Hidroksiapatit Hasil Ekstraksi Batu Kapur dari Cirebon dan Padalarang sebagai Alternatif Penyembuhan Defek Tulang

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh FaktualNews ID

Defek tulang merupakan suatu kejadian yang biasa terjadi didunia medis yang dapat disebabkan karena tumor, cedera, dan kelainan kongenital. Rekonstruksi defek pada tulang masih menjadi tantangan bagi para ahli karena seringkali mengalami gangguan atau bahkan kegagalan dalam penyembuhan. Proses penyembuhan tulang dibantu dengan pemberian  suatu bahan atau material pengganti yaitu bonegraft. Kebutuhan bonegraft di Amerika Serikat  mencapai lebih dari 1,5 juta graft setiap tahun, bahkan di seluruh dunia dapat mencapai dua kali lipat pada tahun 2020.

Angka kebutuhan tersebut meningkat  terutama pada populasi usia tua  ditambah dengan peningkatan obesitas dan kurangnya aktivitas fisik yang rentan terjadi cedera tulang. Data kebutuhan bone graft ditinjau dari kasus defek tulang yang memerlukan tindakan operasi maxillo-facial, menghabiskan biaya sebesar  2,5 miliar  USD  pada pusat  pencangkokan tulang di Amerika Serikat. 

Penyakit jaringan penyangga gigi merupakan penyakit yang lazim di bidang kedokteran gigi dan mempengaruhi sekitar 20-50% populasi global. Berdasarkan data WHO  penyakit periodontal parah sehingga menyebabkan defek tulang dan hilangnya gigi, ditemukan pada 15-20% orang dewasa berusia paruh baya sekitar usia 35-44 tahun. Data tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan bone graft meningkat. Kendala utama yang dihadapi untuk memenuhi kebutuhan bonegraft jenis autograft, allograft dan xenograft adalah sukar untuk mendapatkan donor tulang, sehingga ketersediaan ketiga jenis graft tersebut sangat terbatas.

Penggunaan alloplastic bone graft (donor tulang dari bahan sintetis) menjadi solusi dari kendala yang dihadapi. Penyembuhan kelainan defek tulang terdiri dari proses rekonstruksi jaringan tulang, proses ini membutuhkan prosedur yang komplek dan lama. Remodeling tulang baru membutuhkan waktu yang lama karena suplai darah menuju tempat kerusakan menurun sehingga terjadi kekurangan kalsium dan fosfor untuk memperkuat tulang yang baru. Rekonstruksi defek pada tulang masih menjadi tantangan bagi para ahli karena seringkali mengalami gangguan atau bahkan kegagalan dalam penyembuhan..           

Bonegraft merupakan material sementara untuk pertumbuhan tulang dan menyediakan lingkungan dan arsitektur khusus untuk remodeling tulang. Biomaterial dalam bentuk bonegraft sering digunakan sebagai material terapi untuk defek tulang karena material ini mampu mengisi defek tulang sehingga dapat terjadi rekonstruksi segmen tulang. Remodeling tulang merupakan proses pengembalian tulang yang  terresorbsi kebentuk dan ukuran semula. 

Hidroksiapatit merupakan material bonegraft yang bersifat biokompatibel, tahan terhadap infeksi, tidak menyebabkan resorbsi akar atau ankilosis  dan osteokonduktif sehingga dapat merangsang pembentukan osteoblast , fibroblast dan menurunkan jumlah osteoclast. Bonegraft dibutuhkan para klinisi sangat tinggi, sehingga terus dilakukan  pengembangan biomaterial sebagai alternatif pilihan dalam merestorasi tulang. Material bonegraft yang ideal harus bersifat biokompatibel, merangsang pembentukan tulang, tahan terhadap infeksi, tidak menyebabkan resorbsi atau ankilosis Bonegraft harus memiliki tiga fungsi dasar antara lain osteogenesis, osteoinduksi dan osteokonduksi. 

Batu kapur Padalarang dan Cirebon  sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai material baku dalam sintesis Ca10(PO4)6(OH)2 karena kadar kalsiumnya yang tinggi, yakni sebesar 99,78% .  Balai keramik Indonesia mampu mengubah batu kapur Padalarang dan Cirebon menjadi hidroksiapatit berbentuk bone ash. Hidoksiapatit batu kapur Padalarang dan Cirebon memiliki tingkat kemurnian yang sangat baik dan menyerupai komposisi kalsium fosfat yang ada pada tulang.

Hasil hidroksiapatit dari Balai Keramik Indonesia tersebut berpotensi diaplikasikan dibidang kedokteran gigi sebagai Hidroksiapatit banyak terkandung dalam batu kapur. Sebagian masyarakat menggunakan batu kapur hanya sebagai kapur tohor, kapur pasang dan material baku industri semen sehingga memiliki nilai ekonomis yang rendah. Balai keramik Indonesia ternyata mampu mengubah batu kapur padalarang cirebon menjadi hidroksiapatit. 

Telah diakukan penelitian tentang aplikasi efek potensial Hidroksiapatit yang diekstraksi dari batu kapur Indonesia berasal dari Cirebon dan padalarang untuk pengganti tulang. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak  dari batu kapur Indonesia  yang diaplikasikan pada paha marmut (Cavia Cobaya) terhadap penyembuhan defek tulang terhadap ekspresi osteoblas, fibroblas dan osteoklas. Penelitian ini menggunakan subyek 18 ekor Cavia Cobaya diberi perlakuan pada tulang paha agar terjadi defek tulang dengan cara di bur. Setelah dilakukan trauma pada paha,  cavia cobaya  dibagi menjadi 3 kelompok.

Kelompok kontrol  negatif  yaitu defek tulang dibiarkan terisi darah,. Kelompok kontrol positif dengan defek tulang diisi hidroksiapatit bovine, Kelompok perlakuan defek tulang diisi hidroksiapatit dari batu kapur Padalarang  dan Cirebon . Femur diambil setelah hari ke 14. Pengamatan gambaran histopatologi menggunakan tekhnik dibawah pewarnaan HE, kemudian hasilnya dihitung menggunakan mikroskrop dengan pembesaran 1000x. Hasil penelitian membuktikan bahawa ekstraksi hidroksiapatit dari batu kapur Indonesia mengoptimalkan penyembuhan defek tulang melalui peningkatan ekspresi jumlah osteoblas dan fibroblas serta penurunan ekspresi jumlah osteoklas. 

Penulis: Devi Rianti,  Anita Yuliati, Ailani Sabrina

Link jurnal terkait tulisan di atas: https://connectjournals.com/toc2.php?abstract=3233502H_4883A.pdf&&bookmark=CJ-033216&&issue_id=&&yaer=2020

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu