Pemanfaatan Ekstrak Kulit Buah Naga Merah sebagai Bahan Antibakteri Terhadap Bakteri Penyebab Periodontitis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Merdeka.com

Periodontitis merupakan salah satu penyakit rongga mulut, yaitu penyakit  inflamasi pada jaringan penyangga gigi. Dengan terjadinya inflamasi pada jaringan penyangga gigi, hal tersebut berisiko untuk terjadinya gigi goyang bahkan sampai pada tanggalnya gigi. Periodontitis diakibatkan oleh inflamasi bakteri. Beberapa bakteri dianggap sebagai penyebab dari periodontitis, di antaranya adalah F. nucleatum, A. actinomycetemcomitans dan P. gingivalis.

Prinsip utama terapi periodontitis adalah menghentikan progresivitas penyakit dan mengurangi inflamasi akibat bakteri. Terapi yang dilakukan adalah secara mekanis dengan cara menyingkirkan plak, karang gigi, serta endotoksin dan sementum nekrotik dari permukaan akar. Selain itu, juga dapat dilakukan pemberian antibiotika, namun terapi dengan pemberian antibiotik secara sistemik memungkinkan terjadinya efek samping berupa resistensi bakteri, munculnya infeksi oportunistik, dan kemungkinan terjadi alergi.

Penggunaan bahan herbal sebagai alternatif pengobatan sudah banyak dilakukan. Salah satu bahan herbal yang dapat digunakan adalah buah naga merah. Buah naga berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah, namun saat ini buah tersebut sudah banyak dibudidayakan dan dikonsumsi di Indonesia. Terdapat tiga jenis buah naga berdasarkan warna dagingnya, yaitu merah, putih, dan kuning. Pada daging buah naga terdapat mineral seperti fosfor, kalsium, potassium, dan zat besi, begitu juga dengan vitamin B1, B2, dan B3.Selain bahan tersebut, kandungan steroid, tannin, dan terpenoid pada ekstrak buah naga memiliki aktivitas antibakteri, sedangkan saponin dan flavonoidnya memiliki kemampuan sebagai antibakteri dan antioksidan. Warna merah yang terdapat pada kulit dan daging buah dihasilkan oleh pigmen yang disebut dengan betalain, yang memiliki kemampuan sebagai antioksidan

Kulit buah naga berwarna merah muda dan cukup tebal, dengan berat sekitar 30-35% dari berat buahnya dan seringkali hanya dibuang sebagai sampah. Kulit buah naga mengandung beberapa bahan, meski demikian biasanya orang membuang kulit buah naga begitu saja ketika sudah selesai makan buah naga. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa bahan yang terkandung di dalam kulit buah naga dapat memberikan alternatif alami untuk pengobatan beberapa penyakit. Dikatakan bahwa kulit buah naga memiliki potensi sebagai antioksidan yang lebih besar dibanding buahnya.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa kulit buah naga bersifat antibakteri. Beberapa manfaat kulit buah naga untuk kesehatan antara lain adalah sebagai pencegahan kanker, melenturkan pembuluh darah, menurunkan kadar kolesterol, dan merawat kulit. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kulit buah naga merah memiliki aktivitas antibakteri. Kulit buah naga merah ini memiliki kandungan senyawa antibakteri yang tinggi, dinyatakan bahwa tiap 100 gram ekstrak kulit buah naga merah mengandung 300 – 500 mg senyawa antibakteri. Oleh karena itu, ekstrak kulit buah naga merah diharapkan dapat menjadi alternatif pengobatan terhadap periodontitis.

Pada penelitian ini dilakukan uji untuk mengetahui manfaat anti bakteri kulit buah naga merah terhadap bakteri F. nucleatum, A. actinomycetemcomitans danP. gingivalisyang dianggap sebagai bakteri penyebab periodontitis.Dari satu kilogram buah naga merah merah didapatkan 300 – 350 gram kulit buah naga.Pada pembuatan ekstrak, kulit buah naga merah yang diperoleh dipisahkan dari buahnya lalu bagian kulitnya dikeringkan dengan cara dioven dalam suhu 50º C selama lima menit. Setelah kering, kulit buah naga merah dipotong selebar 1×1 cm, dan selanjutnya dilakukan ekstraksi dengan pelarut etanol 96%.

Ekstrak kulit buah naga yang dihasilkan dilakukan untuk uji hambat pertumbuhan dan uji bunuh bakteri F. nucleatum, A. actinomycetemcomitans dan P. gingivalis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah naga mempunyai daya hambat pertumbuhan bakteri pada konsentrasi 6,25% untuk semua kelompok bakteri dalam penelitian ini. Sedangkan untuk daya bunuh bakteri, didapatkan bahwa konsentrasi ekstrak kulit buah naga dengan konsentrasi 12,5% mempunyai daya bunuh terhadap bakteri penyebab periodontitis yang digunakan dalam penelitian ini. Daya hambat dan daya bunuh untuk ketiga bakteri penyebab periodontitis menunjukkan nilai yang sama, dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa ekstrak kulit buah naga merah mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan penyebab periodontitis, khususnya F. nucleatum, A. actinomycetemcomitans dan P. gingivalis. Hasil yang didapatkan tersebut memberi harapan untuk digunakannya ekstrak kulit buah naga sebagai bahan untuk terapi periodontitis.

Penulis: Dr. Indeswati Diyatri, drg., M.S.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:  Indeswati Diyatri, Rini Devijanti Ridwan, Wisnu Setyari Juliastuti, Ghinalya Chalbi Ananda, Fuad Adhi Waskitaand Nita Vania Juliana (2020). STUDY OF ANTIBACTERIAL ABILITY OF HYLOCEREUS POLYRHIZUS FOR GRAM NEGATIVE BACTERIA. Biochem. Cell. Arch. Vol. 20, No. 2, pp. 4851-4855.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu