Tiga Mahasiswa PSDKU Teliti Efektivitas Ekstrak Coffea Conephora terhadap Vaksin DPT

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh CNN Indonesia

UNAIR NEWS – Geliat penelitian harus terus dilakukan oleh institusi pendidikan, tidak terkecuali mahasiswa Program Studi Diluar Kampus Utama (PSDKU) UNAIR di Banyuwangi. Muril Hizriyana Hanifa (FKH 2017), Cut Athira Sauma (FKM 2019) dan Baiq Yuli Khaironi Sa’adiyah (FKH 2019) dibawah bimbingan Maya Nurwartanti Yunita, drh., M.Si., mencoba meneliti efektivitas ekstrak Coffea conephora pada mencit yang diinduksi vaksin difteri, pertusis dan tetanus yang berhasil di danai oleh KEMENDIKBUD tahun anggaran 2020.

Vaksin DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus) adalah vaksin yang terdiri dari toxoid difteri dan tetanus yang dilemahkan serta bakteri pertusis yang telah diinaktivasi. Melalui Program Pengembangan Imunisasi atau EPI (Expanded Program Immunization) angka penyebaran dan kematian pada balita dan anak-anak mulai menurun. Imunisasi DPT menjadi program pemerintah yang termasuk dalam imunisasi dasar diberikan pada bayi usia 2 – 4 bulan dengan interval pemberian 4 minggu dan imunisasi lanjutan pada balita usia 18 bulan yang diberikan hanya sekali.

Berdasarkan penelitian oleh Sari dkk., 2018 menyimpulkan bahwa setelah pemberian vaksin DPT terdapat gejala demam yang disertai kejang. Gejala tersebut muncul setelah satu hari pemberian vaksin dan dapat berlangsung selama satu minggu. Efek samping yang ditimbulkan setelah pemberian vaksin DPT ini menimbulkan keresahan di masyarakat. Beberapa daerah di Indonesia khususnya di pedesan, banyak masyarakat yang percaya tentang khasiat dari obat – obatan tradisional salah satunya adalah kopi.

Saat diwaancarai oleh tim UNAIR NEWS, Muril sebagai ketua peneliti menjelaskan bahwa penelitian mereka dilatar belakangi oleh Indonesia merupakan salah satu penghasil kopi terbesar di dunia. Kopi yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah jenis kopi robusta dan kopi arabika.

“Kopi memiliki beberapa senyawa diantara nya mineral, Kafein, Trigonelline, Lemak, Asam Alifatis, Cholonergic Acid. Selain itu kopi juga memiliki kandungan berupa Alkaloid, Flavonoid, Saponin, Tanin dan Fenol,” ujar mahasiswi asal Lombok tersebut.

Selain itu tambahnya, demam tinggi menyebabkan sel saraf menjadi rusak dan kandungan kafein yang ada di dalam kopi dapat memperbaiki sel saraf yang rusak akibat dari kejang demam yang tinggi. Senyawa kimia yang memiliki efek sebagai antipiretik dan antiinflamasi adalah senyawa Flavonoid dan Tanin. Senyawa ini, lanjutnya, dapat menghambat enzim siklooksidase yang berperan dalam biosintesis prostaglandin sehingga demam akan berhenti secara berangsur-angsur.

“Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan khazanah pengetahuan khususnya di bidang vaksinologi. Selanjutnya hasil penelitian juga akan dipublikasi di jurnal bereputasi baik nasional maupun internasional,” pungkasnya. (*)

Penulis: Muhammad Suryadiningrat

Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu