Kualitas Udara Ruangan di Rumah Sakit Selama Pandemi Covid-19

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh IDN Times Banten

COVID-19 adalah penyakit gangguan pernapasan akut dengan gejala demam, batuk, dan sesak napas. Penyakit ini menyebar dengan sangat cepat karena penularan dari manusia ke manusia melalui kontak erat dan droplet. Orang yang paling berisiko tertular penyakit ini adalah orang yang kontak erat dengan pasien COVID-19 termasuk yang merawat pasien COVID-19. Orang yang paling berisiko tertular penyakit ini adalah orang yang secara fisik berhubungan dekat dengan penderita COVID 19, termasuk petugas kesehatan yang bekerja di rumah sakit. Kualitas udara ruangan di rumah sakit perlu diketahui kondisinya khususnya untuk ruangan yang menangani kasus COVID 19 sehingga dapat segera dilakukan pengendalian. Melalui pengukuran kualitas udara ruangan khususnya mikrobiologi maka kegiatan pengendalian kualitas udara dalam ruangan dalam rangka penurunan risiko  penularan penyakit akibat kualitas udara yang kurang memenuhi syarat.

Rumah sakit wajib mengendalikan kualitas udara dalam ruangan dan melakukan pemantauan secara berkala. Parameter yang harus dipantau untuk menentukan mutu kualitas udara dalam ruangan rumah sakit adalah parameter fisik, kimia, dan mikrobiologi. Berdasarkan latar belakang di atas, perlu digambarkan kualitas mikrobiologi udara ruangan rumah sakit sebelum dan sesudah terjadinya pandemi Covid-19, dengan menggunakan design studi observasional dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan di salah satu rumah sakit rujukan COVID 19 di provinsi Jawa Timur selama Desember 2019 – Juni 2020 telah dilakukan pengukuran kualitas udara ruangan. Parameter yang dilakukan pemeriksaan adalah angka mikrobiologi udara, suhu, dan kelembaban di beberapa ruang tempat penanganan kasus COVID 19. 

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa rata-rata jumlah mikrobiologi sebelum pandemi sebesar 46,31 CFU / m3 dengan suhu rata-rata 27,64 oC dan kelembaban udara 44,58%, sedangkan pada saat pandemi jumlah mikrobiologi. Di udara meningkat menjadi 64 CFU / m3 dengan suhu rata-rata 27,77 oC dan kelembaban udara sekitar 42,46%. Berdasarkan analisis statistik, terdapat perbedaan jumlah mikrobiologi sebelum dan selama pandemi di bangsal pasien COVID-19 (p value 0,00).

Peningkatan jumlah mikrobiologi sebelum dan selama pandemi disebabkan meningkatnya aktivitas perawatan pasien Covid19 di dalam ruangan, dan sebagian pasien tidak memakai masker selama pengobatan. Pasien yang tidak memakai masker merupakan sumber pencemaran di ruang perawatan, seperti dari saluran pernafasan, yang disemprotkan melalui pembersihan dan batuk. Hal ini sejalan dengan jumlah pengaruhnya terhadap pasien mikrobiologi di ruang perawatan di rumah sakit. Studi lain menunjukkan bahwa kepadatan pribadi dan aktivitas penghuni berkontribusi terhadap konsentrasi mikrobiologis.

Indikator lingkungan fisik (suhu dan kelembaban) berhubungan dengan konsentrasi mikroorganisme. Suhu dan kelembaban merupakan variabel yang dapat mendorong penularan Covid19 secara berkelanjutan. Berdasarkan observasi di rumah sakit, sebagian pasien yang dirawat tidak senang menggunakan alat pelindung diri yang sesuai. Saat pasien batuk, ia akan menyebarkan tetesan dan mengotori udara ruangan. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab meningkatnya jumlah mikrobiologi udara di bangsal pasien Covid19. Penularan SARS-Cov-2 melalui udara dimungkinkan terjadi.

WHO telah menerbitkan pedoman untuk mengatur dan mengelola pusat pengobatan infeksi saluran pernafasan akut yang parah sehingga dapat digunakan sebagai dasar bagi rumah sakit untuk mengontrol kualitas udara ruangan di rumah sakit yaitu dengan pengaturan ventilasi yang baik. Berbagai jenis cara untuk mengontrol kualitas udara ruangan di rumah sakit selama pandemi Covid19, misalnya, pola aliran udara yang dioptimalkan, aliran udara terarah, tekanan zona, ventilasi pengenceran, sistem pembersihan udara dalam kamar, ventilasi pembuangan umum, ventilasi pribadi, pembuangan lokal ventilasi pada sumbernya, hindari resirkulasi udara dan kepadatan berlebih, filtrasi sistem sentral, Lengkapi ventilasi umum dengan lampu ultraviolet germisida, dan kontrol suhu dalam ruangan dan kelembaban relatif. Rekomendasi lain untuk mengurangi kontaminasi mikrobiologi adalah dengan memantau efektivitas sistem ventilasi dan penyejuk udara (HVAC).

Jumlah mikrobiologi udara dalam ruang pasien Covid19 selama pandemi mengalami peningkatan dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi Covid19, hal tersebut terjadi karena aktivitas pemeliharaan yang meningkat. Pasien yang tidak memakai masker merupakan sumber pencemaran di ruang perawatan, misalnya dari saluran pernafasan yang disemprotkan melalui pembersihan dan batuk. Oleh karena itu, rumah sakit diharuskan untuk mengontrol kualitas udara ruang perawatan dengan mengatur ventilasi udara misalnya pola aliran udara yang dioptimalkan, aliran udara terarah, tekanan zona, ventilasi yang difungsikan untuk pengenceran pencemar, sistem pembersihan udara dalam kamar, ventilasi pembuangan umum, ventilasi pribadi, sistem filtrasi udara tersentral, pengaturan temperature dan kelembaban ruangan.

Penulis: R. Azizah

Link jurnal terkait tulisan di atas: MICROBIOLOGY INDOOR AIR QUALITY AT HOSPITAL DURING THE COVID-19 PANDEMIC http://dx.doi.org/10.20473/jkl.v12i1si.2020.89-92

https://e-journal.unair.ac.id/JKL/article/view/20769

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu