Ekstrak Teh Hijau Meningkatkan Kesuburan Pejantan Sapi Simental

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Arena Hewan

Dalam rangka mendukung pemerintah dalam memenuhi kebutuhan daging sapi, maka perlu dilakukan peningkatan populasi ternak dan kualitas genetis sapi pedaging. Hal ini sangat didukung oleh masyarakat peternak. Para peternak di pedesaan lebih suka mengawinkan sapinya dengan sapi impor yang seringkali disebut sebagai sapi eksotik, misalnya sapi Simental. Hasil persilangan sapi Madura betina dengan penjantan sapi Simental menghasilkan sapi yang oleh masyarakat disebut sapi Metal, singkatan dari Madura-Simental. Kawin silang tersebut menjanjikan keuntungan yang lebih besar daripada sapi betinanya dikawinkan dengan pejantan sapi local. Anak sapi hasil kawin silang memiliki bobot lahir yang lebih besar. Selain itu anak sapi hasil kawin silang tumbuh lebih cepat dan bobot tubuh dewasanya juga lebih besar. Dengan demikian nilai jualnya jauh lebih tinggi. Sebagai contoh, pada masa Hari raya Kurban harga sapi Madura siap potong sekitar 22-25 juta rupiah, sedangkan sapi Metal bisa mencapai 100 juta rupiah per ekor.

Sistem perkawinan silang yang digunakan bukanlah kawin alam melainkan dengan inseminasi buatan atau kawin suntik. Inseminasi buatan dilakukan oleh orang yang sudah terlatih dan bersertifikat, yang disebut Inseminator. Sperma yang digunakan untuk Inseminasi buatan adalah sperma beku. Sperma beku dibuat dengan seperangkat peralatan canggih oleh suatu balai inseminasi buatan. Sperma diambil dari pejantan unggul sapi Simental kemudian diproses menjadi sperma beku. Sperma dari seekor pejantan sapi Simental dari sekali pengumpulan sperma dapat diolah menjadi 150-200 straw sperma beku. Berarti satu kali ejakulasi dapat dipergunakan untuk menginseminasi 150-200 sapi betina. Ini adalah keuntungan dari inseminasi buatan. Apabila dilakukan dengan kawin alam, maka sekali ejakulasi hanya untuk mengawini seekor sapi betina. Keuntungan lain dari penggunaan teknik inseminasi buatan adalah bahwa peternak tidak perlu memelihara sapi pejantan sendiri. Sapi-sapi jantan yang dimiliki dapat digemukkan untuk kemudian dijual sebagai sapi pedaging.

Salah satu produsen sperma beku sapi Simental adalah Unit Semen Beku yang berada di Taman Ternak Pendidikan (Teaching Farm, TF) Fakultas Kedokteran Hewan (FKH)  Universitas Airlangga. Unit ini termasuk Balai Inseminasi Buatan daerah (BIBD), berlokasi di Desa Tanjung, Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik. Sebagai sumber bibit unggul, sapi pejantan Simental di TF dipilih dari sapi pejantan hasil embrio transfer di Balai Embrio Ternak, Cipelang. Pemilihan didasarkan pada silsilah, kesehatan umum, keunggulan berat badan, produktivitas dan kualitas sperma, serta uji keturunan. Sperma pejantan tersebut secara rutin diambil dua kali seminggu untuk produksi sperma beku.  Proses pembuatan sperma beku dimulai dengan penampungan sperma sapi Simental menggunakan vagina buatan. Selanjutnya ejakulat tersebut ditambah dengan bahan pengencer dan dibekukan menurut prosedur yang sudah dibakukan. Sperma beku produksi TF tersebut didistribusikan untuk pelayanan IB di beberapa kabupaten wilayah Jawa Timur. Sperma beku sapi Simental termasuk favorit bagi para peternak.

Dalam rangka meningkatkan kesuburan sperma beku sapi Simental, para peneliti FKH Unair telah melakukan inovasi dengan menambahkan ekstrak the hijau kedalam bahan pengencer sperma beku sapi Simental. Pada proses pembekuan (suhu minus 196 derajat Celcius, dalam nitrogen cair) sekitar 50-60% sel sperma  mengalami kematian. Kematian sperma pada pembekuan tersebut disebabkan oleh kerusakan  membrane sel akibat teroksidasi oleh radikal bebas. Teh hijau diketahui mengandung antioksidan yang kuat. Penambahan ekstrak the hijau dengan dosis 1 mg / 100 ml bahan pengencer dapat menurunkan kematian sel sperma menjadi hanya sekitar 30%. Dosis 1 mg / 100 ml bahan pengencer adalah dosis terbaik. Dosis tersebut juga menghasilkan indikator lain kualitas sperma yang juga terbaik, yaitu persentase motilitas sperma dan persentase keutuhan membran  tertinggi, sedangkan persentase keruskan DNA terendah. Apabila dosis ditingkatkan menjadi 1,5 mg / 100 ml bahan pengencer maka angka kematian sel sperma akan kembali naik akibat adanya antioksidan paradoks.

Penulis: Prof. Dr. Imam Mustofa, drh., M.Kes. (Corresponding author)

Berikut link terkait tulisan di atas: https://www.animbiosci.org/journal/view.php?doi=10.5713/ajas.20.0025. Disarikan dari artikel: Suherni Susilowati, Trilas Sardjito, Imam Mustofa, Oky Setio Widodo, Rochmah Kurnijasanti.  Effect of green tea extract in extender of Simmental bull semen on pregnancy rate of recipients. Animal Bioscience Vol. 34 No. 1 or 2 (January or February 2021).

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu