Kandungan Mikrobiologi di Dalam ASI yang Dipapar Suhu Kamar

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh SehatQ

Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kelahiran telah menjadi rekomendasi baik oleh WHO sebagai organisasi kesehatan dunia maupun IDAI sebagai organisasi nasional guna mencapai tumbuh kembang optimal dan mencegah infeksi sekunder dari lingkungan. Seperti telah diketahui ASI mengandung senyawa anti-mikroba dan senyawa imunologis yang mendukung perkembangan sistem imun bayi seperti immunoglobulin, lisozim, lactoperoksidase, laktoferin, komponen komplemen dan leukosit aktif. Namun karena kebutuhan khusus seperti kewajiban ibu untuk kembali bekerja atau kewajiban sekolah yang tidak bisa dihindari menyebabkan ibu jauh dari bayinya. Untuk itu direkomendasikan pemberian ASI perah, dimana ibu memerah ASI dan disimpan di dalam freezer khusus ASI bersuhu -20oC atau ditempatkan di wadah steril di suhu ruangan. Penyimpanan dalam freezer memungkinkan penyimpanan hingga 2 bulan. Namun jika disimpan di suhu lingkungan atau suhu kamar, WHO merekomendasikan penyimpanan hingga 8 jam. 

Namun demikian seperti sudah kita ketahui, suhu lingkungan di bumi berbeda-beda, tergantung pada iklim. Untuk iklim subtropis dengan 4 musim rekomendasi ini masih dapat digunakan, tetapi bukti ilmiah di lingkungan beriklim tropis seperti Indonesia rekomendasi penyimpanan di suhu lingkungan ini masih dipertanyakan karena belum ada data pendukung yang akurat. Seperti telah kita ketahui, ASI merupakan cairan biologis seperti halnya darah yang kaya akan nutrien sehingga mudah mengalami kontaminasi dan menjadi media perkembangan mikroba, meskpun ASI sendiri mengandung zat-zat anti-mikroba. Lebih jauh penggunaannya pada bayi dengan sistem imun yang belum matang diperlukan kehati-hatian sehingga tidak mengancam nyawa penggunanya akibat infeksi mikroba yang ada. ASI juga sangat rentan terhadap perubahan suhu.

Penelitian di ruang bayi RSUD Dr. Soetomo tahun 2017 mencoba mengkaji bukti ilmiah rekomendasi ini dengan menaruh ASI 5 cc perah steril di dalam kantong steril dan diletakkan di suhu kamar. Pengamatan dimulai pada menit ke-0 ketika ASI di dalam kantong diletakkan di suhu lingkungan, menit ke 120 (2 jam), menit ke-480 (4 jam) dan menit ke-960 (6 jam) dengan cara menganalisis mikroba yang terdapat di dalam ASI tersebut, baik jenis maupun jumlah biakan pada selang 2 jam tersebut menggunakan metode biakan drop plate di dalam beberapa jenis media kultur (Nutrient Agar, Blood Agar dan MacConkey`s Agar). 

Hal yang cukup mengejutkan pada menit ke-0 telah terjadi kontaminasi bakteri pada 2 sampel. Dan seiring dengan berjalannya waktu jumlah sampel yang terkontaminasi meningkat menjadi 76.67% pada 2 jam pertama (menit ke-120), 83.33% pada 2 jam ke-dua (menit ke-480) dan semua sampel mengalami kontaminasi pada 2 jam ke-tiga (menit ke-960). Jumlah koloni bakteri meningkat seiring dengan pertambahan waktu. Pada 2 jam pertama jumlah biakan berkisar antara 100 hingga 120.000 cfu/ml, rerata jumlah biakan 10.900 cfu/ml. Meningkat menjadi 2.000.000 hingga 140.000.000 cfu/ml dan pada 2 jam ke-3 berkembang menjadi 100.000.000 hingga 60.000.000.000 cfu/ml.

Jenis biakan yang banyak ditemui antara lain Coagulase-negative Staphylococcus (62.50 %), E. Coli (62.50 %), Klebsiella pneumonia (36.67 %), dan Streptococcus faecalis (10%). Bakteri yang paling umum ditemui adalah Staphylococcus, ditemui di semua sampel. Jenis bakteri ini merupakan kelompok bakteri Gram positif dengan karakteristik positif terhadap katalase dan tumbuh baik di media agar darah (Blood Agar), merupakan flora normal kulit. Sementara Escherichia coli merupakan bakteri dalam kelompok Gram negatif dengan reaksi positif pada indole, negatif pada koagulase. Merupakan kelompom coliform bersama dengan Streptococcus faecalis, dan menjadi indikasi pencemaran tinja yang menunjukkan rendahnya praktek higienitas dan sanitasi di lingkungan tersebut. Jenis Streptococcus faecalis merupakanGram positif, bersifat motil dan negatif terhadap koagulase, negatif terhadi katalase dan menggunakan glukosa untuk proses fermentasi dalam menghasilkan energi. Klebsiella pneumoniae merupakan Gram negatif, motil, dan coagulase negatif. 

Penelitian ini menunjukkan ASI sudah tidak dapat digunakan lebih dari 2 jam karena melebihi jumlah bakteri 1,000 cfu/ml. jika dipaksa untuk digunakan, diperlukan pasteurisasi. Jika lebih dari 100,000 dengan ASI harus dibuang.

Penulis: Nur Aisyah Widjaja, Eddy Bagus Wasito, Roedi Irawan

Link jurnal terkait tulisan di atas: 

https://web.a.ebscohost.com/abstract?direct=true&profile=ehost&scope=site&authtype=crawler&jrnl=03037932&AN=142698902&h=1xX%2bT4uppy2%2bT5yDWbUCiKN4Ywj%2bxcbSn8tckePpcGaE1877ZDRKOmly5FefPMSgCo%2fa9Pt9ChJMCCTA%2fYV3SQ%3d%3d&crl=c&resultNs=AdminWebAuth&resultLocal=ErrCrlNotAuth&crlhashurl=login.aspx%3fdirect%3dtrue%26profile%3dehost%26scope%3dsite%26authtype%3dcrawler%26jrnl%3d03037932%26AN%3d142698902

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu