaitu gen yang menentukan kematian sel).  Hal ini juga terbukti dalam percobaan kultur sel MCF-7 dalam medium dan diinkubasi 48 jam dengan tambahan dosis 2,5, 25, 50, 100 dan 200 μg/mL ekstrak etanol Ciplukan, didapatkan perubahan signifikan yaitu mitosis semakin menurun dan apoptosis semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya dosis ekstrak tanaman ciplukan yan diberikan. 

Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol tanaman Ciplukan dapat menghambat aktivitas sitotoksik kanker payudara tikus hasil induksi NMU, dengan meningkatkan p53 wild type dan APAF-1 serta menurunnya mitosis dan meningkatnya apoptosis pada kultur sel MCF-7.  Dengan demikian tumbuhan ciplukan berpotensi digunakan melengkapi pengobatan untuk menghambat pertumbuhan sel kanker payudara pada pasien.

Penulis: Handayani, Retno Handajani, Imam Susilo, Achmad Basori dan Hotimah Masdan Salim.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dengan judul “Apoptotic Effect of Phyaslis minima Linn Ethanol Extract on Breast Cancer cells via p53 wild-type and Apaf-1 Protein” di jurnal Internasional Tropical Journal of Pharmaceutical Research, October 2020; 19 (10): 2085-2089 htpps://dx.doi.org/10.4314/tjpr.v19i10.10.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu