Stres Kerja Dapat Direduksi Olahraga dan Relaksasi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi stres kerja. (Sumber: Trubus)

Stres pada pekerja di tempat kerja bisa saja terjadi karena berbagai tekanan, mulai dari beban kerja, hubungan kerja antara satu pekerja dengan lainnya hingga lingkungan kerja yang tidak sesuai dengan kenyamanan, keselamatan dan Kesehatan para pekerja. Jika dibiarkan, selain memengaruhi kondisi mental, stres juga dapat memengaruhi kesehatan. Stres kerja tak hanya membuat kesehatan menurun tapi juga berdampak pada perubahan sikap dan mental seperti malas pergi ke kantor, tetapi juga dapat membuat seseorang merasa sangat lelah, sulit berkonsentrasi, dan sulit tidur di malam hari.

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap manusia pernah merasakah stress tak terkecuali pekerja. Stress sebenarnya tidak selalu buruk namun jika dibiarkan akan berkembang dan dapat berdampak negatif bagi yang mengalaminya. Ada 2 macam stress yaitu distress dan eustress. Distress merupakan stress atau tekanan yang didapatkan oleh seseorang dan dapat menimbulkan dampak yang buruk bagi kesehatan. Sedangkan eustress merupakan stress yang bersifat positif dan dapat memacu kinerja dan produktivitas pekerja.

Berbicara mengenai stress, sebenarnya apa tanda-tanda stress bagi pada pekerja? Berikut adalah tanda-tandanya : Yang pertama adalah sering sakit kepala, sering sakit pencernaan, meningkatnya tekanan darah, diabetes, hingga masalah mental yaitu depresi. Lalu, apa penyebab yang sering muncul dan dialami oleh para pekerja?  Beban kerja yang berlebihan sering kali memicu terjadinya stress kerja. Beban kerja merupakan tuntutan tugas-tugas yang berikan oleh organisasi, perusahaan atau instansi tempat bekerja yang tidak sesuai dengan kemampuan pekerja.

Jika beban kerja yang tidak seimbang dengan kemampuan pekerja ini tetap berjalan terus menerus ditambah dengan adanya ketidakharmonisan hubungan antar karyawan atau antara karyawan dengan atasan akan memicu hal yang lebih parah lagi, sindroma metabolik salah satunya. Diketahui bahwa sindroma metabolik adalah kumpulan dari tanda dan gejala yang meliputi tekanan darah yang tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, dan adanya belly obesity.

Tenaga akademik di perguruan tinggi baik dosen maupun karyawan pasti pernah mengalami stres kerja. Hal tersebut dapat terjadi karena beban kerja ganda yang diberikan kepada staf akademik. Tugas tambahan yang tidak sesuai dengan tugas staf akademik selalu diberikan untuk setiap pekerja. Hal ini membuat pekerja seperti staf akademik dapat mengalami stres kerja akibat tugas yang berlebihan daripada tugas pokok. Selain itu, jam kerja yang telah diberikan selama 8 jam kerja dengan berbagai level kegiatan seperti melayani mahasiswa dan dosen dalam hal korespondensi, rapat, membantu proses penjaminan mutu, penjadwalan perkuliahan dan melakukan administrasi lainnya. tugas. Akibat jam kerja yang panjang dan berbagai aktivitas kerja yang dilakukan oleh staf akademik membuat mereka jarang berolahraga. Sebagian besar sivitas akademika memiliki kesempatan untuk berolahraga setiap hari Jumat yang dilaksanakan oleh fakultas sebagai program kebugaran jasmani.

Umur, jenis kelamin, unit kerja dan beban tidak mempengaruhi terjadinya sindroma metabolik. Faktor signifikan yang mempengaruhi terjadinya sindroma metabolik adalah stres kerja dan kebiasaan olahraga. Namun uniknya faktor yang mempengaruhi terjadinya stres kerja adalah usia dan beban kerja. Dapat dikatakan bahwa beban kerja sebenarnya tidak mempengaruhi terjadinya sindroma metabolik tetapi berpengaruh langsung terhadap terjadinya stres kerja. Stres kerja inilah yang menyebabkan terjadinya sindrom metabolik.

Ada beberapa kondisi yang menyebabkan stres kerja, antara lain adanya konflik peran, beban kerja kualitatif, beban kerja kualitatif, pengembangan karier, tanggung jawab terhadap orang, dan ketidakwajaran peran. Stres kerja disebabkan karena konflik peran, beban kerja kualitatif, beban kerja kuantitatif, pengembangan karir, tanggung jawab terhadap orang, dan ketidaktepatan. Namun yang paling kuat dari keenam komponen tersebut adalah konflik peran yang diikuti oleh pengembangan karir.

Olahraga yang kurang rutin memiliki risiko 58 kali mengalami sindrom metabolik. Dapat disimpulkan bahwa sindroma metabolik terjadi karena bertambahnya usia, olahraga tidak rutin dan stres kerja. Setiap usia bertambah 1 tahun, risiko sindrom metabolik meningkat 1.126 kali lipat. Peningkatan tingkat stres kerja meningkatkan risiko terjadinya sindrom metabolik sebesar 1.146 kali lipat. Makin kurang rutin olahraga, risiko sindroma metabolik meningkat 58 kali lipat setiap peningkatan usia yang disertai beban kerja yang tinggi dapat mempengaruhi terjadinya stres kerja. Staf hendaknya diberi kesempatan untuk berolahraga di sela-sela pekerjaan dengan memberikan kesempatan berolahraga secara rutin setiap hari selama jam kerja. Selain itu, program rekreasi juga penting untuk mengelola stres Sehingga program olahraga rutin dan program rekreasional untuk mereduksi stress perlu dan penting dilakukan untuk para pekerja khusunya staf akademik di universitas.

Penulis: Ratih Damayanti

Artikel lengkapnya dapat diakses melalui link berikut ini:

http://www.mjphm.org/index.php/mjphm/article/view/403

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu