Adiponectin dan Resistensi Insulin pada Remaja Obesitas

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Merdeka.com

Obesitas merupakan masalah global saat ini, seiring dengan peningkatan insiden obesitas baik di negara maju maupun negara berkembang. Obesitas berkaitan dengan sejumlah komplikasi termasuk sindrom metabolik, yaitu sejumlah klaster metabolik yang nantinya meningkatkan resiko kejadian penyakit jantung dan diabetes tipe 2 dan menyebabkan kematian dini individu yang mengalaminya.  Pada obesitas hal ini tidak lepas dari peran sel adiposit sebagai tempat menyimpan cadangan lemak. Akibat terjadinya lipolysis, adiposit mengalami perubahan ukuran yang mengakibatkan pelepasan adipokin dan sejumlah senyawa pro-inflamasi sehingga menyebabkan kondisi inflamasi derajat rendah pada penderitanya. Kondisi ini juga menurunkan fungsi insulin yang menyebabkan kondisi insulin resistan, yaitu kondisi dimana jumlah insulin yang bersirkulasi tidak lagi efektif dalam mengontrol gula darah tubuh. Insulin resistan berperan penting dalam pathogenesis diabetes mellitus tipe 2, sindrom metabolik dan penyakit kardiovaskuler. 

Adiponektin merupakan adipositokin yang bersifat anti-inflamasi. Anti-atherogenik dan memiliki fungsi meningkatkan sensitisasi insulin. Selain itu adiponectin memiliki fungsi protektif terhadap komplikasi obesitas seperti diabetes mellitus tipe 2, hipertensi, dislipidemia dan penyakit kardiovaskuler. Namun demikian pada obesitas diketahui kadarnya menurun.  Lingkar pinggang atau perut (waist circumference) menjadi patokan untuk mengerahui seorang individu mengalami sindrom metabolik atau tidak. Hal ini berdasarkan pada bukti ilmiah tumpukan lemak di perut atau pinggang lebih mudah mempengaruhi fungsi insulin karena letaknya yang dekat dengan hepar, jika dibandingkan dengan adiposit di kulit. Hubungan waist circumference, thigh circumference, waist-to-hip ratio (WHR) and waist-to-height ratio (WHtR) dengan insiden resistensi insulin telah banyak ditelaah. Namun kebanyakan studi melibatkan orang dewasa dengan berat badan normal. Oleh karenanya dilakukan telaah ilmiah untuk mengetahui hubungan parameter antropometri dengan kadar insulin, HOMA IR dan adiponectin pada remaja obesitas.

Penelitian di RSUD dr. Soetomo pada tahun 2018 melibatkan 59 anak remaja usia SMP menunjukkan terdapat hubungan lemah antara waist circumference dengan kadar insulin (r=0.421; p=0.001) dan nilai HOMA IR sebagai nilai rujukan kejadian resistensi insulin (r=0.396; p=0.002). WHtR juga menunjukkan korelasi lemah dengan nilai HOMA IR (r=0.306; p=0.018). Sementara WHR dan WHtR menunjukkan korelasi positif dengan insulin (r=0.343; p=0.008; r=0.311; p=0.017). Pengukuran antropometri tidak menunjukkan korelasi yang signifikan dengan kadar adiponectin dalam darah subjek obesitas. Namun demikian kadar adiponectin menunjukkan korelasi negatif dengan kadar insulin, yang menunjukkan efek perbaikan sensitisasi insulin jika kadar adiponectin meningkat.

Secara tidak langsung telaah ilmiah ini membuktikan bahwa tumpukan lemak di perut atau dikenal dengan obesitas sentral atau obesitas perut menjadi penyebab penting resistensi insulin. Para peneliti menyimpulkan bahwa resistensi insulin mendasari kejadian sindrom metabolik, yaitu hipertensi, dislipidemia (ditandai hipertrigliserida dan kadar HDL-c yang rendah), hiperglikemia dan obesitas perut. Juga disimpulkan tumpukan lemak di perut ikut menurunkan kadar adiponectin. Meskipun adiposit di kulit turun serta dalam pembentukan adiponectin, telaah ilmiah menunjukkan bukti tak terbantahkan bahwa adiponectin lebih banyak diproduksi oleh adiposit di perut. Kondisi inflamasi (pelepasan sitokin pro-inflamasi) secara langsung menghambat produksi adiponectin ini, sehingga kadarnya menurun atau dikenal sebagai hipoadiponektinemia.

Kondisi pro-inflamasi ini juga merusak reseptor insulin di hepatosit sehingga insulin yang ada tidak lagi dapat mengontrol gula darah di dalam sistem sirkulasi, sehingga tubuh akan memproduksi insulin dalam jumlah berlebih, disebut hiperinsulin. Pada remaja obesitas kondisi hiperinsulin telah terjadi sebelum kondisi hiperglikemia terjadi atau dikenal sebagai diabetes mellitus tipe 2. Berhubung jumlah subjek di penelitian ini kecil, maka diperlukan penelitian lebih lanjut dengan subjek yang lebih besar untuk mengetahui kondisi hipoadiponektinemia dan insulin resisten pada remaja obesitas.

Penulis: Nur Aisiyah Widjaja, Rendi Aji Prihaningtyas, Meta Herdiana Hanindita, Roedi Irawan, IDG Ugrasena & Retno Handajani

Link jurnal terkait tulisan di atas:

https://nutriweb.org.my/mjn/publication/26-2/MJN%20Vol%2026%20No%202_August%202020%20(Final).pdf#page=29

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu