Peran Antioksidan Selenium Terhadap Stress Oksidatif yang Dihasilkan oleh E-Cigarette

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh YesDok

Penggunaan rokok elektrik (E-cigarette) telah meledak. Pertama kali dipasarkan sebagai pengganti nikotin pada rokok tembakau yang memiliki risiko kesehatan lebih kecil yang dipercaya sebagai cara alternatif untuk mengurangi penggunaan rokok tembakau di seluruh dunia. Sementara perdebatan tentang implikasi kesehatan jangka panjang dari penggunaan rokok elektrik belum diketahui sampai saat ini. Sistem pemasaran yang baik, ragam desain dan pilihan rasa rokok elektrik membuat produk ini langsung diterima masyarakat dan mengalami peningkatan jumlah penggunanya, didukung dengan kesalahan persepsi masyarakat bahwa rokok elektrik memiliki efek samping yang lebih kecil dibandingkan dengan rokok tembakau mengakibatkan peningkatan penggunaan rokok elektrik di kalangan anak muda. Pengaruh negatif teman sebaya kelompok ini dikenal sebagai sumber potensial di mana penggunaan rokok elektrik memengaruhi perilaku merokok mereka.

Jumlah pengguna rokok elektrik masih terbilang kecil jika dibandingkan dengan rokok tembakau. Peningkatan dramatis perokok elektronik terus meningkat setiap tahun dan menyebabkan masalah kesehatan lebih lanjut di masyarakat. Beberapa penelitian telah menunjukkan berbagai efek negatif yang ditimbulkan oleh rokok elektrik. Bahan kimia dalam asap rokok elektrik membawa risiko yang jauh lebih tinggi untuk mengembangkan penyakit jantung dan paru-paru, termasuk kecanduan nikotin dan perubahan psikologis lainnya. Asap rokok elektrik mengandung berbagai zat berbahaya yang menghasilkan radikal bebas. Kelebihan radikal bebas dibandingkan antioksidan pertahanan dikaitkan dengan kerusakan sel untuk berbagai macam penyakit. Pemberian antioksidan tambahan merupakan salah satu cara untuk mengurangi efek negatif akibat radikal bebas pada rokok elektrik. Peningkatan produksi antioksidan enzimatis dapat dilakukan dengan memberikan asupan mikronutrien berupa selenium. Mikronutrien selenium diharapkan dapat membantu menetralisir radikal bebas dalam sel dan melindungi dari kerusakan sel.

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain kelompok kontrol. Tikus Wistar jantan dengan kriteria umur 2-3 bulan dengan berat 200-250 gram digunakan sebagai hewan model pada penelitian ini untuk menilai kerusakan sel melalui ekspresi Superoxide Dismutase, Glutathione Peroxidase dan Malondialdehyde pada jaringan paru dengan menggunakan pewarnaan imunohistokimia. Asap rokok elektrik yang mengandung 6 mg nikotin diberikan kepada setiap kelompok model hewan dengan perbedaan jumlah dan lamanya waktu. Proses adaptasi pada hewan coba dilakukan selama kurang lebih 5 hari.

Berbagai bahan kimia berbahaya yang terkandung dalam rokok elektrik berdampak negatif bagi kesehatan. Saat asap rokok elektrik masuk ke saluran pernapasan, kondisi ini dapat menurunkan ekspresi superoksida dismutase dan glutathione peroksidase yang menggambarkan penurunan aktivitas antioksidan tubuh serta dapat meningkatkan ekspresi malondialdehida. Peningkatan ekspresi malondialdehida menunjukkan bahwa radikal bebas yang berlebihan membatasi kemampuan antioksidan untuk menghambat oksidasi, selain itu juga menunjukkan terjadinya stres oksidatif yang berkorelasi positif dengan peroksidasi lipid sebagai mekanisme kerusakan jaringan.

Pemberian selenium dapat meningkatkan ekspresi superoksida dismutase dan glutathione peroksidase dan menurunkan ekspresi malondialdehyde. Kedua antioksidan enzimatik tersebut diharapkan mampu menetralkan radikal bebas yang dihasilkan rokok elektrik. Ini akan meningkatkan kadar antioksidan untuk melawan stres oksidatif dan mengurangi risiko penyakit. Hasil penelitian ini sangat menyarankan bahwa salah satu alasan utama tingkat antioksidan tubuh yang tinggi dapat dikelola dengan durasi pemberian selenium,  semakin dini pemberian selenium maka kuantitas kadar antioksidannya jauh lebih besar. Dapat disimpulkan bahwa selenium ternyata efektif dalam meningkatkan kadar antioksidan dan mengurangi radikal bebas di dalam sel ketika diberikan lebih awal sebelum terpapar asap rokok elektrik.

Penulis: Prof. Bambang Wirjatmadi, dr., MS., MCN., Ph.D., Sp.GK

Informasi detail tentang riset ini dapat dilhat pada tulisan kami di :

http://www.jgpt.co.in/index.php/jgpt/article/view/2763

Rivan Virlando Suryadinata, Bambang Wirjatmadi (2020). Selenium Linked to Increased Antioxidant Levels and Decreased Free Radicals in Lung Tissue of Wistar Rats Exposed to ECigarette Smoke. Journal of Global Pharma Technology, 12 (09) : 32-39.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu