Posisi Kerja Berdiri Menjadi Penyebab Gangguan pada Otot Rangka

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh trainingcenter.events

Adanya keluhan pada bagian-bagian otot rangka yang dirasakan akibat bekerja sering kali tidak dianggap serius oleh kebanyakan pekerja terutama pekerja informal, akan tetapi keluhan tersebut jika dibiarkan terlalu lama atau bersifat kronis dapat menyebabkan kecacatan yang sangat merugikan hingga tenaga kerja harus berhenti bekerja karenanya. Gangguan tersebut yang biasanya diistilahkan dengan musculoskeletal disorders (MSDs) atau biasa disebut dengan Gangguan pada Otot Rangka. Para pekerja bagian pembengkokan kerangka pada industri informal pembuatan rak di Surabaya seringkali bekerja dengan posisi kerja yang berdiri agar mudah dalam membengkokkan kerangka rak. Tindakan pencegahan perlu dilakukan seperti mengevaluasi posisi kerja untuk mengetahui stasiun kerja dan posisi kerja yang ergonomis bagian pembengkokan kerangka rak. Maka dari itu, perlu dilakukan pengkajian mengenai posisi kerja yang paling baik agar supaya tidak timbul gangguan MSDs yang dirasakan pekerja pembengkokan kerangka rak.

Variabel dalam penelitian ini yaitu posisi kerja, gangguan muskuloskeletal (MSDs), usia, masa kerja, dan Indeks Massa Tubuh (IMT), Untuk mendapatkan datanya, dilakukan dengan melakukan pengamatan (obersevasi) dan wawancara pada pekerja.

Dari pengamatan mengenai posisi kerja menghasilkan tingkat risiko MSDs dan diketahui sebagian pekerja 80% memiliki tingkat risiko MSDs kategori sedang dan tinggi, serta 20% pekerja memiliki tingkat risiko MSDs kategori rendah. Sedangkan tingkat keluhan MSDs pekerja pembengkokan kerangka rak diketahui sebagian besar 80% pekerja memiliki tingkat keluhan MSDs kategori rendah dan sedang, serta 20% pekerja memiliki tingkat keluhan MSDs kategori tinggi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui semakin tinggi risiko MSDs maka semakin tinggi pula tingkat keluhan MSDspekerja di bagian pembengkokan kerangka rak.

Usia pekerja di bagian pembengkokan kerangka rak bervariasi yaitu antara 15-29 tahun, dan diketahui bahwa seluruh pekerja (100%) yang berusia 20-24 tahun berada pada tingkat keluhan MSDs kategori tinggi. Sesuai analisis data yang telah dilakukan, bahwa semakin tua usia maka semakin tinggi pula tingkat keluhan MSDs pada pekerja pembengkokan kerangka rak.  Penelitian lain juga menyebutkan bahwa MSDs adalah masalah kesehatan yang paling umum dan bergejala pada usia menengah dan tua sehingga umur merupakan penyebab utama terjadinya keluhan pada otot rangka, karena semakin tua atau bertambahnya usia maka kekuatan otot rangka juga semakin berkurang.

Masa kerja pekerja di bagian pembengkokan kerangka rak antara 1-10 tahun, dan diketahui bahwa sebagian besar  pekerja (67%) dengan masa kerja 6-10 tahun memiliki tingkat keluhan MSDs kategori sedang serta 50% pekerja dengan masa kerja <6 tahun memiliki tingkat keluhan MSDs kategori tinggi. Dari Hasil penelitian tersebut diketahui bahwa ada hubungan antara masa kerja dengan keluhan MSDs dan diketahui pekerja yang mengalami keluhan MSDs tinggi yaitu pekerja dengan masa kerja <6 tahun.

Indeks Masa Tubuh (IMT) pekerja kategori kurus sebagian besar (50%) memiliki tingkat keluhan MSDs tinggi, sedangkan pada pekerja kategori IMT normal justru sebagian besar 67% pekerja memiliki tingkat gangguan MSDs sedang. Dari analisis data diketahui bahwa semakin kurus atau gemuk seorang pekerja  maka semakin tinggi tingkat keluhan MSDs pekerja. Jadi, dapat dikatakan bahwa tinggi badan, kekuatan dan massa tubuh juga dianggap meningkatkan risiko terjadinya  gangguan MSDs.

Mengevaluasi posisi kerja guna menentukan stasiun kerja yang ergonomis dapat dilakukan dengan menyesuaikan panjang tuas mesin pembengkok dengan ukuran kerangka rak (spesialisasi ukuran kerangka pada setiap mesin pembengkok) guna mengurangi pekerja dengan posisi badan bungkuk yang terlalu dalam, merupakan langkah pertama untuk memperkecil risiko gangguan MSDs. Selain itu untuk mengurangi gangguan MSDs pekerja dengan posisi berdiri, pihak perusahaan dapat menyediakan tempat duduk bagi pekerja pembengkokan kerangka rak disekitar area mesin pembengkok supaya pekerja dapat istirahat untuk merilekskan anggota tubuh yang lelah saat bekerja dengan posisi berdiri.

Penulis: Endang Dwiyanti

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://medicopublication.com/index.php/ijfmt/article/view/3080

Genduk Lintang Rusmawarda, Endang Dwiyanti. Correlation of Standing Work Position and Musculoskeletal Disorders (MSDs) Complaints on Rack Frame Bending Section Workers in Informal Industry of Rack Making in Surabaya, Indonesia. Indian Journal of Forensic Medicine & Toxicology, July-September 2020, Vol. 14, No. 3. https://doi.org/10.37506/ijfmt.v14i2.3080

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu