Manfaatkan Kulit Kerang untuk Memperpanjang Usia Gigi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh bibliotika

Karies merupakan penyakit gigi dan mulut yang paling banyak ditemukan di masyarakat baik pada orang dewasa maupun anak-anak dan merupakan penyakit terbesar di dunia. Karies gigi merupakan salah satu penyakit rongga mulut yang sering terjadi di dunia dan masih menjadi masalah bagi penyedia layanan kesehatan. Peningkatan pemahaman tentang pembentukan struktur gigi  dentin reparative pada penyakit  gigi dan mulut sangat diperlukan untuk menurunkan prevalensi karies. 

Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, terjadi peningkatan prevalensi karies di Indonesia dibandingkan tahun 2007 sebesar 9,8% menjadi 53,2%, yang berarti kurang lebih 93.998.727 penduduk Indonesia menderita karies. Berdasarkan prevalensi karies menurut provinsi, dapat dilihat 22 dari 33 provinsi di Indonesia menunjukkan prevalensi karies dengan diagnosa pulpitis reversbel perforasi lebih dari 50% penduduk setempat (Rikesdas, 2013). Hal ini menunjukkan rendahnya kesadaran dan motivasi masyarakat dalam hal pentingnya perawatan karies.

Karies gigi adalah proses penghancuran atau pelunakan dari enamel maupun dentin. Proses penghancuran tersebut berlangsung terus sampai jaringan di bawahnya, dan ini adalah awal pembentukan lubang pada gigi. Pulpitis merupakan keradangan jaringan gigi yang bisa disebabkan oleh bakteri dan juga oleh trauma mekanis. Pulpitis dapat diklasifikasikan sebagai pulpitis reversibel, ireversibel dan hiperplastik. Pulpitis ireversibel seringkali merupakan akibat atau perkembangan dari pulpitis reversible  yang ditandai dengan nyeri spontan yang intermiten, atau nyeri akut dan intens yang sulit dikontrol dengan obat penghilang rasa sakit, sehingga membutuhkan penanganan segera. Penelitian Al-Hisayat (2006), mengatakan dari 204 gigi pulpitis yang mengalami perforasi, didapatkan 90 gigi (44,11%) dengan perforasi yang disebabkan karena trauma mekanis dan 114 gigi (55,9%) dengan perforasi yang disebabkan karena karies.

Patogenesis terjadinya pulpitis diawali dengan bakteri yang menginfeksi gigi. Ketika terdapat akses ke pulpa, metabolit bakteri dan komponen dinding sel menyebabkan inflamasi. Pada lesi awal hingga lesi sedang, produk asam dari proses karies berperan secara tidak langsung dengan mengurai matriks dentin, yang akan menimbulkan pelepasan molekul bioaktif untuk dentinogenesis (pembentukan dentin reparatif).  Dinding pulpa yang mengalami perforasi karena adanya trauma mekanik akan menyebabkan kerusakan dan kematian sel odontoblast (sel yang berada didalam pulpa). Sel odontoblas yang mengalami kerusakan akan melepaskan molekul endogen 

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar dan secara geografis terletak di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, keanekaragaman  hayati laut Indonesia tak terhitung jumlahnya, antara lain anadara granosa (kerang) yang pada kulit / cangkang mengandung β-TCP (Beta Tri Calsium Sulfat). Cangkang anadara granosa dilakukan proses sintesis untuk mendapatkan Beta Tri Calsium Sulfat (β-TCP), melalui metode hidrotermal. Metode hidrothermal menggunakan reaksi hidrotermal dimana dari larutan menjadi padatan dan menghasilkan  hidroksiapatit (HA) dengan kristal tunggal. Pada metode hidrotermal memiliki kelebihan yaitu dapat mempercepat interaksi antara materi padat dan cair, dapat terbentuk fase murni dan material homogen, difusivitas tinggi, viskositas rendah, dan meningkatnya daya larut.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan mensintesis Hidroksi Apatite (HA) dari cangkang anadara granosa dan (NH₄)₂HPO₄ (diamonium hydrogen phosphat) dengan metode hydrothermal dengan suhu 200oC selama 18 jam didapatkan kandungan TCP (75%).  Pemberian β TCP dapat mengurangi jumlah kerusakan sel. β-TCP (Beta Tri Calsium Sulfat) akan menghasilkan Ca2+ yang akan langsung mengenai makrofag  dan akan meningkatkan CaSR (calcium-sensing receptor). Proses ini akan meningkatkan jumlah pembuluh darah (angiogenesis), peningkatan BMP2 meningkatkan diferensiasi MSC menjadi odontoblas like cell, dan transforming growth factor (TGFβ) yang akan menstimulus Runx2.

Selanjutnya Runx2 menginduksi terbentuknya osteoblas yang matur dengan mensekresi osteopontin dan osteocalcin.  ALP juga terbentuk melalui Smad yang berfungsi menyiapkan suasana alkalis pada jaringan osteoid yang terbentuk, sehingga memicu pembentukan Colagen I (COL-1). Osteopontin dan osteocalcin, serta COL-1 akan segera mengalami kalsifikasi yang berperan dalam pembentukan matriks dentin sehingga mempercepat proses pembentukan dentin reparatif.

Penulis: Sri Kunarti

Link jurnal terkait tulisan di atas: https://medic.upm.edu.my/upload/dokumen/2020070611290621_MJMHS_0156.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu