Mengenal Ektoparasit pada Kucing

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Kompas.com

Kucing liar merupakan hewan yang sering berinteraksi dengan manusia. Kucing liar dapat ditemukan di berbagai tempat, terutama pada tempat yang ditemukan makanan yang bervariasi.  Surabaya merupakan satu dari kota terbesar di Indonesia, dengan jumlah penduduk sebanyak 2,7 juta. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui distribusi ektoparasit yang menginfeksi kucing liar pada beberapa pasar tradisional yang terdapat di Kota Surabaya. Penelitian dilakukan di 17 pasar tradisional, yaitu Pasar Dinoyo, Pasar Gubeng, Pasar Pacar Keling, Pasar Karang Menjangan, Pasar Manyar, Pasar Pandegiling, Pasar Ngagel, Pasar Pucang, Pasar Banyu Urip, Pasar Simo, Pasar Jojoran, Pasar Menur, Pasar Keputih, Pasar Mulyorejo, Pasar Blauran, Pasar Asemrowo, dan Pasar Indrakila. Ektoparasit adalah parasit yang hidup di bagian luar tubuh organisme.

Pengambilan ektoparasit dilakukan dengan menggunakan sisir kutu/fine-toothed flea comb. Penyisiran tubuh kucing dilakukan selama minimal 5 menit, pada bagian telinga dilakukan pengerokan dengan menggunakan cotton bud yang steril. Setiap spesies ektoparasit yang didapatkan kemudian diletakkan di atas kertas putih untuk dipisahkan dengan kotoran yang melekat. Selanjutnya, ektoparasit tersebut dimasukkan ke dalam larutan ethanol 70% untuk kemudian diamati di laboratorium. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 3 spesies ektoparasit yang tersebar pada tubuh kucing liar di Surabaya. Dua spesies tersebut adalah Ctenocephalides felis dan Felicola subrostratus. Prevalensi ektoparasit tertinggi ditemukan pada kucing liar di Pasar Pucang yaitu sebanyak 16,81% dari total keseluruhan ektoparasit yang didapatkan. Sebanyak 878 ektoparasit berhasil didapatkan dari kucing yang tersebar di 17 pasar tradisional tersebut. Spesies terbanyak yang ditemukan pada penelitian ini adalah spesies Ctenocephalides felis sebanyak 88,27%, sedangkan spesies Felicola subrostratus hanya sebanyak 11,73%.

Studi di New Iran dan Nigeria menunjukkan bahwa Ctenocephalides felis merupakan ektoparasit yang sering ditemukan pada kucing maupun anjing. Ctenocephalides felis merupakan ektoparasit yang dapat membawa beberapa jenis pathogen dalam tubuhnya, seperti Bartonella benselae, Bartonella clamidgeiae, Dipylidium caninum, Mycoplasma haemofelis, and Mycoplasma haemocanis. Ctenocpehalides felis dapat ditemukan pada saat musim kemarau maupun musim hujan. Selain menginfeksi kucing dan anjing, C.felis juga dapat menginfeksi mamalia lain seperti rubah merah (Vulpes vulpes), tikus hitam (Rattus rattus), kelinci Eropa (Oryctolagus cuniculus), dan tikus coklat (Rattus novergicus). Hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya koinfeksi (infeksi oleh lebih dari satu jenis agen) pada 5 kucing. Lima kucing tersebut menunjukkan adanya koinfeksi ektoparasit Ctenocephalides felis dan Felicola subrostratus. Hasil penelitian di Negara lain menunjukkan bahwa koinfeksi dapat juga terjadi antara spesies C.felis dengan ektoparasit lainnya seperti Pulex irritans. Prevalensi ektoparasit Felicola subrostratus di dunia berkisar antara 1% hingga 4%. Perbedaan prevalensi dapat dipengaruhi oleh perbedaan geografi setiap riset.

Infeksi ektoparasit lebih sering terjadi pada kucing betina dibandingkan pada kucing jantan, hal ini berkaitan dengan pergerakan yang terbatas pada kucing betina terutama saat dalam kondisi hamil. Kucing liar yang tidak terawat lebih rentan terinfeksi dibandingkan kucing domestik/kucing yang menjadi peliharaan. Studi di Malaysia menunjukkan beragam spesies ektoparasit yang menginfeksi kucing liar, diantaranya Ctenocephalides felis, Felicola subrostratus, Heterodoxus spiniger, Haemophysalis bispinosa, dan Lynxcarus radowskyi. Perubahan faktor lingkungan juga diketahui menjadi faktor risiko adanya ektoparasit. Infeksi ektoparasit menunjukkan prevalensi lebih tinggi saat musim kemarau dibandingkan saat musim hujan. Siklus reproduksi ektoparasit akan berjalan optimum pada kisaran suhu 38oC. C.felis memiliki kemampuan melompat yang jauh sehingga lebih mudah menginfeksi dibandingkan spesies lainnya. C.felis dapat melompat dengan kecepatan 3,6 meter/detik, sedangkan ketinggian yang dicapai yaitu 19,9 cm.

Pasar merupakan tempat terjadinya kontak langsung antara kucing liar dengan manusia dikarenakan melimpahnya makanan yang tersedia. C. felis juga diketahui sebagai vektor dari murine typhus. Gigitan C. felis dapat mengakibatkan reaksi dermatitis alergi yang merupakan penyebab kegatalan pada kucing dan anjing. Data penelitian ini dapat menjadi skrining pendahuluan prevalensi ektoparasit kucing di Surabaya, dan masih diperlukan penelitian lebih lanjut terutama terkait pathogen yang dibawa oleh masing-masing ektoparasit. Penelitian selanjutnya juga dapat memadukan karakteristik molekuler serta pemilihan lokasi yang lebih beragam.

Penulis: Abdul Hadi Furqoni, S.Kep., M.Si dan Shifa Fauziyah, S.Si

Artikel selengkapnya dapat dilihat pada link berikut: https://doi.org/10.22146/jtbb.53687

(Ectoparasite Infestation among Stray Cats around Surabaya Traditional Market, Indonesia)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu