Kadar Enzim Hati AST, ALT dan Albumin Pasien Hepatitis B Kronis yang Disertai Komplikasi Sirosis Hati dan Karsinoma Hepatosesluler

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi pasien Hepatitis B. (Sumber: Halodoc)

Infeksi Virus Hepatitis B (VHB) merupakan salah satu masalah kesehatan yang signifikan secara global, khususnya Indonesia. Dua miliar orang di seluruh dunia telah terinfeksi virus hepatitis B, dan 240 juta di antaranya menderita Hepatitis B Kronis (HBK). 2 Di seluruh dunia, sekitar 650 ribu orang meninggal setiap tahun karena komplikasi HBK. Empat puluh lima persen pasien HBK mengalami komplikasi kanker hati, sedangkan tiga puluh persen pasien HBK mengalami komplikasi sirosis. Karsinoma hepatoseluler merupakan salah satu penyebab kematian utama pada pria, terutama di Asia Tenggara. Di Asia, angka karsinoma hepatoseluler (KHS) dan sirosis rendah pada rentang usia 35-40 tahun tetapi meningkat seiring bertambahnya usia.

Indonesia merupakan negara dengan endemisitas hepatitis B tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Myanmar pada tahun 2013.Data Riskesdas 2017 menyebutkan bahwa 7,1% penduduk Indonesia mengidap hepatitis B. Pada tahun 2013, sekitar 2,8 juta orang di Indonesia terinfeksi hepatitis B dan C termasuk yang berpotensi menjadi kronik dan dari yang kronik 1,4 juta memiliki kemungkinan menderita karsinoma hepatoseluler.6.

Peningkatan aminotransferase aspartat (AST) lebih bermakna daripada Alanin Transaminase (ALT) di HBK, dan tingkat albumin menurun di HBK. Tes fungsi hati dilakukan untuk melihat kerusakan hati, terutama tes enzim hati. Enzim ini disekresikan oleh hepatosit saat sel rusak. Aminotransferase adalah indikator spesifik nekrosis hepatosit. Aspartate aminotransferase (AST)adalah salah satu enzim yang digunakan sebagai indikator jaringan hati kerusakan oleh HBV. Tapi, AST kurang spesifik sebagai penanda kerusakan hati. Konsentrasinya juga meningkat pada kerusakan jaringan tubuh lain seperti jantung, ginjal, otot lurik, dan otak. Lebih lanjut, ALT lebih dapat diandalkan dan spesifik daripada AST untuk menunjukkan kerusakan hati karena peningkatannya hanya diproduksi oleh hepatosit.

Kadar albumin serum akan menurun jika terjadi gangguan fungsi sintesis albumin di hepatosit, dan terjadi lesi sel hati kronis. Kadar albumin serum yang rendah ditemukan pada penderita penyakit hati kronis berat seperti sirosis sebagian besar disebabkan oleh penurunan sintesis albumin.

Dokter harus memilih indeks non-invasif dalam serum pasien dengan cepat dan mengetahui interpretasinya untuk mencegah perkembangan infeksi HBV ke fase yang lebih parah, kematian, dan penularan ke orang lain di sekitar penderita hepatitis B. Tes non-invasif yang digunakan untuk menilai tingkat keparahan penyakit hati adalah parameter biokimia serum, seperti rasio AST terhadap ALT, skor fibrosis-4 (FIB-4), AST terhadap indeks rasio trombosit (APRI), rasio limpa-trombosit, indeks Forns indeks platelet limpa, dan indeks Hui. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar SGOT, ALT, dan albumin pada pasien HBK berdasarkan ada tidaknya komplikasi sirosis dan komplikasi karsinoma hepatoseluler di RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara AST, ALT, dan albumin pada pasien HBK tanpa komplikasi dengan pasien HBK dengan sirosis dan komplikasi HCC. Penelitian analitik cross-sectional dilakukan pada bulan Maret-Mei 2019 pada 62 penderita HBK dengan atau tanpa sirosis atau komplikasi kanker hati dengan menggunakan metode total sampling. AST dan ALT dihitung menggunakan perangkat Dimensi Siemens dan metode International Federation of Clinical Chemistry (IFCC). Kadar AST  pada HBK tanpa komplikasi sebesar 60.84 ± 49.85, dengan komplikasi sirosis 125.96 ± 170.58, komplikasi KHS 390.16±309.23. Kadar ALT pada HBK tanpa komplikasi sebesar 42.08 ± 22.06, dengan komplikasi sirosis 88.32 ± 163.37, komplisasi KHS 114.16±93.18. Kadar Albumin pada HBK tanpa komplikasi sebesar 3.36 ± 0.49, dengan komplikasi sirosis 2.90 ± 0.49, komplikasi KHS sebesar 3.03±0.33.

Analisis data menggunakan independent sample T-test Albumin pada pasien HBK tanpa komplikasi lebih tinggi dibandingkan pasien HBK yang mengalami komplikasi sirosis hati (p = 0,002). AST dan ALT tidak berbeda signifikan. Aspartate aminotransferase pada HBK dengan komplikasi sirosis berbeda dengan pasien HBK yang mengalami komplikasi HCC (p = 0,015), namun tidak berbeda pada ALT dan albumin. Aspartate aminotransferase, ALT, dan albumin pada pasien HBK tanpa komplikasi berbeda dengan pasien dengan komplikasi HCC. Albumin pada pasien HBK tanpa komplikasi berbeda dengan pasien HBK dengan komplikasi sirosis. Aminotransferase aspartat pada penderita HBK dengan komplikasi sirosis berbeda dengan penderita HBK yang mengalami komplikasi KHS. Sebagai hasil dari perbedaan ini, pendekatan terpadu untuk mengintervensi kerusakan hati mungkin diperlukan untuk mencegah perkembangan penyakit menjadi lebih parah.

Kadar AST, ALT, dan albumin pada pasien HBK tanpa komplikasi lebih tinggi dibandingkan dengan komplikasi karsinoma hepatoseluler. Kadar albumin pada pasien HBK tanpa komplikasi lebih tinggi dibandingkan pasien HBK dengan komplikasi sirosis. Kadar aminotransferase aspartat pada pasien HBK dengan komplikasi sirosis lebih rendah dibandingkan pasien HBK yang mengalami komplikasi kanker hati. Sebagai hasil dari perbedaan ini, pendekatan terpadu untuk mengintervensi kerusakan hati mungkin diperlukan untuk mencegah perkembangan penyakit menjadi lebih parah.

Penulis: Puspa Wardhani

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://indonesianjournalofclinicalpathology.org/index.php/patologi/article/view/1588

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu