Hadirkan Kepala Kantor BEI Jakarta, Kuliah Tamu S1 Akuntansi UNAIR Banyuwangi Ulas Investasi Digital

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Invest

UNAIR NEWS – Prodi S1 Akuntansi PSDKU Universitas Airlangga (UNAIR) di Banyuwangi hari Rabu (16/12) lalu mengadakan kuliah tamu. Menghadirkan Marco Poetra Kawet yang merupakan Kepala Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Jakarta, Kuliah Virtual tersebut mengusung tema “Investasi Sebagai Terobosan Millenial dalam Menghadapi Tantangan Ekonomi Digital dimasa Pandemi”.

Marco mengungkapkan bahwa inflasi yang kian terjadi setiap tahunnya dapat mengurangi nilai uang kita sedikit demi sedikit. Meski dampaknya tidak secara langsung terasa karena nilainya yang kecil, namun dalam waktu yang lama tentuinflasi dapat menggerus nilai uang yang kita miliki secara signifikan. Salah satu upaya yang dapat kita lakukan untuk mencegah hal itu adalah dengan berinvestasi.

“Inflasi itu seperti rayap, menggerogoti perlahan namun dalam waktu yang lama dapat menyebabkan kekeroposan terhadap nilai uang kita,” ungkap Marco. “Untuk mengalahkanya, kita dapat menginvestasikan uang kita untuk membeli emas, properti, obligasi, atau saham perusahaan sehingga nilai uang kita tidak terpengaruh dengan adanya inflasi dan justru malah akan meningkat nilainya,” tambahnya.

Model investasi yang paling cocok di-era millennial ini adalah dengan berinvestasi di Pasar saham atau Reksadana. Pasalnya, jika kita berinvestasi disektor properti seperti tanah atau rumah selain memerlukan modal yang lumayan besar, bisnis tersebut juga memerlukan waktu yang cukup lama ketika ingin menjualnya. Sedangkan di Pasar Saham atau Reksadana kita dapat menjualnya secara instan dan dengan modal kecil.

“Di era digitalisasi ini sudah banyak sekali platform yang menyediakan tempat untuk berinvestasi di pasar saham ataupun reksadana yang dapat diakses melalui gadget misalnya IPOT atau BIBIT, dengan modal yang cukup dengan 100.000 sudah dapat membuka investasi,” jelasnya.

Hal tersebut tentu menjadi sebuah peluang bagi generasi millenal yang memiliki kapabilitas tinggi dibidang teknologi informasi. Namun, karena adanya stigma buruk seperti investasi bodong dan mirip dengan judi seringkali menjadi penghambat orang berinvestasi menggunakan platform digital.

“Ditambah adanya mindset bahwa investasi hanya eksklusif untuk orang-orang kaya dan “keinginan” yang harus dicapai terlebih dahulu membuat investasi bukan sebuah opsi yang penting untuk dilirik kebanyakan orang,” paparnya. “Padahal, jika kita renungkan dengan berinvestasi bukan kita menghilangkan gaya hidup yang kita inginkan justru mempercepat kita untuk mencapainya,” tandasnya.

Pada akhir Marco mengungkapkan strategi penting bagi orang awam yang ingin masuk di dunia investasi adalah menetapkan tujuan investasi. Pasalnya, jika kita tidak menetapkan tujuan dan arah skema investasi yang terjadi adalah coba-coba dan main-main. Saat untung digunakan untuk foya-foya dan ketika rugi berhenti.

“Setelah tujuan kita jelas tips kedua adalah manajemen uang dan disiplin, jangan berlebihan cukup gunakan 20% pemasukan kita secara rutin serta sering update berita terbaru yang sekiranya dapat mempengaruhi sentimen pasar,” pungkasnya.

Penulis : Ivan Syahrial Abidin

Editor : Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu