Kegunaan Pemeriksaan Fungsi Trombosit pada Pasien Demam Dengue

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh UngaranNews

Demam dengue, penyakit yang ditransmisikan melalui nyamuk, masih endemik di daerah Asia Tenggara. Perkiraan angka infeksi di seluruh dunia sekitar 67-136 juta, dengan 500.000 di antaranya memerlukan rawat inap setiap tahunnya. Di Indonesia, dengan jumlah populasi melebihi 260 juta penduduk, infeksi dengue merupakan penyebab >55% kasus demam. Gejala infeksi dengue bervariasi mulai dari gejala menyerupai flu sampai kondisi berat yang memerlukan rawat inap akibat syok, dan atau perdarahan. Sampai saat ini tidak ada terapi khusus atau vaksin yang efektif untuk virus dengue, sehingga terapi utama adalah perawatan suportif untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh. Pada area padat penduduk di Indonesia, seperti di Jawa, wabah infeksi dengue dapat menambah beban pada sistim kesehatan akibat banyaknya orang yang memerlukan perawatan medis. 

Beberapa studi mengenai infeksi dengue ditujukan untuk menentukan risiko terjadinya dengue berat dengan biomarker spesifik, pemeriksaan genomic dan ultrasound dini. Meskipun demikian kebanyakan cara ini dinilai sulit dan mahal untuk diterapkan di Indonesia. Untuk diagnosis infeksi dengue diperlukan untuk pemeriksaan serologi (IgG/IgM Antidengue) dan atau deteksi NS1 atau uji molekuler. Akan tetapi pemeriksaan ini tidak rutin tersedia di fasilitas kesehatan di Indonesia. Sampai saat ini, sulit untuk memprediksi infeksi dengue yang akan progresi menjadi berat. Penelitian sebelumnya berusaha mengidentifikasi hitung dan fungsi trombosit sebagai marker prognostik untuk keparahan infeksi dengue. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui potensi pemeriksaan fungsi trombosit kuantitatif pada pasien demam dengue fase awal, dengan menggunakan MultiplateTM multiple-electrode aggregometry, dalam hal penapisan kasus berat.

Penelitian ini merupakan studi kohort yang dilakukan pada semua pasien berusia 13 tahun ke atas dengan demam ≥ 38o di tahun 2018 yang dicurigai infeksi dengue. Kriteria eksklusi antara lain trombosit di bawah 100 x 109/L, penggunaan obat-obatan dengan efek antikoagulan, obat antiinflamasi nonsteroid, dan asam asetilsalisilat. Data klinis dan pengambilan darah diambil sebanyak 3 kali pada hari yang berbeda. Terdapat 59 pasien (infeksi dengue 10 orang, probable dengue 25 orang, demam sebab lain 24 orang) dan 20 orang sebagai kontrol sehat yang diikutsertakan dalam penelitian ini. Pada analisis didapatkan penurunan agregasi trombosit secara signifikan pada kelompok infeksi dengue, dibandingkan dengan kelompok kontrol sehat dan demam sebab lain. 

Pada studi eksploratif ini dapat disimpulkan bahwa pengukuran agregasi trombosit dengan ADP, COL dan TRAP berpotensi memberikan gambaran mengenai fungsi trombosit pada infeksi dengue. Penelitian lebih lanjut mengenai marker tambahan pada infeksi dengue akut masih sangat diperlukan. Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa dilanjutkan pada studi kohort yang lebih luas, terutama di area outbreak ketika jumlah pasien melebihi kapasitas rumah sakit.

Penulis: Tri Pudy Asmarawati

Link terkait tulisan di atas: Point-of-care thrombocyte function testing using multiple-electrode aggregometry in dengue patients: an explorative study 

Jong et al. BMC Infectious Diseases (2020) 20:580  https://doi.org/10.1186/s12879-020-05248-4

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu